hut

Catatan Akhir Ekspedisi: Incognito (Bukan Blusukan) Pak Harto

Oleh: Mahpudi, MT

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Presiden HM Soeharto seri ke-36 yang kami turunkan ini, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Jenderal Besar HM Soeharto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia. Dan tulisan ini adalah bagian paling akhir dari catatan Incognito Pak Harto.

 Selamat Membaca

Apa Itu Incognito?

Bagi kebanyakan orang istilah Incognito terdengar asing. Tapi tidak bagi penikmat musik jazz. Incognito dikenal sebagai kelompok musik bergenre Jazz-Funk asal Inggris, berdiri sejak tahun 1979, yang menyuguhkan lagu-lagu seperti Crazy for You (1991), Still A Friend of Mine (1993), dan I Can See The Future (1999).

Sebagian orang lain mengingat Incognito sebagai judul sejumlah film, salah satunya diproduksi tahun 1998 sebagai film bergenre crime thriller yang disutradarai John Badham. Film Incognito dibintangi Jason Patrick dan Irene Jacob ini berkisah tentang seorang seniman yang melakukan pemalsuan lukisan Rembrandt dalam balutan drama percintaan dan pembunuhan serta pelarian yang menegangkan.

Mengingat incognito para pengguna komputer mengenalinya sebagai moda dalam Browser Google Chrome. Dengan memanfaatkan Incognito Mode ini halaman-halaman web yang diakses serta file-file yang didownload dari internet tak akan direkam di file History Browser, sementara itu cookies juga akan terhapus begitu pengguna keluar dari browser. Dengan cara demikian berselancar internet (browsing) yang dilakukan benar-benar tak terlihat.

Tiga deskripsi di atas hanya sedikit saja dari gambaran pengenalan publik terhadap istilah incognito. Istilah yang secara sama merujuk pada keadaan tak dikenali, diam-diam, rahasia, tidak formal, ataupun makna-makna sejenisnya.

Menurut kamus Meriam-Webster, kata Incognito berasal dari bahasa Latin Incognitus yang berarti tanpa dikenali. Kata ini diketahui pertama kali digunakan pada tahun 1635. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Incognito diserap menjadi Inkognito yang artinya secara tidak resmi (tidak dikenali; dengan menyamar sebagai orang kebanyakan; dengan menyembunyikan identitas).

Menurut pengertian yang luas, incognito merupakan segala bentuk aktivitas penyamaran, penyembunyian identitas yang dapat dilakukan oleh siapa pun dengan berbagai alasan atau kepentingan.

Dalam penggunaannya, kata Incognito sering disandingkan dengan kata travelling menjadi Travelling incognito yang berarti perjalanan rahasia, di mana sang pejalan menyembunyikan identitas sebenarnya. Pada konteks inilah kita mendapati bahwa kata incognito juga merujuk pada sebuah fenomena, yang pada masa lampau lazim diperlihatkan sebagai bentuk aktivitas seorang penguasa yang secara diam-diam, tak ingin dikenali, melakukan suatu perjalanan ke suatu tempat dengan sifat tidak formal. Pengertian demikian menjadi bentuk definisi yang lebih spesifik dari incognito, yakni perjalanan seorang penguasa secara diam-diam, rahasia, tanpa dikenali, bersifat tidak formal untuk tujuan atau kepentingan tertentu.

Terutama pada abad ke-18, banyak diketahui, para penguasa di Eropa yang melakukan travelling incognito. Biasanya praktik perjalanan rahasia ini dilakukan oleh para raja atau pangeran dengan menyamar sebagai orang biasa yang tidak mendapat perlakuan khusus selama perjalanan tersebut. Raja Frederic II Hohenzollern dari Prusia adalah contoh penguasa yang pernah melakukan incognito ke Prancis dengan menyamar sebagai Count Dufour.

Stanislaw Leszczynski, Raja Polandia yang kehilangan kekuasaannya dalam suatu pertempuran melarikan diri ke Prancis dengan cara “menyamar’ sebagai Count de Lingen. Kaisar Josef II von Habsburg dikenal sebagai penguasa yang gemar melakukan incognito dengan menggunakan nama samaran Count Falkenstein, yang dengan cara demikian ia dapat bepergian untuk menemui para artis, penulis, menonton pertunjukan, atau pun menemui saudaranya Marie Antonine, isteri Luis XVI dari Prancis.

Gustav III, Raja Swedia juga dikenal senang berjalan-jalan dengan cara demikian hingga ke Francis dan Italia dengan menggunakan nama samaran Count de La Haye. Ratu Victoria dari Inggris juga diketahui pernah melakukan perjalanan incognito sebagaimana ditulis oleh koran Sydney Morning Herald pada 22 November 1860.

Perjalanan rahasia yang dilakukan para penguasa di Eropa pada masa itu umumnya dimaksudkan sebagai kegiatan pribadi, seperti menemui kerabat, melarikan diri, atau sekadar memenuhi kepuasan pribadi dengan mengunjungi tempat tertentu, sahabat, atau menghadiri peristiwa tertentu.

