hut

Banyumas Krisis Petani

Editor: Mahadeva

PURWOKERTO – Salah satu pekerjaan yang hampir tidak mendapatkan regenerasi adalah petani. Di Kabupaten Banyumas, hampir seluruh petani sudah berusia lanjut. Mereka rata-rata berusia 50 tahun ke atas. Generasi muda, sekalipun anak petani, sudah enggan untuk meneruskan kegiatan menggarap sawah dan ladang. Akibatnya Banyumas krisis petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Kabupaten Banyumas, Widarso. (FOTO : Hermiana E. Effendi)

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Kabupaten Banyumas, Widarso, mengungkapkan, saat ini jumlah petani di Banyumas hanya ada sekira 100 ribu orang. Didominasi generasi tua, setiap tahun jumlahnya selalu menurun. Ada petani yang meninggal dunia, ada yang berhenti karena faktor usia, sudah tidak mampu lagi mengerjakan sawah, dan pada akhirnya sawah dijual.

ʺHampir tidak ada regenerasi sama sekali, setiap tahun jumlah petani kita terus menurun. Generasi muda sangat sedikit yang tertarik dan mau terjun di pertanian, termasuk anak-anak petani sendiri,ʺ kata Widarso, Kamis (31/1/2019).

Menurut Widarso, generasi muda menganggap, usaha di bidang pertanian kurang menjanjikan. Anggapan ini muncul karena sebagian besar petani hidupnya masih belum sejahtera. Terlebih, bagi petani yang hanya memiliki lahan tidak terlalu luas.

“Anak-anak muda beranggapan, bahwa mereka tidak bisa menjadi kaya dengan bertani. Sehingga mereka memilih untuk bekerja di sektor lain, ada yang memilih pergi ke kota besar, ada juga yang lebih suka kerja di pabrik. Seolah lahan pertanian hanya identik dengan orang tua,ʺ terangnya.

Padahal, jika seorang petani memiliki sawah satu hektare, dalam satu kali panen bisa menghasilkan lima ton gabah. Keuntungan yang diperoleh bisa sampai Rp20 juta. Jika dibagi selama empat bulan masa tanam hingga panen, maka rata-rata per bulan mendapatkan uang Rp5 juta.

Penghasilan tersebut jauh lebih besar daripada bekerja di pabrik. Namun, dalam bertani memang selalu ada resiko. Dan tidak selamanya hasil panen bisa maksimal. Terkait krisis petani, Widarso menyebut, hal tersebut sudah diantisipasi oleh pemerintah. Telah diciptakan alat-alat pertanian, seperti traktor, alat tanam serta alat panen. Alat tersebut untuk menggantikan tenaga manusia.

ʺMau tidak mau, modernisasi alat pertanian masuk ke sawah, karena keterbatasan tenaga petani kita. Dengan menggunakan alat-alat tersebut, lebih efisien dan satu orang petani bisa menggarap lebih dari satu hektare sawah,ʺ jelas Widarso.

Lihat juga...