Ahli Vulkanologi: Mitigasi Perlu Penelitian yang Matang

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Ahli vulkanologi, Surono, menegaskan, bahwa mitigasi tanpa penelitian pasti gagal. Kalau pun berhasil hanya faktor kebetulan saja. Karena dari 127 gunung api aktif yang ada di Indonesia, hanya 69 gunung api yang dipantau. Meskipun tingkat ancamannya berbeda. Karena itulah perlu penelitian.

“Indonesia punya 127 gunung api aktif dan yang terbanyak di seluruh dunia. Tapi kenapa hanya 69 yang dipantau. Jadi mitigasi bencana itu mudah diucapkan. Mitigasi tanpa penelitian pasti gagal, kalau tidak itu hanya kebetulan saja,” kata Surono, saat Diskusi Media Forum Jitu dengan tema “Mitigasi Bencana Masih Jadi PR” di Jakarta, Kamis (3/1/2019).

Kata Surono, yang terpenting saat ini adalah ketepatan informasi soal potensi tsunami. Informasi tanpa kepastian, malah akan membuat masyarakat semakin takut dan khawatir sehingga menimbulkan keresahan dalam menghadapi bencana.

“Kalau kepastian tidak ada, terus ada retakan, nelayan dan warga yang was-was,” sebutnya.

Ke depan, kata Surono,  masyarakat terutama pemerintah harus mencari jalan keluar soal mitigasi bencana. Hal ini bisa membantu masyarakat, sebab bencana pasti bicara nyawa. Untuk itu, semua pihak perlu bicara kejujuran. Apa yang dilakukan oleh pemerintah tentu untuk melindungi rakyatnya.

“Misalnya di daerah kawasan Gunung Anak Krakatau. Ini daerah vital dan strategis. Memang alat terus berfungsi, tapi pemantauan ada atau tidak. Kalau tidak ada alat peringatan dini, masyarakat harus berbuat apa. Itu harus dipikirkan,” tegasnya.

Menurut Surono, aktivitas letusan yang terjadi di Gunung Anak Krakatau adalah hal biasa. Sebuah gunung yang usianya muda, wajar mengeluarkan letusan-letusan untuk membentuk dirinya menjadi gunung yang utuh.

“Sekarang kita lihat meletusnya gitu-gitu sajalah. Pernah lebih besar dari yang kemarin, baik-baik saja,” ujarnya.

Selain itu, Surono juga menyoroti retakan yang ditemukan oleh BMKG di Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, retakan itu adalah hal biasa terjadi di atas gunung. Bukan hal yang luar biasa.

“Kalau retakan yang di gunung itu wajar-wajar saja, apalagi bekas longsoran. Yang sekarang harus dipastikan retakan itu menimbulkan longsor atau tidak. Kalau longsor ada tsunami atau tidak. Itu yang harus dipastikan agar masyarakat bisa mendapat informasi yang benar,” sebutnya.

Lihat juga...