Incognito sebagai Modus Kepemimpinan

Menariknya, incognito sebagai aktivitas perjalanan rahasia, ternyata juga dipraktikkan dalam sistem kepemimpinan. Incognito merupakan modus yang dipilih para pemimpin atau penguasa pada Abad Pertengahan untuk berinteraksi langsung dengan rakyat atau pengikutnya. Tak jelas benar, mengapa para pemimpin menyukai modus incognito yang cenderung tidak formal itu. Bisa jadi, lebih karena pertimbangan praktis, yakni tak menimbulkan kerepotan jika dibandingkan perjalanan resmi, interaksi yang dibangun lebih leluasa dan cair, tidak mengandung konsekuensi formal yang bakal membebani kedua belah pihak. Tentu saja, perjalanan rahasia, diam-diam, tak dikenali seperti ini bagi sang pemimpin mengandung nilai sakral atau setidaknya punya kredibilitas tersendiri. Sehingga pemimpin yang melakukannya memandang penting untuk melakukannya dan tetap menjalaninya dengan penuh kesungguhan serta fokus terhadap tujuan.

Salah satu contoh terbaik dari perjalanan rahasia yang dilakukan seorang penguasa sebagai salah satu modus kepemimpinannya datang dari masa Kekhalifahan Islam. Khalifah Umar bin Khattab merupakan pemimpin Islam pasca wafatnya Rasulullah Muhammad SAW yang dikenal sangat peduli dengan nasib rakyatnya. Khalifah Umar, seperti diungkap dalam buku biografinya yang ditulis oleh Muhammad Husin Haekal (2008), terkenal dengan pernyataannya:”Bagaimana saya akan dapat memperhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan?!”

Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar terjadi kelaparan dan wabah penyakit melanda negeri. Pada masa-masa sulit seperti itu Khalifah Umar sering melakukan perjalanan diam-diam berkeliling ke kampung-kampung menyaksikan sendiri keadaan rakyatnya.

Dikisahkan, suatu waktu Khalifah Umar mendapati seorang wanita tua yang tengah memasak. Lalu ia bertanya apa yang sedang dimasak oleh wanita tua itu. Betapa sedihnya Khalifah Umar ketika mengetahui bahwa yang dimasak hanyalah batu, karena tak ada lagi yang bisa dimasak untuk makan. Demi menyaksikan hal itu, Khalifah bergegas ke Baitul Mal guna mengambil sekantong gandum dan bergegas kembali untuk menyerahkannya kepada wanita tua itu.

Kisah heroik seperti ini mengungkap bahwa perjalanan diam-diam sebagai modus kepemimpinan telah dipraktikkan dalam tatanan sosial masyarakat Islam klasik. Incognito bagi Khalifah Umar merupakan modus kepemimpinan yang berfungsi untuk melakukan monitoring dan evaluasi atas problem-problem yang dihadapi komunitasnya, sehingga dengan cara demikian sang pemimpin bisa mengambil keputusan yang tepat dan cepat guna mengatasi problem tersebut. Kelak perjalanan incognito ala Khalifah Umar menjadi elemen penting dari nilai-nilai kepemimpinan ideal dalam masyarakat Islam.

Praktik Incognito di Nusantara

Lalu bagaimana perjalanan Incognito dalam sistem kepemimpinan pada tatanan sosial Indonesia? Secara historis tak diketahui secara pasti apa dan bilamana perjalanan incognito menjadi sebuah modus kepemimpinan dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Namun begitu, perjalanan seorang penguasa untuk mengenali dan memahami keadaan negeri dan kehidupan rakyatnya ternyata terekam pada naskah kuno Negara Kretagama. Naskah yang dikategorikan oleh Slamet Mulyana (2006) sebagai pujasastra ini disusun oleh Mpu Prapanca memberikan banyak informasi tentang Kerajaan Majapahit di Tanah Jawa pada abad ke-14.

Informasi tersebut ditulis di atas daun lontar terdiri atas 98 pupuh. Pada pupuh 17 sampai dengan 60, Sang Mpu menguraikan tentang perjalanan keliling rombongan Dyah Hayam Wuruk dari Majapahit ke Lumajang. Konon, dalam rombongan ini ikut seorang bernama Dharmadyaksa Kasogatan yang menggunakan nama samaran Prapanca, yang kemudian menuliskan catatan atas perjalanan keliling Sang Raja. Slamet Mulyana menyebut bahwa perjalanan keliling ini pada hakikatnya merupakan inti dari isi Negara kertagama. Agak berbeda dengan perjalanan diam-diam Khalifah Umar ke daerah-daerah kekuasannya dilakukan dalam rangka memonitor kehidupan rakyatnya, maka perjalanan Raja Majapahit lebih memperlihatkan sebuah perjalanan wisata rohani.

