BPIP dan Pakar Kembangkan Ekonomi Pancasila

Editor: Koko Triarko

213
Plt. Kepala BPI,P Prof. Dr. Hariyono, M.Pd, -Foto: Agus Nurchaliq

MALANG – Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyebutkan, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah seharusnya dijadikan sebagai landasan epistemologi keilmuan, yang salah satunya terkait masalah ekonomi.

Indonesia memiliki pengalaman sejarah. Pada saat masih dijajah, muncul yang namanya ekonomi kolonial. Masyarakat Indonesia pada saat itu posisinya hanya menjadi objek.

“Namun ketika kita sudah merdeka, kenapa masyarakat Indonesia masih belum bisa menjadi subjek? Salah satu faktornya ternyata adalah cara pandang kita membangun mental serta keilmuan kita yang belum berhasil,” ujarnya, usai menghadiri seminar nasional bertajuk ‘Menggali Nilai-nilai Ekonomi Keindonesiaan Berbasis Pancasila’, di gedung Graha Cakrawala, Universitas Negeri Malang, Selasa (29/1/2019).

Karenanya, beberapa pakar ekonomi dan politik bersama-sama dengan BPIP serta komite ekonomi dan industri nasional, saat ini tengah menggalang pengembangan ekonomi Pancasila di beberapa kampus.

Menurutnya, hal ini perlu untuk terus digulirkan, sehingga Pancasila sebagai epistimologi ekonomi bisa terus dikembangkan. Agar masyarakat tidak hanya mengeluhkan ketimpangan ekonomi yang dirasakan saat ini.

“Karena secara teoritik, selama ini kita sendiri tidak membangun ekonomi yang tidak timpang, dan ekonomi tidak timpang itu yang ingin kita kembangkan di Indonesia,” terangnya.

Disampaikan Hariyono, Pancasila sebagai dasar negara tentunya memiliki tujuan, yakni menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Hanya saja, tidak akan mungkin tercipta masyarakat yang adil makmur tanpa ada susunan tata ekonomi yang memberikan ruang gerak kepada masyarakat, negara maupun pihak swasta, dengan cara-cara yang baik, sehingga kepentingan publik harus lebih diutamakan dari pada kepentingan individu.

Lebih lanjut, Hariyono menyebutkan, bahwa Indonesia tidak menolak teori ilmu pengetahuan dan teknilogi (iptek) dari luar, tapi setiap iptek dari luar harus bisa disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

“Hal ini tentunya bukan sesuatu yang baru di dalam sejarah bangsa Indonesia, yang kerap disebut local genius, yakni kemampuan bangsa Indonesia dalam menerima pengaruh-pengaruh luar yang sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu, ketua penyelenggara seminar, Dr.Puji Handayati, mengaku bahwa tujuan diselenggarakannya seminar nasional tersebut untuk memberikan warna ideologis Pancasila kepada para generasi muda, khususnya mahasiswa.

“Saat ini, semua bisa melihat peradaban yang sangat luar biasa. Liberalisme menjadi dorongan yang sangat kuat di ekonomi global. Untuk itu, kita harus memberikan pondasi yang kuat bagi generasi muda Indonesia, khususnya mahasiswa terkait dengan nilai-nilai luhur yang ada di negara kita, yaitu Pancasila, agar anak-anak kita tidak tergerus oleh nilai-nilai barat,” pungkasnya.

Lihat juga...