hut

56 Warga di Sikka Tertular HIV/AIDS

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sepanjang 2018, sebanyak 56 warga di Kabupaten Sikka tertular virus HIV dan AIDS. Sebelas orang di antaranya tertular HIV, dan 45 orang lainnya AIDS.

“Jika ditotal sejak 2003, maka jumlah warga Kabupaten Sikka yang terserang HIV dan AIDS hingga 2018 sebanyak 747 orang,” kata Kepala seksi Pencegahan dan Pengendalian penyakit Menular dinas Kesehtaan Kabupaten Sikka, Avelinus S.Nong Erwin, Jumat (18/1/2019).

Yuyun Darti Baetal, Staf Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka. -Foto: Ebed de Rosary

Menurut Erwin, dari 747 orang tersebut, jumlah warga yang terbanyak terkena HIV dan AIDS di Sikka berumur antara 25 sampai 49 tahun sebanyak 555 orang atau 74 persen. Peringkat kedua ditempati warga berumur 20 sampai 24 tahun, yakni 102 orang.

“Peringkat ketiga ditempati warga yang berumur 50 tahun ke atas, sebanyak 46 orang atau 6 persen. Sementara, anak-anak di bawah setahun ada 5 orang terjangkit virus HIV, atau sebesar satu persen, serta umur 1 sampai 14 tahun berjumlah 32 orang atau 4 persen,” tuturnya.

Menurut profesi, lanjut Erwin, ibu rumah tangga menempati peringkat pertama, sebanyak 175 orang, disusul wiraswasta 119 orang, dan petani 117 orang. Sementara, mahasiswa berjumlah 14 orang dan pelajar 10 orang.

Yang paling menyedihkan, tandas Erwin, terdapat balita sebanyak 21 orang. Anak-anak ini semuanya tertular dari ibunya yang mengidap penyakit ini. Hal ini baru diketahui setelah sang ibu melahirkan.

“Sayang sekali, sang anak tidak bisa tertolong. Padahal, seharusnya sang bayi tidak tertular, jika kedua orang tuanya sudah terdeteksi tertular virus ini. Kalau sejak awal diketahui, maka sejak kehamilan sang anak dicegah agar virus ini tidak tertular kepadanya,” ungkapnya.

Dari 747 kasus sejak 2013 hingga 2018, jelas Erwin, sebanyak 517 orang mengidap penyakit AIDS, sementara sisanya 230 orang mengidap HIV. Hingga 2018, sudah 188 warga Sikka yang meninggal akibat AIDS.

Staf  Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Sikka, Yuyun Dari Baetal, menyebutkan, pada 2019 ini pihaknya masih gencar melakukan sosialisasi dan menyadarkan masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini ke klinik VCT, yang ada di Puskesmas maupun RSUD TC Hillers Maumere.

“Tahun 2019, kami lakukan pengembangan komunitas Warga Peduli AIDS, pemberdayaan warga dalam penanggulangan AIDS, penguatan kapasitas populasi kunci serta sosialisasi terkait penyakit Sipilis, HIV dan Hepatitis B,” sebutnya.

KPA Sikka, terang Yuyun, juga melakukan penguatan kapasitas kader di kecamatan Paga, Mego, Koting dan Nita. Untuk komunitas Warga Peduli AIDS yang berjumlah 48 kelompok, akan diperluas dengan menambah 16 kelompok lagi.

“Sebanyak 16 kelompok WPA ini akan diakomidir honornya melalui dana desa. Ada penambahan di kecamatan Hewokloang, Paga, Waigete dan Talibura. Kami berharap, dengan gencarnya kegiatan masyarakat bisa mengubah perilaku hidup sehat, sehingga tidak tertular,” pungkasnya.

Lihat juga...