Budi Daya Rumput Laut Lamsel Kembali Bergairah

Editor: Mahadeva

229

LAMPUNG – Pascatsunami Selat Sunda, pembudidaya rumput laut di Lampung Selatan (Lamsel) sudah kembali bergairah. Terjangan tsunami pada, Sabtu (22/12/2018), berdampak pada kegiatan budi daya rumput laut di daerah tersebut.

Salim, salah satu pembudidaya rumput laut menyebut, sepekan setelah tsunami, masih takut pergi ke laut. Tsunami, berimbas surutnya air laut di pesisir timur Lampung. Peristiwa tersebut membuat tanaman rumput laut miliknya sempat tidak terurus. Petani, baru memanen rumput laut dua pekan setelah kondisi perairan tenang.

Salim dan sejumlah pembudidaya rumput laut di wilayah tersebut menyebut, saat ini rumput laut yang ditanam sudah memasuki masa panen. Saat tsunami melanda Lamsel, tanaman rumput laut sudah berusia satu bulan, bertepatan dengan masa panen. “Awalnya masih takut melakukan aktivitas budidaya rumput laut, namun akhirnya kami kembali menanam rumput laut setelah panen, karena budidaya rumput laut menjadi sumber pendapatan bagi kami,” terang Salim kepada Cendana News, Jumat (11/1/2019).

Salim,salah satu pembudidaya rumput laut di desa Ruguk,kecamatan Ketapang Lampung Selatan menjemur rumput laut jenis spinosum didukung cuaca panas – Foto Henk Widi

Petani masih bisa memanen rumput laut basah jenis rumput laut merah (euchuma spinosum). Total panen yang didapat lima ton. Dari hasil panen, satu ton disiapkan untuk bibit penanaman baru. Saat tsunami menerjang, sebagian rumput laut yang ditanam tersedot ke laut lepas dan dihempas ombak ke daratan. Hal itu membuat sebagian jalur penanaman rumput laut rusak. Beruntung ketinggian ombak di daerah tersebut, tidak separah kondisi di Kunjir dan Way Muli.

Sebagian tanaman rumput laut masih bisa dipergunakan sebagai bibit. Dan untuk memenuhi kebutuhan bibit, Salim membeli dari petani lain di wilayah Legundi dengan harga Rp1.000 perkilogram. Pembudidaya rumput laut lain, Jaya memastikan, sudah bisa kembali beraktivitas dengan normal. Dia menanam rumput laut jenis putih atau Kotonii (Eucheuma Cottonii). Bibit diperoleh dari Desa Ketapang.

Rumput laut jenis kotonii disebut Jaya, dalam kondisi kering, saat ini bisa dijual dengan harga Rp13.000 perkilogram. Harganya lebih tinggi dari jenis Spinosum, yang hanya berharga Rp8.000 perkilogram. Kondisi cuaca di perairan timur Lampung Selatan saat ini mendukung budi daya rumput laut. Cuaca yang panas, mendukung proses pengeringan. “Proses pemanenan parsial menjadi cara mempertahankan kualitas, bibit baru akan ditanam pada jalur untuk panen berkelanjutan,” terang petani lainnhya, Jaya.

Yanti, salah satu pembudidaya rumput laut lain, mengaku juga sudah mulai beraktivitas normal. Sebagian wanita yang memiliki tugas sebagai buruh tanam dan panen, terlihat mulai beraktivitas. Sejumlah kerusakan jalur dari tali tambang untuk menanam rumput laut sudah diperbaiki. Tali tambang sepanjang 30 meter, umumnya tidak mengalami kerusakan. Namun saat ombak balik usai surut banyak lajur yang tergulung dan sebagian harus dipotong, diganti baru.

Baca Juga
Lihat juga...