BPBD Jateng Petakan Daerah Rawan Bencana

241

SEMARANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah memetakan daerah-daerah di 35 kabupaten/kota setempat yang rawan terjadi bencana pada musim hujan tahun ini.

“Berdasarkan identifikasi yang kami lakukan, tercatat sebanyak 1.864 desa dari 336 kecamatan berpotensi banjir, kemudian 2.134 desa dari 344 kecamatan berpotensi terjadi tanah longsor,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah, Sarwa Pramana di Semarang, Jumat (4/1/2019).

Ia menyebutkan puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada Januari hingga Februati 2019 dengan curah hujan diperkirakan mancapak 300-400 mm.

Menurut dia, daerah yang berpotensi terjadi banjir akibat tingginya curah hujan tersebut antara lain, Kabupaten Cilacap, Kebumen, dan Purworejo.

“Banjir juga berpotensi terjadi di wilayah pantai utara dari Kabupaten Brebes hingga Rembang, kemudian wilayah pantai selatan,” ujarnya.

Daerah yang berpotensi terjadi bencana alam tanah longsor, kata dia, berada wilayah pegunungan, dan paling besar berpotensi di wilayah Kabupaten Banjarnegara, dan Banyumas.

Sarwa menjelaskan pihaknya telah memasang puluhan alat peringatan dini (early warning system) untuk mengurangi risiko bencana dan jumlah korban.

“Kita sudah pasang 60 alat early warning system, untuk antisipasi tanah bergerak atau longsor,” katanya.

Selain bencana banjir dan tanah longsor, Provinsi Jateng juga memiliki ancaman bencana tsunami yakni di pesisir selatan yaitu Kabupaten Cilacap, Purworejo, Kebumen, dan Wonogiri.

“Sudah kita pastikan ‘EWS’ dalam kondisi baik, kita punya sembilan digital video broadcast, tiga warning receiver system, dua sirine tsunami, enam pendeteksi gempa, dan tujuh sensor akselerograf,” ujarnya.

Sementara itu, terkait dengan jumlah bencana alam di Jateng mengalami penurunan, dengan rincian pada 2017, terdapat 2.463 bencana, kemudian di 2018 menurun menjadi 1.734 bencana.

“2017 jumlah kerugian akibat bencana mencapai Rp87 miliar, sedangkan 2018 turun menjadi Rp47 miliar. Ini karena masyarakat makin paham mitigasi bencana,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...