Bangun Desa, Unej Terjunkan 956 Mahasiswa

Editor: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Universitas Jember (Unej), mendapatkan pujian dari pemerintah Australia melalui program Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK), lembaga bentukan pemerintah Australia yang membantu pemerintah Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan.

Menurut Citra Aulia, innovation manager KOMPAK, program KKN yang dilakukan oleh Universitas Jember telah membantu desa, agar berdaya melalui KKN tematik sehingga Universitas Jember benar-benar menjadi kampus Universitas Membangun Desa (UMD).

Untuk diketahui UMD adalah salah satu program yang juga digulirkan oleh pemerintah Australia melalui KOMPAK.

Citra Aulia (kiri), innovation manager KOMPAK, berdiskusi dengan mahasiswa peserta KKN. Foto: Kusbandono.

Hal tersebut diungkapkan Citra Aulia, saat memberikan pengarahan kepada 956 mahasiswa Universitas  Jember yang akan melaksanakan program KKN periode I tahun akademik 2018/2019.

Kegiatan pembekalan bertema Membuka Inspirasi untuk Pemanfaatan Potensi Desa diselenggarakan oleh Pusat Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), di Gedung Soetardjo, Senin (14/1/2019).

“Kami menyaksikan banyak program yang dilakukan melalui program KKN Universitas Negeri Jember mampu membangun desa. Misalnya dengan Sistem Administrasi Informasi Desa di Bondowoso, Desa Peduli Buruh Migran di Jember, Desa Wisata di Bondowoso hingga pencegahan stunting di berbagai kabupaten di Besuki Raya,” ujar Citra Aulia.

Rencananya, Unej akan menerjunkan 956 mahasiswa tersebut ke desa di Jember, Bondowoso, Situbondo dan Probolinggo, mulai hari Selasa (15/1/2019).

“Keberhasilan Universitas Jember mengelola program UMD melalui program KKN bahkan menarik minat Pemerintah Kabupaten Pangkajene Kepulauan di Sulawesi Selatan. Untuk mereplikasikan UMD di daerahnya.

Bahkan kami memberikan kepercayaan kepada Universitas Jember untuk membina UIN Maulana Malik Ibrahim dan IAIN Kediri dalam menjalankan program UMD yang dimotori oleh KOMPAK di daerahnya masing-masing,” imbuh Citra Aulia.

Untuk diketahui, jalinan kerjasama antara Universitas Negeri Jember dengan KOMPAK sudah dimulai semenjak tahun 2016 lalu.

Sementara itu, Achmad Subagio, Ketua LP2M, mengungkapkan, kegiatan pembekalan bagi mahasiswa peserta program KKN dimaksudkan agar mahasiswa mendapatkan inspirasi dalam merancang program, sehingga tujuan program yang sudah ditentukan dapat tercapai.

“Masa KKN tidak terlalu panjang, hanya 45 hari saja. Oleh karena itu dengan pembekalan seperti ini, kami berharap mahasiswa sudah punya gambaran bagaimana menemukan masalah, memetakan potensi desa hingga menyusun program yang tepat sehingga kehadiran mereka di desa benar-benar dapat menggerakkan potensi desa,” katanya.

Salah satu peserta Program KKN tematik sebelumnya, Ahmad Syaikhudin, yang bersama kawan-kawannya berhasil melaksanakan Festival Desa Bebas Stunting di Desa Cindogo, Tapen, Bondowoso tahun lalu.

Dalam kegiatan ini, Syaikhudin menggelar acara Festival Desa Bebas Stunting yang meliputi Ayah Hebat, Ibu Pintar, Remaja Tanggap, Giat Kader, hingga lomba pembuatan MP-ASI dan lomba kebersihan.

“Dari pengalaman kami, jangan terkesan menggurui. Apalagi serta merta memberikan cap desa tertentu tergolong rawan atau terbelakang. Saran saya, coba dekati perangkat desa dan tokoh desa agar program yang kita laksanakan dapat berhasil,” kata mahasiswa Fakultas Kedokteran ini.

Rektor Unej, Moh. Hasan (tengah baju biru) bersama para dosen DPL turut menyemarakkan acara dengan aksi teater yang menggambarkan festival layang-layang. Foto: Kusbandono.

Sementara itu, menurut Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember, program KKN adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk mencetak rekam jejak yang baik di masyarakat. Pasalnya, jika program yang dijalankan berhasil memberikan solusi, maka anggapan bahwa perguruan tinggi bak menara gading, akan roboh dengan sendirinya.

“Untuk itu, Universitas Jember akan terus menjalankan program KKN tematik. Baik berupa program desa digital, desa wirausaha, desa desbumi, desa bebas stunting, dan desa wisata. Agar program tersebut berkelanjutan, desa-desa tersebut akan menjadi desa binaan Universitas Jember,” tutur Moh. Hasan.

Lihat juga...