Tradisi melakukan perjalanan diam-diam oleh penguasa di Nusantara rupanya terus berkembang pada masa-masa berikutnya. Pada periode Kesultanan Mataram diketahui bahwa Sultan Agung ( 1593-1645) sebagai penguasa tanah Jawa kerap melakukan perjalanan diam-diam ke daerah-daerah kekuasaannya. Naskah sastra Jawa kuno Serat Centhini yang disusun oleh tiga orang pujangga Keraton Surakarta atas perintah Sunan Pakubuwana V mengungkapkan informasi tentang bagaimana Sultan Agung melakukan perjalanan incognito:

”Dikatakan bahwa setiap malam Jumat, setelah sepanjang hari menerima keluhan rakyatnya di Pengalaran, Sultan Agung pura-pura undur diri ke kediamannya untuk rebahan di samping ratu, di bawah penjagaan sembilan merak bermata bertaburan bintang. Namun begitu usai shalat magrib, Yang Mulia mengenakan kain putih layaknya pertapa dan menyelinap dari keraton seolah pencuri kuda, berjalan dengan kaki telanjang menuju padepokan di puncak Gunung Telamaya. Di Atas sana, dalam penyamarannya, ia menyebarkan ajaran tentang “ngelmu” dan agama. Tak seorang pun di antara banyak tentara, patih, dan adipati yang naik minta nasihat kepadanya menduga bahwa orang bijaksana yang berpakaian usang dan memberikan nasihat itu adalah raja mereka. Semua berpikir bahwa dia adalah seorang pertapa tulen yang menjandang gelar Sang Aji Nyokrokusuma. Demikianlah penduduk desa sekitar menyebutnya, sebab orang-orang datang dari jauh untuk menemuinya dan meminta nasihat tentang berbagai hal. Beberapa meminta agar mendapat kedudukan terhormat, harta berlimpah atau obat ajaib. Lainnya meminta ilmu keinginan yang murni, kesunyataan hidup, dan kepahlawanan. Sang pertapa menanggapi semua permintaan itu kecuali yang menimbulkan kejahatan. Ketika dua orang saling membenci, ia berupaya merukunkan keduanya dan meluluhkan perbedaan mereka dalam kesatuan ilahi. Semua tamunya ingin mengikatkan diri pada harta benda dan rohani, tak seorang pun minta agar bisa lepas dari dirinya sendiri.” (Tembang 148).

Namun perjalanan incognito yang dilakukan Sultan Agung sesungguhnya dapat dimaknai lebih dari sebuah aktivitas pemenuhan kesenangan diri, perjalanan rahasia tersebut juga merupakan praktik dari modus kepemimpinan yang menjadi bagian dari Gung Binatara, sebuah doktrin kekuasaan Jawa yang telah ditegakkan sejak dibangunnya Kesultanan Mataram oleh Panembahan Senapati pada 1588.

Gung Binatara, sebagaimana dipaparkan oleh G. Moedjanto dalam bukunya Konsep Kekuasaan Jawa; Penerapannnya oleh Raja-Raja Mataram (1987), merupakan sebuah doktrin kekuasaan yang intinya adalah pengakuan bahwa raja itu agung binathara, bahu dhendha nyakrati, berbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta (besar kuasa laksana kekuasaan dewata, pemelihara hukum dan penguasa dunia, meluap budi luhur mulianya, dan bersikap adil terhadap sesama). Secara singkat kekuasaan yang agung itu ditandai oleh: 1) wilayah kerajaan yang sangat luas; 2) Daerah atau kerajaan taklukan memperlihatkan kepatuhan dengan barang persembahan yang disampaikan oleh raja taklukan; 3) kesetiaan para bupati dan punggawa dalam menunaikan tugas kerajaan serta kehadiran mereka dalam paseban yang gelar pada hari-hari tertentu; 4) kebesaran dan kemeriahan upacara kerajaan dan banyaknya pusaka dan perlengkapan yang tampak dalam upacara; 5) kekayaan yang dimiliki raja, gelar-gelar yang disandangnya dan kemasyhuran yang diperolehnya; 6) seluruh kekuasaan ada di tangannya, tiada tertandingi.

Dalam doktrin ini diungkapkan bahwa raja berkuasa secara utuh, tidak terbagi-bagi atau terkotak-kotak, dengan tugas utama sang Raja adalah Njaga tata tentreming praja (menjaga supaya masyarakat tertib teratur-sejahtera terpelihara). Dengan kata lain, kekuasaan yang absolut yang dimiliki raja harus diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyatnya. Sebaliknya agar raja dapat melaksanakan tugasnya, rakyat harus patuh menjalankan kewajiban-kewajibannya. Dalam kerangka demikian dikenal prinsip Jumbuhing kawula-gusti (bertemunya rakyat dengan raja), yakni keadaan dimana keharmonisan relasi antara raja dan rakyatnya dalam mewujudkan tugas dan kewajiban masing-masing berhasil dibangun. Setiap penguasa memerlukan berbagai metode dan pendekatan agar prinsip ini dapat diwujudkan.

