Anggrek KCB Berdayakan Penyandang Disabilitas

Editor: Koko Triarko

252

BEKASI – Anggrek KCB (Karya Cacat Berkreasi), merupakan salah satu Usaha Kecil Menengah (UKM) yang didirikan untuk memberdayakan  sesama disabilitas, agar tetap berkarya. 

Bertempat  di lingkungan Panti Asuhan Anak Darul Aytam Attaqwa Pusat, Desa Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Anggrek KCB memiliki bengkel kerja, atau rumah produksi yang melayani pembuatan jilbab, kaos partai dan berbagai jenis pakaian lainnya, yang dikerjakan oleh penyandang disabilitas.

Sugeng Hartadi, penyandang disabilitas polio, yang bekerja di bengkel kreasi Anggrek KCB Panti Asuhan Aytam, Babelan. -Foto: M Amin

“Anggrek KCB ini konsen melakukan pembinaan kepada kalangan disabilitas, anak jalanan, dan pengemis untuk berkarya. Pendiri KCB sendiri adalah Ibu Yuli, juga sebagai penyandang disabilitas,”kata Sugeng Hartadi, salah seorang peyandang disabilitas polio yang bekerja di Bengkel Kerja Ibu Yuli, Selasa (29/1/2019).

Menurut Sugeng, sebelumnya Anggrek KCB berpusat di Malang, dan Pasuruan, baru beberapa bulan ini melebarkan usahanya di Bekasi.  Baik di Malang atau pun di Pasuruan, Anggrek KCB hadir mengkaryakan kalangan disabilitas setempat.

Menurut Sugeng, Anggrek KCB memiliki berbagai pemberdayaan salah satunya sebagai Srikandi Mandiri yang memberikan pelatihan kepada penyandang disabilitas untuk beternak.

Namun, imbuhnya, di Bengkel Kreasi ini fokus untuk memproduksi jilbab dan kaos partai, atau pun jenis pesanan seragam sekolah atau lainnya.

“Ketepatan waktu, menjadi kunci sukses usaha produksi kaos, seragam dan jilbab. Makanya, pesanan terus berdatangan dari berbagai tempat, termasuk dari partai menjelang Pemilu 2019, hingga kami kewalahan,” ujar Sugeng.

Dikatakan, bahwa disabilitas yang bekerja di Bengkel Kreasi yang dikenal sebagai ‘Srikandi Disabilitas’, saat ini ada sekitar 7 orang, terdiri dari disabilitas daksa dan bisutuli. Tetapi, tidak sedikit warga sekitar ikut membantu dalam produksi. Kebetulan, hari ini produksi sedang berhenti, karena kehabisan bahan baku.

“Bahan baku harus beli di Bandung untuk mendapatkan harga sesuai, dan bahan baku menjadi kesulitan, karena dia buka hanya hari tertentu saja,” papar Sugeng.

Saat ini, di lingkungan Panti Asuhan Aytam sudah memiliki mesin pencacah sampah yang baru dibantu dari Kementerian. Ke depan, akan ada produksi teh kelor, saat ini masih melakukan penanaman.

Nanti jika pohon kelor sudah besar, dapat dibuat teh dan akan diberi pelatihan oleh Haryono Suyono, menteri di era Presiden Soeharto.

Baca Juga
Lihat juga...