Anak Desa Raih Gelar Sarjana Saat Jadi TKI

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

633

BANYUMAS — Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina, pepatah tersebut tampaknya dihayati betul oleh Indra Refnirianto (28), pemuda asal Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas. Di tengah kesibukan sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan, Indra berhasil menyelesaikan kuliah S1 nya, gelar sarjana pun resmi disandang di 2018 lalu.

Meskipun tinggal di desa terpencil yang berjarak 40 kilometer dari ibu kota kabupaten, namun pola pikir Indra patut diacungi jempol. Ia dibesarkan di tengah kampung yang mayoritas penduduknya merupakan TKI. Desa Cihonje dikenal sebagai desa penyumbang terbanyak di Kabupaten Banyumas. Setiap tahunnya ada sekitar seratus warga desa yang berangkat ke berbagai negara tujuan.

Salah satunya adalah Indra. Ia berangat ke Korea Selatan pada 2011 dan bekerja selama lima tahun. Di tengah kesibukannya bekerja, Indra menyempatkan diri untuk kuliah dan mengambil jurusan Administrasi Negara. Indra bekerja di sektor industri, sehingga saat libur di hari Minggu, dimanfaatkan untuk mengikuti kuliah serta mengerjakan tugas-tugas.

ʺSebelum berangkat ke Korea Selatan, saya sering membantu budhe untuk mengurusi layanan administrasi di Universitas Terbuka (UT), kebetulan ia bekerja di sana. Sehingga saat di Korea Selatan, terbesit keinginan untuk sambil kuliah, karena di UT juga melayani kuliah jarak jauh,ʺ jelasnya, Kamis (3/1/2019).

Pendaftaran hingga proses kuliah dilakukan melalui online. UT sendiri sudah membuka kelas kuliah jarak jauh pada beberapa negara, termasuk di Korea Selatan.

Menjelang masa akhir kontrak kerjanya, Indra mengabil cuti kuliah, karena ia harus mengurus kepulangan ke tanah air. Saat itu Indra memasuki semester akhir dan tinggal menyelesaikan skripsi. Akhirnya skripsinya dikerjakan di rumah hingga selesai.

ʺKarena status saya mahasiwa titipan luar negeri, sehingga harus mengikuti wisuda di UT pusat, yaitu di Jakarta,ʺ tuturnya.

Setelah menyandang gelar sarjana, Indra tetap tidak meninggalkan kampung halamannya. Ia mengabdikan diri sebagai petugas Desmigratif (Desa Migran Produktif) bersama rekannya yang juga mantan TKI, Yuliati.

Indra bertugas memberikan layanan migrasi dan memberi pencerahan kepada para calon TKI supaya mematuhi segala aturan dan persyaratan. Tidak hanya itu, ia juga melakukan pembinaan terhadap usaha ternak warga desa, serta membimbing anak-anak dalam belajar dan beraktivitas di desa.

ʺSaya tidak ingin meninggalkan desa ini dan ingin menyumbangkan kemampuan yang saya bisa untuk warga desa serta anak-anak di sini, supaya stigma kantong TKI suatu saat akan terhapus, karena kampung ini sudah sejahtera dan menyediakan segala kebutuhan warga,ʺ tegas Indra.

Lihat juga...