Berkat Pengajian, Kehidupan Kelam Warga Sri Rahayu Terkikis

Editor: Satmoko Budi Santoso

437

PURWOKERTO – Kampung Sri Rahayu tak pernah sepi dari cerita kehidupan layaknya sinetron di televisi. Kampung kecil dengan penghuni sekitar 500 jiwa tersebut terletak di tengah Kota Purwokerto, ibu kota dari Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.

Mulai dari cerita anak-anak yang dipaksa mengemis, bunuh diri akibat tekanan ekonomi, terjerat rentenir hingga traficking.

Penghuninya mayoritas berprofesi sebagai pengamen, pengemis dan buruh, bahkan ada juga Pekerja Seks Komersial (PSK), seolah sulit untuk move on. Kendati sudah banyak LSM, aktivis hingga pemerintah daerah yang turun tangan..

Aktivitas judi, mabuk-mabukan serta kehidupan malam, sangat lekat dengan kampung yang terletak tepat di belakang Taman Rekreasi Andhang Pangrenan (TRAP) tersebut. Anak-anak yang putus sekolah juga menjadi hal yang sangat biasa.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, gaung salawat mulai terdengar dari kampung tersebut. Pada malam hari, warga terlihat berbondong-bondong menuju sebuah rumah, yang perempuan mengenakan kerudung dan yang laki-laki mengenakan sarung lengkap dengan kopiah. Mulai pukul 19.30 WIB hingga pukul 22.00 WIB, ratusan warga terlihat duduk mengikuti pengajian yang diawali dengan salawat bersama.

Dalam sepekan, tiga kali warga berbondong-bondong menuju rumah Bayu Kurniawan (55), seorang warga keturunan Tionghoa yang sudah menjadi mualaf. Gaung salawat yang menggema, juga atas upaya Bayu yang ingin membuat perubahan kecil di kampung PGOT tersebut.

Bayu meyakini, perubahan harus dimulai dari pribadi masing-masing orang, yaitu dengan memperbaiki iman dan akhlak.

ʺPertama kali mengadakan pengajian, undangan saya sampaikan melalui ketua RT setempat. Supaya warga mau datang, dalam undangan tertulis, bisa ditukar sembako. Ternyata cara tersebut ampuh, pengajian perdana ada 400-an warga yang hadir,ʺ cerita Bayu, Kamis (3/1/2019).

Bayu Kurniawan – Foto Hermiana E Effendi

Bayu memberikan sembako untuk ratusan warga yang hadir dari dana pribadi. Awalnya pengajian dilakukan seminggu sekali dan frekuensinya terus ditingkatkan tiap bulan.

Sedikit demi sedikit jatah sembako yang diberikan dikurangi. Bahkan terkadang warga yang datang ke pengajian hanya diberikan makanan kecil saja. Meskipun jatah berkurang, namun ternyata tetap masih banyak yang datang untuk mengaji.

Manfaat dari pengajian rutin ini mulai terasa pada kehidupan warga di kampung Sri Rahayu. Terutama pada pola pikir orang tua dalam memperlakukan anak-anak mereka.

ʺPara orang tua yang rutin ikut pengajian, pada akhirnya menyadari bahwa kehidupan dan pekerjaan mereka kurang tepat. Lalu mulai tumbuh keinginan supaya anak-anak mereka tidak mengikuti jejak orang tuanya. Jadi yang dulu anak-anak disuruh mengamen dan mengemis, secara perlahan, para orang tua  membiasakan anak-anaknya untuk bersekolah,ʺ kata Bayu.

Baca Juga
Lihat juga...