Pada titik inilah, perjalanan incognito menjadi salah satu metode yang diaplikasikan oleh raja-raja Jawa dalam menjalankan prinsip pertemuan rakyat dan rajanya. Sang raja secara diam-diam keluar dari keraton, tanpa dikenali, mendatangi rakyatnya dan berinteraksi tentang berbagai hal. Kisah Sultan Agung yang melakukan incognito dengan menyamar menjadi pertapa sebagaimana dikisahkan dalam Serat Centhini dapat dibaca dengan perspektif ini.

Incognito Para Pemimpin Indonesia

Incognito boleh jadi sudah merupakan barang langka dalam setting kepemimpinan masa kini. Meski, ada beberapa tokoh mencoba melakukannya, namun lebih terkesan sebagai sebuah praktik Public Relations semata. Padahal, incognito merupakan sebuah modus kepemimpinan sakral dan diperlakukan semata-mata untuk tujuan paling esensial yakni membangun hubungan emosional antara pemimpin dengan yang dipimpin melalui pertemuan langsung yang bersifat informal. Namun begitu, ada sejumlah pemimpin bangsa Indonesia diketahui menjalankan incognito, baik dalam pengertian yang luas maupun spesifik.

Bung Karno termasuk pemimpin bangsa Indonesia yang aktif melakukan incognito. Semasa menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno sering diam-diam mengunjungi pasar-pasar atau tempat-tempat umum di kota Jakarta untuk mengetahui apa yang menurut istilahnya “umyeke wong nggolek pangan” (kesibukan orang mencari nafkah). Mangil Martowidjojo, Komandan Detasemen Kawal Presiden (DKP), menceritakan dalam buku Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967 (1999) bahwa Bung Karno sering melakukan incognito di seputar Jakarta.

“Malam hari pun Bung Karno pernah pergi ke daerah Senen, daerah Planit (kawasan pelacuran tempo dulu), dan Bung Karno jalan mendekati gerbong-gerbong kereta api yang ditempati oleh orang-orang yang tidak punya tempat tinggal. Di sini malahan Bung Karno sempat bercakap-cakap dengan para gelandangan tersebut, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak lama kemudian ada seorang perempuan yang berkata dengan keras, ‘ Lho itu kan suara Bapak? Itu Bapak ya..?’ yang mengundang orang-orang datang mengerumuni Bung Karno,” kata Mangil.

Dalam buku biografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1977), kepada penulisnya Bung Karno menceritakan kebiasaannya melakukan incognito. ”Pakaian seragam dan peci hitam merupakan tanda pengenalku. Akan tetapi adakalanya kalau hari sudah malam menukar pakaian, sandal, pantalon, dan kalau hari terlalu panas aku hanya memakai kemeja. Dan dengan kacamata hitam berbingkai tanduk rupaku lain sekali. Aku dapat berkeliaran tanpa dikenal orang dan memang kulakukan. Ini kulakukan kerena ingin melihat kehidupan ini. Aku adalah kepunyaan rakyat, aku harus melihat rakyat, aku harus mendengar rakyat dan bersentuhan dengan mereka. Perasaanku akan tenteram kalau berada di antara mereka. Ia adalah roti kehidupan bagiku. Kudengar percakapan mereka, kudengar mereka berdebat, kudengar mereka berkelakar dan bercumbu kasih. Dan aku merasakan kekuatan hidup mengalir ke seluruh batang tubuhku.”

Pemimpin bangsa lainnya yang juga sering melakukan perjalanan incognito adalah Sultan Hamengkubuwono IX dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga pernah menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Sebagai penerus dari tradisi kekuasaan Kesultanan Mataram, Sultan Hamengkubuwono IX tentu menghayati benar praktik incognito sebagai bagian dari doktrin Gung Binatara dalam sistem kepemimpinannya. Sejumlah sumber mengungkapkan bahwa Sultan sering melakukan incognito bertemu dengan rakyat di wilayah kekuasaannya.

Dalam buku Tahta untuk Rakyat yang berisi kumpulan tulisan tentang Sultan, seorang tokoh nasional S.K. Trimurti bercerita tentang kebiasaan Sultan yang kerap melakukan perjalanan dengan mengendarai mobilnya sendiri kemana pun pergi. Dari kebiasaan tersebut kisah ini bermula. Suatu ketika Sultan mengunjungi salah satu abdi dalem Keraton di Kinahrejo, yang tidak lain adalah Mas Panewu Surakso Hargo alias Mbah Maridjan, kuncen Gunung Merapi. Pada saat perjalanan pulang kembali ke keraton, di sekitar jalan Kaliurang mobilnya dihentikan oleh seorang ibu yang membawa beberapa karung dagangan. Beliau pun menghentikan mobilnya. Rupanya sang ibu meminta tumpangan untuk membawa dagangan ke Pasar. Sultan lalu turun dan membantu menaikkan karung-karung dagangan sang Ibu. Jeep segera meluncur ke tujuan ibu yakni Pasar Kranggan-Tugu, Yogyakarta. Setibanya di pasar, beliau kembali ikut menurunkan karung-karung tersebut. Dengan sopan kemudian beliau pamit pergi. Ibu yang menumpang segera mengeluarkan uang untuk membayar tumpangannya, namun dengan halus beliau menolak. Tentu saja ini membuat ibu tadi merasa heran campur jengkel karena dikiranya pemilik jeep hendak meminta upah lebih. “Dasar, sopir aneh, gak butuh duit, mau dibayar kok tidak mau,” begitu kira-kira. Seorang polisi yang berada di dekat kejadian dan mengenali jatidiri sopir Jeep mendekati sang ibu lalu memberitahu bahwa sopir jeep yang ditumpangi adalah Sultan Hamengkubuwono IX, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Betapa terkejutnya ibu tadi.

