BMKG: Bencana Hidrometeorologi Masih Berpotensi Terjadi di NTT

158
Ilustrasi [pixabay]

KUPANG — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, bencana hidrometeorologi masih berpotensi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga akhir Februari 2019.

“Kondisi hujan deras, angin kencang dan gelombang tinggi masih berpotensi terjadi hingga akhir bulan Februari 2019. Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan siaga terhadap dampak bencana hidrometeorologi,” kata Kepala BMKG Stasiun El Tari, Bambang Santiajid di Kupang, Selasa (29/1/2019), terkait potensi bencana hidrometeorologi di NTT.

Bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi seperti, hujan deras, angin kencang dan gelombang tinggi yang menyebabkan banjir, genangan air, jalan licin, tanah longsor, abrasi pantai, bangunan roboh, pohon dan baliho tumbang, serta bagi masyarakat pengguna transportasi laut waspada terhadap terjadinya gelombang tinggi.

Bambang menjelaskan, pada bulan Januari, posisi pergerakan semu harian matahari berada di belahan bumi bagian Selatan, sehingga mengakibatkan bumi bagian selatan menjadi lebih panas dan tekanan udara menjadi lebih rendah.

Kecepatan angin yang cukup kencang dalam beberapa hari terakhir di wilayah NTT khususnya, karena adanya beda tekanan yang cukup segnifikan antara BBU dan BBS atau antara Asia dan Samudera Hindia Barat Australia, serta terbentuk pola tekanan rendah di Samudera Hindia barat Australia.

Berdasarkan analisa medan angin pada 22 Januari 2019, terdapat pusat tekanan tinggi di (1014 mb) di Asia dan pusat tekanan rendah (1005mb) di Samudera Hindia barat Australia dan pada 23 Januari 2019, pusat tekanan tinggi di Asia (1012mb) dan pusat tekanan rendah (999mb) di Australia.

“Dari pantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC), tekanan rendah ini meningkat menjadi siklon tropis Riley, bergerak kearah barat dengan kecepatan 6 knot (12 km/jam), bergerak menjauhi wilayah Indonesia,” katanya.

Tekanan pada pusat siklon (990mb), kekuatan 45 knot (85 km/jam), dampak untuk wilayah Nusa Tenggara Timur hujan dengan intesitas sedang hingga deras disertai petir dan angin kencang, tinggi gelombang laut 2 7 meter, katanya menjelaskan.

Menurut dia, pada bulan Januari-Pebruari 2019 sebagian wilayah di Nusa Tenggara Timur, berada di puncak musim hujan, dimana pertumbuhan awan Cumulonimbus sangat segnifikan.

Kondisi ini, sering terjadi pada siang, sore dan malam hari mengakibatkan terjadinya cuaca buruk seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang sesat dengan kecepatan mencapai 20-30 knot atau 40 60 km/jam masih berpotensi terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur, katanya menambahkan.

Karena itu, BMKG Kupang mengimbau kepada seluruh masyarakat NTT agar tetap waspada dan siaga terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang masih berpotensi terjadi di daerah ini. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...