Anies Fokus Benahi Transportasi Publik di Jakarta

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menuturkan, saat ini dirinya tengah fokus membangun dan membenahi transportasi umum, agar pengguna kendaraan pribadi mau beralih. Sebab dengan begitu bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan.

“Yang lebih penting itu membuat transportasi umum lebih banyak, di situlah inti dari kebijakan kita,” ujar Anies di Ruang Pola, Gedung Blok G, Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Jumat (11/1/2019).

Namun, saat ditanya mengenai proyek electronic road pricing (ERP) orang nomor satu di Ibu Kota Jakarta itu enggan berkomentar mengenai penyebab salah satu peserta lelang Q-Free asal Norwegia, mundur dari lelang proyek ERP.

Namun, Anies mengaku, kini Pemprov DKI akan berkonsultasi dengan Kejaksaan untuk memastikan proses lelang proyek ERP tidak bermasalah.

“Begini, menurut saya, kemarin ketika proses ini dibuat, dari pelaporan, satu-satu akan dilihat ada kedisiplinan dalam menjalankan proses tender atau tidak,” katanya.

Dia pun menegaskan, tidak ingin proyek ERP dikebut realisasinya, namun kemudian menimbulkan permasalahan.

“Kami lagi menunggu fatwa dari Kejaksaan, ya,” dia menambahkan.

Meski ada risiko realisasi penerapan jalan berbayar elektronik mundur dari target, Anies menilai, bukan persoalan. Sebab, kata dia, Pemprov DKI lebih memprioritaskan pembenahan transportasi publik.

Anies juga enggan mengomentari apakah alasan mundur salah satu peserta lelang dikarenakan pembiayaan tidak jelas dan tidak ada kepastian. Pemprov DKI Jakarta sangat memperhatikan agar aturan ERP ini, saat sudah disahkan, bisa menjadi aturan yang tidak dipermasalahkan di kemudian hari.

“Bayangkan saja karena dalam prosesnya ada banyak pertanyaan, jangan sampai ketika sudah diputuskan kemudian hari jadi masalah hukum,” jelas Anies lagi.

Diberitahukan, pemberlakuan ERP terancam mundur lagi, lantaran salah satu peserta tender, yakni Q-Free mengundurkan diri dari lelang pada Desember 2018 lalu.

Tersiar kabar, Q-Free mundur dari lelang ERP dengan alasan adanya ketidakpastian dalam proses tender proyek tersebut.

Ini membuat peserta tender hanya tersisa dua lagi, yakni PT Bali Towerindo Sentra Tbk dan Kapsch TrafficCom yang merupakan salah satu perusahaan dari Swedia.

Lihat juga...