Incognito Pak Harto

Jenderal Soeharto, pengemban ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966 pada Sidang Umum V MPRS 27 Maret 1968 secara resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia. Pelantikan tersebut sekaligus menandai era baru pemerintahan Indonesia pasca kemelut nasional akibat kudeta yang gagal oleh Partai Komunis Indonesia melalui Gerakan 30 September (G30S/PKI) pada 1965. Era baru yang kemudian dikenal sebagai Orde Baru bercirikan pada tiga hal yakni; a) integrasi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia melalui pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, b) pengarusutamaan pembangunan sebagai jalan utama mewujudkan cita-cita kemerdekaan, c) mengedepankan militer sebagai pemain utama dalam kehidupan bernegara melalui penerapan doktrin dwifungsi ABRI dan penyederhanaan partai politik.

Pak Harto, demikian panggilan akrab Jenderal Soeharto, segera bekerja sunggguh-sungguh untuk memimpin bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaannya. Salah satu bentuk kesungguhan yang dilakukannya adalah menetapkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) pada 1 April 1969, sebuah langkah nyata dalam mengarusutamakan (mainstreaming) pembangunan sebagai jalan utama mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945.

Satu tahun kemudian, tepatnya pada 6 April 1970 Pak Harto memulai perjalanan bersejarah untuk menemui rakyatnya terutama di wilayah Jawa. Seperti yang termuat dalam salah satu dokumentasi, perjalanan dimaksudkan untuk menyerap aspirasi dan informasi langsung dari rakyat tentang kebutuhan dan harapan mereka serta mengetahui langsung apakah program-program pembangunan yang ditetapkan dapat dijalankan dengan lancar dan baik.

Hal yang menarik, perjalanan Pak Harto ini dilakukan tanpa protokoler resmi, dilaksanakan secara diam-diam, tanpa pengawalan yang ketat, dan menggunakan kendaraan biasa. Perjalanan ini sebenarnya tak sepenuhnya bersifat rahasia dan Pak Harto tak menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Presiden. Pak Harto pergi bersama satu rombongan kecil dengan menggunakan sebuah kendaraan minibus Toyota Hi-Ace produksi Jepang tahun 1970 yang telah dimodifikasi bagian interiornya agar nyaman bagi Pak Harto. Mobil tak dilengkapi dengan mesin pendingin ruangan (air conditioning), sebagai gantinya dipasang kipas angin kecil. Dalam mobil itu selain sopir dan Pak Harto ikut pula Eddi Nalapraya (saat itu Komandan Kawal Presiden) tanpa mengenakan seragam resmi serta Bardosono (saat itu menjabat Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan) dan Tjokropranolo (saat itu menjabat Sekretaris Militer dan Asisten Pribadi Presiden) Ada sejumlah wartawan yang ikut dalam perjalanan tersebut, mereka menggunakan kendaraan sejenis yang mengikuti di belakang kendaraan Pak Harto. Sementara itu dua kendaraan Jeep yang berisi sejumlah pengawal mengikuti dari belakang dengan berjarak secara cukup untuk tidak memperlihatkan seperti sebuah iring-iringan besar yang menarik perhatian. Dalam rombongan yang terpisah inilah selain pengawal presiden juga ikut serta petugas pendukung dari kesekretariatan negara serta aneka perbekalan yang digunakan selama dalam perjalanan.

Penampilan Pak Harto selama perjalanan tidak berbeda dan tidak berusaha menyembunyikan jatidiri. Pakaian safari yang menunjukkan dirinya sebagai pejabat pemerintah dikenakan selama perjalanan. Pada kondisi tertentu, ketika dalam perjalanan Pak Harto mengenakan baju batik. Topi dan kacamata hitam menjadi perlengkapan yang tak pernah dilewatkan. Pada saat tertentu, seperti ketika berjalan kaki melintasi sawah atau daerah yang terjal Pak Harto menggunakan tongkat.

Dalam setiap perjumpaan dengan penduduk, Pak Harto memperkenalkan diri sebagai Presiden Mandataris MPRS. Bahkan ada cerita lucu ketika Pak Harto di jalan bertemu dengan sejumlah penduduk yang ternyata tidak mengenali dirinya, lalu dengan ramah Pak Harto meminta penduduk menebaknya. Tetap saja mereka tak mengenalinya. Akhirnya Pak Harto memperkenalkan diri bahwa dirinya adalah Soeharto, Presiden RI pengemban mandat MPRS.

