Banjir dan Longsor di Lamsel Akibat Rusaknya Lingkungan

Editor: Koko Triarko

237

LAMPUNG – Bencana tanah longsor dan banjir di Lampung Selatan, pada Selasa (22/1), mengakibatkan putusnya akses jalan antarkecamatan di Desa Kelawi, serta permukiman warga. Bahkan, usaha perikanan di Dusun Pegantunga, Bakauheni, dilaporkan merugi puluhan juta rupiah.

Kondisi tersebut menjadi keprihatinan bagi pelaksana tugas Bupati Lamsel, Nanang Ermanto. Ia dengan tegas menyebut, kerusakan lingkungan menjadi biang utama longsor dan banjir. Salah satu kerusakan yang terjadi disebabkan banyaknya penggundulan pohon di kawasan perbukitan Bakauheni.

Syarifuddin, Kepala Desa Kelawi, saat berada di lokasi longsor -Foto: Henk Widi

“Pepohonan penahan longsor di perbukitan Kepayang, Minang Rua, Pegantungan, beralih fungsi menjadi lahan perkebunan jagung, pisang, dan jagung. Sejumlah pohon penangkap dan peresap air berakar tunjang juga diubah dengan tanaman semusim berakar serabut,” katanya, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (23/1/2019).

Nanang Ermanto juga mengkritisi masyarakat yang hanya memikirkan keuntungan sementara. Kelestarian jangka panjang yang diabaikan oleh masyarakat, terlihat dengan keengganan warga menanam pohon untuk jangka panjang.

Ia pun meminta warga kembali menanam pohon, dengan ketersediaan bibit yang disediakan gratis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di tempat Persemaian Permanen di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang.

“Masyarakat saat ini hanya ingin menanam pohon untuk kepentingan praktis demi keuntungan sementara. Imbasnya, bencana banjir dan longsor melanda. Pohon penangkap air saat hujan diganti tanaman semusim yang tidak bisa menahan air,” tegas Nanang Ermanto.

Ia juga menyebut, di perbukitan Kepayang dan Pegantungan, potensi longsor masih akan terjadi, jika penanaman pohon tidak dilakukan. Ketiadaan tanaman besar yang sudah berganti menjadi tanaman semusim, membuat tanah mudah tergerus sehingga tersisa bebatuan besar yang mudah longsor saat hujan.

Ia berharap, masyarakat bisa belajar dari kejadian bencana yang sudah terjadi, dengan melakukan penanaman pohon. Masyarakat harus bisa melihat kepentingan jangka panjang, melalui upaya menjaga lingkungan agar longsor tidak terjadi.

Selain longsor, banjir di Sungai Pegantungan, Bakauheni, banjir disertai lumpur berimbas pendangkalan (sedimentasi) sungai. Material tanah perbukitan yang sudah tidak bisa menahan air, membuat tanah terbawa ke sungai dan mempercepat pendangkalan.

Persoalan terjadi pada kepemilikan lahan yang sebagian dimiliki oleh perusahaan besar, di antaranya PT. Central Cipta Murdaya (CCM) dan perusahaan lain.

Ia menyebut, dengan adanya bencana longsor, banjir, perusahaan pemilik lahan di wilayah Lamsel memiliki kepedulian melalui Corporate Social Responsibility (CSR), yang bisa dilakukan dengan upaya perbaikan lingkungan dan penanaman pohon, agar kondisi lingkungan tetap terjaga, serta bahaya banjir dan longsor di masa mendatang.

“Nanti kami akan dorong perusahaan-perusahaan yang memiliki tanah di Lamsel, untuk ikut peduli pada lingkungan,” tegas Nanang Ermanto.

Upaya normalisasi lingkungan di Sungai Pegantungan, kata Nanang Ermanto, juga sudah dilakukan. Alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lamsel dikerahkan untuk mengeruk sedimentasi pada sungai.

Rencananya, penataan sungai akan dilakukan agar sedimentasi tanah tidak terjadi. Selain normalisasi, ia berharap warga bisa menjaga lingkungan di sekitar sungai, dengan menanam pohon, agar tidak terjadi longsor dan banjir.

Kepala Desa Kelawi, Syarifudin, mengakui alih fungsi lahan dari lokasi konservasi menjadi lahan pertanian ikut menyumbang longsor. Syarifudin menyebut, pada titik akses jalan yang longsor, warga desa setempat telah melakukan upaya penanaman pohon.

Jenis pohon yang ditanam, di antaranya Ketapang, Jati, Sengon dan tanaman lain. Namun akibat kurang pedulinya masyarakat, membuat tanaman sebagian mati, bahkan dipotong sebagai pakan ternak.

“Saat longsor terjadi, masyrakat kembali diingatkan pepohonan punya fungsi menjaga lingkungan, secepatnya akan kami tanami kembali,” beber Syarifudin.

Syarifudin juga menyebut, sebagian lokasi longsor merupakan lahan milik perusahaan. Warga yang menggarap hanya menanam pisang serta sejumlah tanaman lain yang tidak memiliki fungsi penahan longsor.

Kepada masyarakat yang memiliki lahan di perbukitan, ia berharap upaya menjaga lingkungan kembali dilakukan, agar bencana longsor tidak menimpa wilayah tersebut.

Suyitno, Kepala Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Senada dengan Syarifudin, Kepala Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni, Suyitno, membenarkan, banjir di Pegantungan disebabkan oleh sedimentasi sungai. Imbasnya, sekitar 20 kepala keluarga di wilayah tersebut terendaman luapan air Sungai Pegantungan.

Banjir yang tahun sebelumnya sudah terjadi, membuat pemerintah desa telah melakukan normalisasi sungai. Namun tidak kunjung dilakukan. Sedimentasi sungai diakuinya disebabkan material pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan telah dikoordinasikan dengan pelaksana proyek.

“Kami sudah  mengusulkan upaya normalisasi, namun hingga banjir kedua datang, belum terealisasi hingga alat berat dari dinas PU yang datang,” beber Suyitno.

Normalisasi Sungai Pegantungan dan penataan lingkungan di sekitar Muara, lanjut Suyitno, akan dilakukan. Sejumlah pohon mangrove sebagai penjaga abrasi serta terjangan ombak akan dipertahankan.

Selama ini, permukiman warga terhindar dari terjangan gelombang dan angin dengan adanya pohon mangrove. Namun, banjir akibat sedimentasi sungai tidak bisa dihindarkan, akibat perubahan lingkungan di daerah aliran sungai setempat.

Lihat juga...