Aturan Baru Diberlakukan, Tukang Sampah Masih Beroperasi

Editor: Mahadeva

571
Tukang sampah keliling sedang bersiap-siap untuk mengambil sampah warga dan tidak mengetahui tentang aturan pengelolaan sampah baru yang mulai  di berlakukan hari ini, Rabu (2/1/2019). (FOTO : Hermiana E. Effendi) 

PURWOKERTO – Hari pertama aturan pengelolaan sampah pada sumbernya diberlakukan, pada Rabu (2/1/2019), tukang sampah keliling masih beroperasi di Banyumas. Sebagian dari mereka bahkan tidak tahu, mengenai Surat Edaran (SE) Bupati Banyumas, yang menyatakan pengelolaan sampah per 2 Januari 2019, tidak lagi berbasis pelayanan oleh pemkab.

Pengelolaan sampah tidak lagi dengan pola kumpul, angkut dan buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Masyarakat, sekarang diminta mengelola sampah secara mandiri. Salah satu tukang sampah keliling, Marsono, mengatakan, Dia tetap berangkat untuk mengambil sampah-sampah milik warga di Kompleks Karangkobar, Kelurahan Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur.

Selain sudah menjadi pekerjaan yang telah dijalani bertahun-tahun. Sampah akan menumpuk jika tidak diangkut. Terkait kebijakan pengelolaan sampah pada sumbernya, yang diikuti dengan penutupan TPA dan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), Marsono mengatakan, Dia akan membuang sampah ke sungai, jika TPS tempatnya membuang sampah-sampah warga di tutup.

Sebab, setiap hari, Dia bertanggungjawab untuk mengangkut sampah warga. Sementara, untuk alih profesi dari pengangkut sampah, Marsono menyatakan tidak mungkin. Tidak punya keahlian dan modal untuk usaha, menjadi alasan tidak mungkin melakukan hal tersebut. ʺKalau TPS ditutup, ya, saya buang ke sungai. Ini, sudah menjadi pekerjaan saya, dan tidak mungkin saya tinggalkan,ʺ katanya, Rabu (2/1/2019).

Anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Tengah, Eddy Wahono – Foto Hermiana E Ef

Anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Tengah, Eddy Wahono, mengatakan, selama ini Dia selalu gencar mensosialisasikan larangan pembuangan sampah di sungai. Masyarakat dibantu untuk mencintai sungai. Seharusnya, pemkab juga mendukung penuh upaya pelestarian sungai.

ʺKalau dihitung, setiap hari sampah rumah tangga yang dibuang warga ke sungai dan kemudian bermuara di Sungai Serayu, jumlahnya sampai puluhan meter kubik. Jika tukang-tukang sampah keliling nantinya juga membuang sampah ke sungai, akibat kebijakan kelola sampah pada sumbernya tersebut, bisa dibayangkan berapa ratus kubik sampah yang bermuara di Sungai Serayu ini,ʺ tuturnya.

Eddy menuturkan, kebijakan pengelolaan sampah pada sumbernya sangat bagus. Hanya saja harus diikuti dengan prosedur edukasi kepada masyarakat, untuk mengelola sampah sendiri. Selain itu juga dilakukan sosialisasi secara luas, dan dibutuhkan waktu minimal satu tahun untuk bisa diterapkan penuh. Untuk mengantisipasi meningkatnya pembuangan sampah ke sungai, Eddy Wahono mendesak, agar pemkab memberikan sanksi tegas, bagi pelaku pembuangan sampah ke sungai.

ʺSanksi pidana bagi pelaku pembuangan sampah ke sungai itu sudah ada dalam perda, tetapi tidak pernah diberlakukan secara tegas, yang muncul hanya himbauan-himbauan melalui spanduk saja,ʺ jelasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Suyanto, mengatakan, tukang sampah keliling tetap beroperasi. Hanya saja, mereka tidak lagi membuang sampah di TPS. Pembuangan sampah dikoordinir oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) atau pihak desa. Selanjutnya oleh KSM akan diteruskan ke hanggar (tempat pengolahan sampah) terdekat.

ʺJadi tukang sampah keliling tetap bisa bekerja, hanya pembuangan sampah tidak lagi di TPS seperti biasanya. Tukang sampah bisa menjadi bagian dari KSM, jadi tidak akan ada pembuangan sampah ke sungai-sungai,ʺ pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...