Perjalanan sebenarnya lebih bersifat tidak resmi alias tanpa protokol resmi kenegaraan. Ketika berada di suatu provinsi Pak Harto didampingi oleh gubernur setempat, namun dalam format informal. Tentang keikutsertaan gubernur dalam incognito Solihin GP, Gubernur Jawa Barat mengisahkan kepada penulis bahwa sutau ketika dirinya mendapat bocoran dari rekan-rekan di Jakarta bahwa pada hari-H Pak Harto akan melakukan perjalanan diam-diam ke wilayahnya dengan menggunakan kendaraan Toyota Hi-Ace. Segera Mang Ihin, demikian panggilan akrab Solihin, menuju jalur Pantura yang hendak dilalui. Mang Ihin menunggu di tepi jalan. Begitu kendaraan itu tiba Mang Ihin pun menyetop kendaraan. Betapa terkejutnya Pak Harto;”Lho, kok kamu tahu?” demikian Mang Ihin mengingat kalimat pertama Pak Harto. Mang Ihin kemudian menjelaskan bahwa dirinya bakal tahu kedatangan Pak Harto ke daerahnya. “Ya sudah, kamu ikut,” pungkas Pak Harto.

Pendampingan oleh gubernur Munadi juga dilakukan ketika Pak Harto mengunjungi wilayah Jawa Tengah, Sri Paku Alam IX ketika berada di Yogyakarta, serta Mohammad Noer ketika di Jawa Timur. Agak berbeda dengan Solihin GP yang mendampingi Pak Harto selama incognito di seluruh wilayah Jawa Barat, ketiga gubernur tersebut memang tidak mendampingi sepanjang perjalanan, mereka bersama Pak Harto hanya di beberapa lokasi incognito. Pada kesempatan tertentu, Tritunggal kepemimpinan daerah (Bupati, Komandan Rayon Militer , dan kepala Kepolisian) juga dilibatkan. Namun pada kesempatan lain, Pak Harto justru menghindarkan diri dari perjumpaan dengan para pejabat Pemerintah suatu daerah. Solihin mengungkapkan bahwa ketika Pak Harto berada di rumah makan Sindangheula-Cianjur, menunggu sajian santap siang dihidangkan dirinya menghubungi Pangdam Siliwangi Witono namun tidak memberi tahu bahwa disana ada Pak Harto. Solihin meminta Witono agar segera ke rumah makan yang disambut dengan senang hati. Betapa terkejutnya Witono begitu tiba di rumah makan tersebut Solihin ternyata tidak sendiri.

Demikian pula ketika Solihin GP tengah menunggu kedatangan rombongan Incognito di perbatasan Jawa Tengah- Jawa Barat bagian selatan, ia mengajak bupati Ciamis. Sang bupati terheran-heran dan bertanya siapa yang sedang ditunggu sang gubernur. Solihin GP menjawab: “yang ditunggu itu Ahli Bimas”. Betapa terkejutnya sang bupati ketika rombongan tiba, ia baru mafhum yang dimaksud Solihin dengan Ahli Bimas adalah Presiden Soeharto.

Dikisahkan oleh Subianto, petugas yang menyiapkan sarana kendaraan bagi rombongan incognito Pak Harto, ketika sampai di suatu daerah betapa kaget Pak Harto demi menyaksikan sepanjang jalan utama dihiasi oleh umbul-umbul yang menyiratkan suasana penyambutan layaknya kunjungan resmi seorang pejabat. Pak Harto mengintruksikan supir untuk memghentikan kendaraan, lalu menugasi Subianto untuk melakukan investigasi siapa yang disambut dengan umbul-umbul itu. Hasil investigasi menyatakan bahwa umbul-umbul tersebut dipasang dalam rangka menyambut kunjungan gubernur setempat. Demi melihat hal tersebut, Pak Harto memerintahkan rombongan untuk menghindar dan memilih jalan alternatif agar tidak mengganggu acara resmi sang gubernur di daerah tersebut.

Perjalanan mengunjungi sejumlah wilayah di pulau Jawa tahun 1970 merupakan incognito pertama kali dilakukan Pak Harto sebagai presiden. Incognito tahun 1970 merupakan perjalanan Pak Harto yang cukup panjang, membentang dari ujung barat yakni Banten hingga ujung timur pulau Jawa yakni Banyuwangi plus istana kepresidenan Tampaksiring, Bali. Perjalanan berlangsung dalam dua etape yakni; A) Etape pertama berlangsung selama 6 hari (6-11 April 1970) dengan rute Jakarta-Subang-Inrdamayu- Jatiwangi- Tegal- Purwokerto- Ciamis- Tasikmalaya – Garut – Bandung- Cianjur- Sukabumi. B) Etape kedua berlangsung selama 7 hari (21-27 Juli 1970) dengan rute Yogyakarta-Purworejo-Magelang- Klaten- Surakarta- Wonogiri- Pacitan-Ponorogo- Ngawi- Bojonegoro-Gresik- Jombang-Pasuruan- Jember- Banyuwangi- Tampaksiring, Bali.

