APTISI Minta Pemkot Bekasi Optimalkan Peran Kampus Setempat

Editor: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Komisariat IVA, Makmur Heri Santoso, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Jawa Barat, mengoptimalkan peran kampus setempat dalam bidang riset atau pengkajian tertentu.

“APTISI berharap, Pemkot Bekasi jika ada riset, tidak diberikan ke kampus dari luar Bekasi. Tidak diberikan ke kampus yang ada di Bandung atau lainnya,” ujar Makmur Heri Santoso, usai diskusi publik dengan tema Perkembangan Sektor Pendidikan di Kota Bekasi 2018-2019 di Kota Bekasi, Rabu (9/1/2019).

Dikatakan, poin pendidikan dan riset yang dibuat pemerintah Bekasi untuk pengabdian masyarakat bisa dilaksanakan oleh SDM yang ada di Bekasi. Pasalnya, sambung Makmur, akademisi memiliki kewajiban tri dharma perguruan tinggi.

Ketua APTISI Komisariat IVA, Makmur Heri Santoso – Foto: Muhammad Amin

Pengabdian tersebut, imbuhnya, meliputi untuk masyarakat luas dan umum. Tidak terkecuali masyarakat industri, masyarakat akademis, dan instansi.

Menurutnya, APTISI Komisariat IVA meliputi wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi, Subang, Kabupaten Karawang, dan Purwakarta, memiliki tim 80. Kampus untuk di Kota Bekasi ada 36 kampus.

“Saya atas nama APTISI, pernah dua tahun lalu ingin ketemu Wali Kota Bekasi. Tetapi ditemui para tenaga ahli, akhirnya nggak nyambung. Sepertinya hanya sekadar bertemu, tidak berarti,” ujar Makmur.

Dia meminta, Pemkot Bekasi tidak mengartikan kalangan APTISI, jika membawa program riset dan lainnya hanya akal-akalan proyek saja.

“Jangan diartikan kami mencari proyek. Kami punya kewajiban tri dharma kampus,” tandas Makmur.

Dalam kesempatan itu, Makmur menambahkan, bahwa Kota Bekasi sudah banyak dimasuki perguruan tinggi dari luar daerah, terutama dari Jakarta dan Bandung. Artinya, Kota Bekasi memang terlihat seksi.

Lebih lanjut, Makmur mengaku, sudah melakukan klaster sesuai bidang keilmuan di setiap kampus, guna memudahkan dalam pengabdian tri dharma perguruan tinggi. Karena, paparnya, tidak semua kampus bisa melakukan tri dharma itu.

“Harus bersama-sama untuk melakukan riset. Itu tidak gampang karena modalnya besar. Klaster keilmuan itu untuk memudahkan dalam penerbitan bersama, melalui jurnal,” pungkas Makmur.

Lihat juga...