Banyumas Kota Layak Anak Tahap Pratama

Editor: Koko Triarko

569

PURWOKERTO – Meski sejak Desember 2013, Kabupaten Banyumas telah diluncurkan sebagai kota layak anak, namun hingga kini pemenuhan hak sipil anak yang sudah terealisasi, baru berupa pemberian akta kelahiran gratis untuk anak.   

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (PPT PKBGA) Kabupaten Banyumas, Tri Wuryaningsih, mengatakan, ada lima tahapan menuju kota layak anak, yaitu mulai dari pratama, madya, nidya, utama dan kota layak anak. Dari setiap tahapan, ada beberapa indikator yang harus dipenuhi.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (PPT PKBGA) Kabupaten Banyumas, Tri Wuryaningsih, -Foto: Hermiana E Effendi

ʺKabupaten Banyumas ini baru masuk tahapan yang paling awal, yaitu pratama. Awal 2019 ini, Banyumas baru bisa memenuhi hak sipil anak dan mendapat penghargaan atas terealisasinya program pemberian akta kelahiran gratis untuk anak,ʺ kata Tri Wuryaningsih, Kamis (31/1/2019).

Tri Wuryaningsih menyoroti masih minimnya ruang publik yang ramah anak di Banyumas. Seperti fasilitas antar-jemput anak sekolah, zona sekolah, stasiun atau pun terminal yang ramah anak dan ruang publik lainnya.

ʺRuang-ruang publik tersebut seharusnya menjadi ruang bebas asap rokok dan dilengkapi dengan ruang laktasi. Yang juga masih minim adalah tempat bermain terbuka untuk anak,ʺ terangnya.

Lebih lanjut, Dosen Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini menjelaskan, secara garis besar, pemenuhan hak dan perlindungan anak terbagi dalam lima cluster, yaitu hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya serta perlindungan khusus.

Tri wuryaningsih menyebut, kendala utama dalam mewujudkan kota layak anak adalah rokok. Kondisi saat ini, angka remaja yang merokok semakin banyak dan semakin dini. Anak kelas 5-6 Sekolah Dasar sudah banyak yang merokok. Kondisi ini dipicu maraknya iklan rokok yang dikemas secara keren dan gaul.

ʺBanyak larangan merokok ditampilkan, tetapi iklan rokok sangat masif ditayangkan, dan dikemas dengan sangat bagus. Sehingga muncul anggapan pada anak-anak remaja, bahwa kalau tidak merokok itu tidak keren, tidak gaul dan sebagainya. Usia remaja ini masih mencari jati diri dan sangat mudah dipengaruhi,ʺ jelasnya.

Terkait peningkatan tahapan menuju kota layak anak, Tri Wuryaningsih menyebut, pada 2022 Banyumas sudah harus bisa naik ke tahap nidya.

Namun, semua itu tergantung juga pada kesadaran masyarakat, serta sumbangsih dari pihak swasta dan lainnya, untuk bersama-sama mewujudkan kota ramah anak.

Lihat juga...