Selama perjalanan tersebut Pak Harto mengijinkan fotografer resmi Sekretariat Negara untuk mengikutinya. Salah satu fotografer yang mengikuti perjalanan ini adalah Arief Anwar, Staf Ajudan Presiden RI Pelaksana Foto Dokumentasi Khusus. Hasilnya, tidak kurang dari 12 album foto yang merekam peristiwa – peristiwa perjalanan incognito menjadi dokumen sejarah tak terbantahkan tentang peristiwa dimaksud. Dari album foto itu pula dapat diketahui maksud dan tujuan dilaksanakannya perjalanan incognito dan lokasi-lokasi serta siapa saja yang dikunjungi selama perjalanan termaksud. Album-album tersebut hingga kini terawat dengan baik di Perpustakaan Museum Purnabhakti Pertiwi-Jakarta.

Berdasarkan foto dokumentasi yang tersedia, dapat dikemukakan bahwa setidaknya ada empat perjalanan diam-diam yang dilakukan Pak Harto selama kurun waktu 1970-1973. Seluruhnya dilakukan di Pulau Jawa, tiga perjalanan dengan jarak yang panjang (melintasi dua-tiga provinsi), serta satu perjalanan pendek (di sekitar Ibukota Jakarta). Ada sejumlah informasi yang mengungkapkan bahwa perjalanan Incognito juga dilakukan di luar Jawa. Untuk hal yang terakhir ini, Sudjarwo, wartawan senior Antara mengungkapkan bahwa Pak Harto antara lain pernah melakukan incognito di 10 kabupaten dalam Provinsi Irian Jaya.

Perjalanan incognito Pak Harto juga diabadikan oleh sejumlah media massa yang saat itu ikut dalam rombongan. Film dokumenter, radio, serta berita perjalanan tersebut menjadi pelengkap atas foto-foto perjalanan bersejarah tersebut. Hanya saja, pada masa Pak Harto masih menjadi Presiden dokumentasi tersebut memang tak mudah diakses karena Pak Harto tidak menghendaki publisitas yang berlebih atas perjalanan incognito yang dilakukannya.

Pattirajawane, wartawan senior dari Antara pernah bertutur kepada Alwi Shahab yang menuliskannya dalam catatan kenangannya tentang perjalanan mengikuti incognito Pak Harto tersebut: “Pada pertengahan tahun 1970-an, almarhum Presiden Soeharto kerap mengadakan kunjungan diam-diam (incognito) ke desa-desa. Rombongan incognito Pak Harto ketika itu tidak lebih dari tiga kendaraan — termasuk ajudan dan pengawal presiden. Begitu rahasianya kunjungan diam-diam itu hingga dilakukan tanpa memberitahukan kepada para menteri,apalagi pejabat daerah setempat. Pak Harto ingin mendapat informasi langsung dari sumber pertama, rakyat yang diajaknya berdialog. Pattirajawane mengingat bahwa perjalanan tersebut rahasia dan tak boleh seorang pun tahu. Juga istri dan kantor, tidak boleh tahu. Dituturkan oleh Patti dalam kunjungan ini Pak Harto mengaku sebagai Pak Mantri. Dalam perjalanan Pak Harto sering berhenti dan berdialog dengan para pedagang di pasar dan petani di persawahan. Di suatu tempat ternyata penyamaran Pak Harto sebagai Pak Mantri ada yang mengetahui. Padak kesempatan lain, Ketika berada di Cilacap, Jawa Tengah, saat meninjau SD Inpres, Pak Harto rupanya melihat ketidakberesan pembangunan gedung sekolah yang disubsidi pemerintah itu. Ia menendang dinding sekolah dengan sepatunya dan ternyata dinding itu ambruk.‘’Siapa anemer (pemborong) bangunan ini?’’ tanyanya sambil sekali lagi menendang dinding yang keropos. Dia minta agar pihak pemborong bertanggung jawab terhadap bangunan tersebut.

Solihin GP menuturkan bahwa ketika perjalanan incognito Pak Harto sampai di daerah Linggar, Rancaekek, Bandung Pak Harto tertarik dengan gudang pupuk milik PN Pertani yang ada di tepi jalan raya. Rombongan pun berhenti dan Pak Harto turun memeriksa. Pak Harto kesal menyaksikan ketidakberesan dalam pengelolaan gudang pupuk itu. Pak Harto mencoba menahan amarahnya. Lalu ia memerintahkan dengan menggunakan radiogram kepada Menteri Pertanian Ir. Thoyib Hadiwijaja dan Direktur Jenderal Pertanian, Sekretaris Pengendalian Bimas, dan Direktur PN Pertani agar secepatnya datang ke Rancaekek untuk memeriksa keadaan itu dan melaporkan hasil kepadanya.

