ASITA Sumbar Keluhkan Mahalnya Harga Tiket Pesawat

Editor: Koko Triarko

250
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia Sumatra Barat, Ian Hanafiah/ Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA) Sumatra Barat, berharap kepada Kementerian Pariwisata RI untuk ikut bicara kepada Kementerian Perhubungan RI, tentang kebijakan maskapai penerbangan berkaitan dengan harga bagasi dan mahalnya tiket pesawat.

Ketua ASITA Sumatra Barat, Ian Hanafiah, mengatakan saat ini hampir sebagian besar maskapai penerbangan mengalami kenaikan harga tiket. Parahnya lagi, maskapai penerbangan Garuda Indonesia menduduki posisi teratas soal harga tiket pesawat, yang jumlahnya mencapai Rp2 juta per penumpang.

“Kita di ASITA melihat tiket pesawat Garuda Indonesia, khusus untuk penerbangan Padang – Jakarta dengan waktu penerbangan yang tidak sampai dua jam, harga tiketnya termahal jika dibandingkan dengan penerbangan domestik lainnya,” katanya, Sabtu (12/1/2019).

Menurutnya, cukup besar dampak yang dirasakan akibat dari mahalnya tiket pesawat itu, terutama bagi Sumatra Barat yang merupakan daerah tujuan wisata domestik dan internasional.

Saat ini, upaya yang dilakukan ASITA ialah meminta kepada pihak Garuda Indonesia yang berada di Kota Padang. Hasilnya, pihak Garuda Indonesia menyatakan, bahwa soal kebijakan kenaikan harga tiket merupakan wewenang dari Garuda Indonesia di Jakarta, bukan di daerah.

Selain itu, ASITA juga telah menyampaikan surat ke Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, beberapa waktu lalu. Namun, respons gubernur masih terdengar normatif.

“Kata guberbur, dari Pemprov Sumatra Barat telah cukup sering menyurati pihak Garuda Indonesia yang meminta untuk menurunkan harga tiket pesawat di setiap momen mudik Lebaran. Hasilnya pihak Garuda Indonesia juga tidak merespons,” ujarnya.

Melihat kondisi yang demikian, ASITA melihat sudah saatnya Kementerian Pariwsata menemui secara langsung pihak Kementerian Perhubungan, untuk menyampaikan situasi dan kondisi, bahwa cukup besar dampak buruk dari kebijakan yang diterapkan itu.

Saat ini, untuk harga tiket Padang – Jakarta dengan tujuan keberangkatan pada 17 Januari 2019, dan dengan maskapai penerbangan Lion Air, Rp1.134.000 per penumpang untuk satu kali penerbangan, dengan waktu terbang 1:50 menit.

Sementara untuk Jakarta – Padang dengan pesawat yang sama, dengan harga tiket Rp1.590.000 per penumpang, dengan waktu terbang 1:45 menit.

Begitu juga untuk pesawat Garuda Indonesia dengan jadwal penerbangan yang sama, harganya mencapai Rp2 juta per penumpang.

Sementara itu, kenaikan harga tiket pesawat khusus untuk penerbangan pulang pergi Padang – Jakarta, mulai terlihat dampaknya ke kunjungan wisatawan ke Sumatra Barat.

Penurunan kunjungan wisatawan ke Sumatra Barat itu, disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Sumatra Barat, Oni Yulfian, saat melakukan penerbangan Jakarta – Padang, pada 7 Januari 2019. Terlihat begitu banyak seat kosong, dan diperkirakan kurang dari 25 persen seat yang terisi.

“Saya waktu itu untuk harga tiketnya ada pada harga maksimal. Bahkan ada beberapa penerbangan juga mengurangi frekuensinya ke Padang. Jadi, kondisi ini sudah mulai dirasakan, dan hal ini sangat tidak baik bagi pariwisata di Sumatra Barat,” katanya.

Menurutnya, jika dikatakan harga mengikuti demand,perlu kiranya penerbangan bisa memberikan penjelasan bagaimana mereka menghitung demand tersebut.

Oni mengaku, sepinya wisatawan pasti berdampak pada industri/usaha pariwisata Sumatra Barat, dan selanjutnya kepada kesejahteraan masyarakat, terutama yang secara langsung menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata.

“Ya, ASITA wajar sekali jika mereka merasa terusik dengan kondisi penerbangan kini. Tiket mahal dan bagasi harus bayar. Padahal, untuk menarik wisatawan ke Sumatra Barat ini, kawan-kawan ASITA tentu menawari paket yang murah. Kalau serba mahal, mana mau ke Sumatra Barat,” sebutnya.

Oni menyatakan, kebijakan Kemenhub Soal maskapai penerbangan itu sangat berdampak negatif terhadap jumlah kunjungan ke Sumatra Barat, karena kenaikan harga secara langsung akan mengurangi minat masyarakat untuk melakukan perjalanan udara.

Ia tidak menapik, bahwa wisatawan yang datang berkunjung ke Sumatra Barat cukup banyak melalui jalur udara. Badan Pusat Statistik juga telah merilis data itu, bahwa ribuan wisatawan masuk melalui Bandara Internasional Minangkabau.

“Hal ini sebenarnya telah dikhawatirkan juga oleh Gubernur Sumatra Barat, dan bahkan telah beberapa kali melayangkan surat ke Garuda Indonesia, tapi tidak ada perubahan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...