Cara Unik Pemkab Kuatkan Identitas Batik Pamekasan

255

PAMEKASAN — Kabupaten Pamekasan merupakan satu dari empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur yang sebagian warga bergantung pada penghasilan dari usaha batik tulis.

Tercatat di kabupaten itu, sebanyak 38 sentra batik, dengan 933 unit usaha, dan 6.526 orang menggantungkan nasibnya pada jenis usaha kreatif ini.

Menurut Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, ekonomi usaha batik menyumbang 1-2 persen dalam sektor industri, lebih rendah dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 35,66 persen.

Posisi kedua ditempati sektor perdagangan besar dan eceran yaitu sebesar 19,61 persen, sedangkan kontribusi terbesar ketiga adalah sektor konstruksi dengan kontribusi sebesar 10,12 persen.

Hanya saja, industri batik juga memiliki keterkaitan erat dengan beberapa program yang sedang dicanangkan bupati setempat, seperti industri kreatif yang menurutnya relevan pada era industri 4.0 maupun program wirausahawan baru, serta beberapa program lainnya.

Oleh karena itu, Pemkab Pamekasan berupaya mendorong berkembangnya industri batik di daerah itu dengan melakukan pembinaan, peningkatan sumber daya manusia (SDM), dan pengembangan alat bantu berupa teknologi, serta upaya memperluas akses pemasaran melalui kegiatan promosi sistemik.

Membangun kesadaran masyarakat untuk menggunakan batik dengan berupaya menanamkan rasa cinta masyarakat terhadap batik tulis Pamekasan sebagai produk lokal, serta mempromosi batik Pamekasan ke level nasional maupun internasional, menurut bupati, hal penting yang harus dilakukan pemerintah.

Kebijakan pemerintah dalam berupaya menguatkan rasa memiliki dan bangga akan hasil produk lokal para pembatik Pamekasan yang membuat Bupati Badrut Tamam mengharuskan semua mobil dinas di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) untuk branding batik tulis Pamekasan.

Pada 7 Januari 2019, peluncuran branding batik tulis Pemkab Pamekasan digelar. Sedikitnya 90 kendaraan dinas jenis mobil dan sepeda motor dari berbagai OPD di lingkungan Pemkab Pamekasan diluncurkan dari Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan.

Mobil dinas Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan wakilnya, Raja’e, yang sudah sebagai sarana branding batik tulis Pamekasan memimpin rombongan kendaraan dinas lainnya berkeliling Kota Pamekasan.

Konvoi mulai dari halaman pendopo dan berakhir di area Monumen Arek Lancor yang merupakan jantung Kota Pamekasan.

“Ini merupakan bagian dari upaya memberikan contoh kepada masyarakat, bahwa masyarakat Pamekasan untuk mencintai produk lokal dan menggunakan produk lokal. Selain itu, kegiatan ini adalah bagian dari upaya pemerintah dalam rangka melestarikan budaya batik khas Pamekasan,” ujar bupati.

Wujud dukungan Pemerintah Kabupaten Pamekasan kepada industri batik adalah dengan mengemas dengan unik, yakni mendesain warna batik pada mobil dinas Pemkab Pamekasan.

Ia mengatakan batik Pamekasan akan menjadi urat nadi bagi pemkab setempat dan hal ini harus segera menular pada seluruh masyarakat Pamekasan.

“Batik Pamekasan yang sudah turun-temurun beririsan dengan masyarakat Pamekasan, harus terus kita pertahankan dan bahkan harus dikembangkan, agar batik dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Pamekasan,” katanya menambahkan.

Untuk itu, Pemkab Pamekasan sengaja memilih desain batik pada seluruh mobil dinas di lingkungan Pemkab Pamekasan dengan tujuan menunjukkan bahwa daerah itu bangga, akan mengembangkan, dan berupaya membangun akselarasi industri batik di Pamekasan.

“Batik merupakan identitas kita. Batik merupakan produk lokal kita. Batik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Pamekasan. Batik adalah kita. Untuk itulah, mulai detik ini, kami deklarasikan, Pamekasan Kota Batik,” kata Bupati Badrut Tamam.

Dampak Sistemik

Akademisi dari Universitas Madura (Unira) Pamekasan Dr Gazali menilai kebijakan Bupati Badrut Tamam mengharuskan semua kendaraan dinas untuk branding batik tulis itu, akan memiliki dampak sistemik dari segi ekonomi dan sosial.

Dari sisi ekonomi, menurut dia, akan berdampak pada penjualan batik tulis Pamekasan. Apalagi, pemkab tidak hanya mewajibkan semua kendaraan dinas untuk branding batik, akan tetapi juga mengharuskan pada hari-hari tertentu menggunakan seragam batik Pamekasan.

Secara otomatis, sambung Gazali, nantinya juga akan menguatkan persepsi publik bahwa menggunakan batik Pamekasan merupakan sebuah kebanggaan, kendatipun dari sisi harga, batik tulis Pamekasan memang lebih mahal dibandingkan dengan batik dari luar Pamekasan.

“Jadi, apa yang dilakukan Bupati Pamekasan akan menciptakan persepsi bahwa menggunakan batik Pamekasan adalah sebuah gengsi, karena batik Pamekasan dipakai pejabat,” katanya.

Ketua Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Pamekasan ini lebih lanjut menjelaskan, bahwa branding batik tulis Pamekasan melalui mobil dinas juga akan menginspirasi masyarakat.

Buktinya, sejak branding batik melalui mobil dinas diluncurkan pada 7 Januari 2019, saat ini sudah banyak mobil milik pribadi warga yang juga sebagai branding batik tulis Pamekasan.

Dari sisi sosial, branding batik tulis melalui mobil dinas akan menciptakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat, sehingga masyarakat akan memiliki persepsi bangga saat menggunakan batik tulis hasil kerajinan Pamekasan.

Apalagi, sambung Gazali, upaya mempromisikan batik tulis Pamekasan itu bukan hanya dengan mem-branding melalui mobil dinas, akan tetapi Pemkab Pamekasan juga memberikan pembinaan pola pemasaran secara dalam jaringan.

Gazali lebih lanjut menilai, langkah Bupati Pamekasan membantu meningkatkan perekonomian pada usaha kreatif batik tulis merupakan pilihan yang tepat. Hal itu, selain bernilai ekonomi juga bernilai seni.

“Pengembangan ekonomi melalui seni, di beberapa negara sangat bagus dan menunjukkan peningkatan yang signifikan,” katanya.

Sementara itu, para perajin dan pedagang batik tulis di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengaku penjualan batik tulis memang cenderung meningkat, sejak Bupati Pamekasan menggencarkan promosi batik.

Bahkan, peningkatan penjualan batik tulis Pamekasan sudah terjadi, sejak Bupati Badrut Tamam dan wakilnya, Raja’e, masih sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan. Seragam yang digunakan merupakan seragam batik tulis Pamekasan.

“Peningkatan penjualan batik tulis tidak hanya pengguna batik lokal saja, akan tetapi di luar daerah, pesanan batik melalui penjualan online juga meningkat,” kata pedagang batik tulis di Pamekasan, Hamidah.

Upanya mem-branding batik tulis melalui mobil dinas milik Pemkab Pamekasan sebenarnya bukan hanya untuk membantu perajin mempromosikan batik tulis hasil kerajinan mereka. Akan tetapi, juga sebagai penguatan identitas Pamekasan sebagai kota batik. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...