BMKG Pasang Alat Pantau Ketinggian Air Selat Sunda

207
Ilustrasi BMKG - Dok: CDN

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memasang alat pemantau ketinggian air, atau sensor water level. Alat tersebut untuk memantau ketinggian air di Pulau Sebesi, pulau yang terdekat dengan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda.

“Alat ini telah dipasang di pulau dekat Gunung Anak Krakatau, untuk memantau ketinggian air, sekaligus sebagai data dalam menentukan peringatan dini, bila akan terjadi tsunami di selat Sunda karena gempa tektonik maupun vulkanik,” kata Deputi Bidang Instrumentasi, Kalibrasi, Rekayasa dan Jaringan Komunikasi BMKG, Widada Sulistya, Kamis (3/1/2019).

Alat dipasang di dermaga Pulau Sebesi Lampung Selatan, serta di wilayah Labuhan Banten, tepatnya di PLTU Labuhan, Banten. Alat tersebut, mengunakan sensor berupa tipe Ultrasonic, yang dapat digunakan untuk menghitung seberapa kecepatan dari objek yang di lepaskan (berupa sinyal frekuensi). Alat bersifat stasioner, untuk mengukur ketinggian permukaan air laut. Data perekaman dari sensor water level, akan dikirimkan langsung ke server BMKG, dan di update setiap satu menit sekali, untuk mengetahui ketinggian air permukaan laut di wilayah tersebut.

Pemasangan sensor, digunakan pada AWS di 24 Stasiun meteorologi Maritim BMKG, yang tersebar di Indonesia untuk mengukur ketinggian air di daerah sekitar pelabuhan. Dari lokasi pengamatan, akan didapat data atau nilai yang otomatis dikirim ke BMKG. Di server data diolah menjadi produk dalam bentuk grafik. Dari hasil olahan data tersebutlah, terlihat jenis gelombang, apakah gelombang pasang surut atau gelombang lain.

Grafik akan terlihat berbeda, ketika menggambarkan gelombang pasang surut dan tsunami. Gelombang tsunami terlihat lebih signifikan di bandingkan gelombang pasang surut biasa. Beberapa syarat untuk memasang sensor water level, yaitu harus bisa menentukan batas minimal yang dapat di deteksi oleh sensor, dalam kondisi air tidak boleh kering. Untuk pemasangan alat di Lampung dan Banten, disiapkan setelah terjadinya tsunami di Banten yang diakibatkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hingga saat ini BMKG memiliki 26 alat sensor water level yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...