Aldi, Jatuh Bangun Atlet Silat Asal Bekasi

Editor: Satmoko Budi Santoso

389

BEKASI – Menjadi atlet silat, pilihan Aldi Abdilah. Beragam prestasi ditorehkan sejak duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama. Silat baginya selain seni olahraga beladiri juga mengajarkan perilaku rendah hati, dan tidak sombong.

Aldi Abdilah, merupakan salah satu atlet silat yang dimiliki Kota Bekasi. Sejak kelas 1 SMP, Aldi, sapaan akrabnya, sudah juara tiga lomba silat se-Jabodetabek. Tak heran, berbagai prestasi memang telah  dicapai seperti juara satu regu putra tahun 2015 di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Dua kali pula ia menjuarai Sinar Warna Nusantara (SWN) Cup untuk kategori lomba silat seni di tahun 2016 dan 2017. Dan di 2018 juara dua kategori tanding di Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (Pomda) Banten.

“Semua kategori silat saya suka. Tapi lebih suka kepada kategori silat tanding karena lebih menantang,” ujar Aldi, yang mengaku usianya saat ini belum genap 20 tahun.

Aldi Abdilah – Foto Muhammad Amin

Di balik kisah gemilangnya, ternyata Aldi menyimpan cerita hidup yang mengharukan.

Semua hadiah hasil prestasinya, harus ia tabung untuk membantu orang tuanya membayar biaya sekolah. Dari setiap juara Aldi mengaku, besaran uang yang diterima memang cukup buat jajan dan membantu meringankan beban orang tuanya.

Aldi mengaku ia terlahir dari keluarga sederhana. Orang tuanya, Iman Slamet, hanya buruh lepas. Sementara, ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di lingkungan Harapan Jaya, Kota Bekasi.

Karena melihat kondisi orang tuanya, Aldi mengaku, setiap mendapat hadiah  diserahkan kepada orang tuanya. “Sejak masuk SMK Patriot di Kranji saya sudah bisa dikatakan mandiri. Sesekali memang minta tambahan ke orang tua,” ujar Aldi.

Tekad untuk terus mengenyam pendidikan sepertinya sudah tertanam dalam jiwanya. Saat ini ia kuliah di STKIP jurusan Pendidikan Jasmani di Kabupaten Lebak Banten. Kuliah itu pun karena mendapat beasiswa atas prestasi silatnya.

“Saat ini, saya baru semester satu. Kuliah ini karena beasiswa sebagai mahasiswa undangan STKIP Setiabudi, Lebak Provinsi Banten,” tutur Aldi, mengaku meski di Banten masih tetap terus berlatih.

Ia mengaku, kuliah di STKIP Setiabudi, untuk biaya makan dan lainnya tidak lagi bergantung kepada orang tua.

“Saya juga narik Grab, hasilnya disimpan. Saya di Lebak hanya 4 hari, mulai Kamis sudah di Bekasi lagi. Itu waktunya narik grab motor,” papar Aldi, mengaku hasil Grab sehari bisa Rp70 ribu.

Aldi, sekarang mulai kuliah masuk semester dua. Tapi, ia mengaku tahun ini akan mendaftar sebagai amggota TNI jika sudah buka. Tahun lalu menurutnya saat pembukaan tidak bisa mendaftar.

“Cita-cita saya, ingin menjadi TNI, tahun ini saya akan daftar. Soal kuliah kan bisa ditunda dulu jika diterima menjadi TNI,” pungkasnya berharap bisa lolos dan mengabdi untuk Indonesia.

Baca Juga
Lihat juga...