Anies: Awal Tahun, 370 Warga DKI Kena DBD

Editor: Satmoko Budi Santoso

175

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengatakan, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di DKI Jakarta awal tahun 2019 meningkat dari tahun sebelumnya.

“Soal DBD ini harus jadi perhatian amat serius. Jadi kita mengalami situasi di mana kasus demam berdarah itu paling nggak awal tahun ini meningkat pesat di sekeliling Ibu Kota dan juga Ibu Kota,” kata Anies di Kantor BPRD, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2019).

Di tahun 2019, tercatat sudah 370 warga yang terkena demam berdarah. Anies menuturkan, jumlah ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2018 dengan 195 kasus.

“Tahun 2017 di bulan Januari ada 665 kasus dan ada satu meninggal. Di 2018 ada 195 kasus, per hari ini di Jakarta sudah ada 370 kasus,” ujarnya.

Anies mengatakan, penyakit demam berdarah merupakan ancaman serius yang perlu segera diatasi. Orang nomor satu di Ibu Kota Jakarta itu pun sudah menginstruksikan seluruh jajaran untuk melakukan pengendalian dan pengasapan di tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan nyamuk.

“Demam berdarah ini menjadi ancaman yang serius. Kita sudah menginstruksikan kepada seluruh jajaran kesehatan termasuk melalui kader jumantik untuk melakukan pengendalian vektor untuk penyakit DBD ini. Jadi pengasapan dilakukan, kemudian pengecekan semua tempat yang berpotensi tumbuhnya jentik nyamuk Aides,” tuturnya.

Peningkatan jumlah penderita itu, menurut Anies, merupakan ancaman serius. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menekan kasus DBD.

“Kemenkes pun menemukan indikasi bahwa tahun ini mungkin akan ada peningkatan jumlah kasus demam berdarah,” kata Anies.

Anies menambahkan, dia telah menginstruksikan seluruh jajaran Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi potensi munculnya kasus DBD.

“Pengasapan dilakukan kemudian pengecekan semua tempat-tempat yang berpotensi tumbuhnya jentik-jentik,” ucap Anies.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, mengatakan, peningkatan curah hujan dan perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap perkembangan nyamuk yang dapat menularkan virus dengeu dan menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD).

Oleh karena itu, pada awal tahun 2019 ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta terus melakukan berbagai upaya guna mengantisipasi munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di wilayah Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta terus melakukan berbagai tindakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di wilayah Jakarta secara keberlanjutan. Diharapkan juga masyarakat mampu terlibat aktif dalam rangka mewaspadai dan mengantisipasi penyakit DBD di Jakarta.

“Kami harap warga juga ikut berpartisipasi aktif melakukan PSN agar lingkungan bebas dari jentik nyamuk. Untuk mencegah wabah DBD, warga bisa menguras tampungan air dan memelihara tanaman yang efektif mengusir nyamuk. Membuat lavitrap atau perangkap untuk mencegah nyamuk berkembang biak,” paparnya.

Widyastuti juga menyerukan warga agar segera memeriksakan diri ke puskesmas maupun rumah sakit jika mengalami demam tinggi lima hingga tujuh hari.

“Kami sudah imbau rumah sakit dan puskesmas untuk menyiapkan SDM dan sarana penunjang,” ucapnya.

Dia memprediksi, DBD akan meningkat beberapa hari atau minggu setelah musim hujan pada awal tahun 2019 ini. Untuk itu, perlu meningkatkan kewaspadaan dini, serta tindak lanjut guna mengantisipasi KLB DBD yang melibatkan masyarakat bersama Pemprov DKI Jakarta.

Diberitahukan, DBD merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang menginfeksi bagian tubuh dan sistem peredaran darah manusia, serta ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepti atau Albopictus Betina yang terinfeksi.

Gejala DBD biasanya diawali dengan demam, nyeri otot dan sendi, terdapat bintik/ruam merah di kulit disertai mual dan nyeri ulu hati, pada kasus yang parah dapat terjadi pendarahan dan syok yang membahayakan nyawa.

Berdasarkan sistem surveilans berbasis web milik Dinkes Provinsi DKI Jakarta, untuk awal tahun 2019, di bulan Januari ini telah tercatat sebanyak 111 kasus DBD (IR = 1/100.000 penduduk). Namun, tidak terdapat adanya kematian dari kasus tersebut.

Untuk diketahui pula, berdasarkan prediksi probabilitas kesesuaian kelembaban udara (Relative Humidity atau RH) 2019, jika semakin tinggi probabilitas (>75 persen), maka semakin tinggi kemungkinan RH mendukung pertumbuhan nyamuk Aedes Aegepty.

Adapun prediksi probabilitas kesesuaian kelembaban udara pada 5 (lima) wilayah DKI Jakarta adalah sebagai berikut:
Januari 2019:
1. Jakarta Barat: 77 %
2. Jakarta Selatan: 76%
3. Jakarta Timur: 77%
4. Jakarta Pusat: 74%
5. Jakarta Utara: 73%

Februari 2019:
1. Jakarta Timur: 81 %
2. Jakarta Selatan: 80%
3. Jakarta Barat: 79%
4. Jakarta Pusat: 77%
5. Jakarta Utara: 77%

Maret 2019:
1. Jakarta Timur: 81 %
2. Jakarta Selatan: 80%
3. Jakarta Barat: 79%
4. Jakarta Pusat: 77%
5. Jakarta Utara: 77%

Lihat juga...