Apa yang dikisahkan oleh Pattirajawane maupun Solihin GP sedikit memberikan gambaran tentang aktivitas yang dikerjakan Pak Harto ketika melakukan incognito. Tentu saja, perjalanan incognito tahun 1970 memiliki makna tersendiri bagi Pak Harto. Dalam perjalanan tersebut hampir seluruh wilayah pulau Jawa dijelajahinya, berbagai kelompok masyarakat ditemui, tak sedikit pejabat pemerintah setempat diajaknya bicara, dan berbagai proyek pembangunan ditinjau. Aktivitas yang beragam itu dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Memeriksa proyek-proyek pembangunan.

Seperti diungkap sebelumnya tujuan eksplisit dari perjalanan incognito Pak Harto adalah dalam rangka memeriksa proyek-proyek pembangunan yang pada saat itu baru saja diluncurkan. Pada etape pertama misalnya Pak Harto antara lain mengunjungi proyek perbaikan saluran irigasi di Rambatan Wetan, Indramayu, Jawa Barat maupun Proyek Pembuatan bendungan Tajum di Banyumas, Jawa Tengah. Kedua proyek ini memang merupakan bagian penting dari implementasi Repelita I utamanya di bidang pembangunan pertanian yang telah dicanangkan Pak Harto sebelumnya. Pada etape kedua, intensitas kunjungan ke sejumlah proyek pembangunan sangat terasa. Umumnya proyek yang ditinjau adalah proyek-proyek infrastruktur pertanian baik perbaikan saluran irigasi seperti saluran irigasi Kali Bawang- Kulon Progo, Yogyakarta maupun penyiapan bendungan seperti di Gajah Mungkur dan Nawangan di Wonogiri.

b. Silaturahmi dengan tokoh masyarakat.

Hampir di setiap lokasi yang dikunjungi Pak Harto senantiasa menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh masyarakat, utamanya para kyai dan ulama di sejumlah pesantren. Pada etape pertama, tercatat Pak Harto bersilaturahmi dengan ulama pemimpin pondok pesantren Tegalkubur dan Pesantren Babakan di Lebaksiu-Tegal, Darussalam-Cidewa Ciamis, pesantren Darul Falah-Cianjur, dan pesantren Masturiyah Tipar, Sukabumi. Sementara pada etape kedua Pak Harto bersilaturahmi dengan pemimpin sejumlah pondok pesantren seperti Bahrul ulum, Darul Ulum, Denanyar, dan Tebu Ireng di Jombang, serta Pesantren Gontor di Ponorogo.

Pada kesempatan berkunjung ke pesantren sering kali Pak Harto juga berbicara di depan para santri, seperti yang dilakukan di Babakan Lebaksiu, Darul Ulum Jombang dan Gontor-Ponorogo.
Tak hanya tokoh masyarakat yang berlatar ulama yang dikunjunginya tapi juga tokoh-tokoh dengan latar belakang spiritual seperti di lurah Antiko di Warung kondang, Cianjur, Lurah Soeharto di Dolopo dan Kasman di Wringin Telu.

Hampir pada setiap kunjungan ke pesantren Pak Harto meninggalkan jejak berupa bantuan pembangunan asrama untuk para santri maupun perbaikan mesjid di lingkungan pesantren. Termasuk ketika Pak Harto singgah ke Masjid Raya Klaten, Jawa Tengah yang saat itu tengah dalam proses pembangunan.

c. Menjaring aspirasi rakyat dan menasihati pejabat setempat

Dalam perjalanan Pak Harto kerap sengaja berhenti dan singgah ke rumah-rumah penduduk yang ada di tepi jalan, memasuki gang, atau menyapa penduduk yang sedang melakukan aktivitas baik di pasar dan di tempat penggilingan padi, di pabrik, maupun tempat-tempat lainnya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Pak Harto untuk berbincang-bincang dengan mereka, bertanya tentang permasalahan hidup yang dihadapi atau keluhan-keluhan lainnya.

Pada bagian lain, pak Harto juga memanfaatkan incognito untuk bertemu dan bebincang-bincang dengan pejabat-pejabat setempat. Tak jarang Pak Harto ikut berdiskusi dengan seorang kepala desa yang tengah memimpin rapat di balai desa, berdialog dengan pemimpin proyek pembangunan, atau mengumpulkan para pejabat setempat di pendopo. Pada kesempatan lain Pak Harto memberikan nasihat tentang bagaimana menjalankan amanah sebagai seorang pemimpin yang efektif. Pak Harto juga menyempatkan berbicara dengan para peserta pelatihan kader pembangunan desa di Banyuwangi.

Hal yang menarik, pada etape pertama dalam menjaring aspirasi rakyat dan pejabat setempat Pak Harto kerap memanfaatkan pertunjukan film penyuluhan sebagai media komunikasinya. Seperti yang dilakukan di Tambi, Indramayu dan Lebaksiu-Tegal. Pada masa itu pertunjukan film layar tancap adalah hiburan istimewa yang mampu menyedot perhatian masyarakat untuk datang dan berkumpul. Sebelum film diputar Pak Harto menyampaikan pesannya di hadapan mereka, terutama mengenai pentingnya persatuan bangsa dan pembangunan nasional. Bahkan di Tambi masyarakat diajaknya terlebih dahulu menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum film diputar. Agaknya pemutaran film tidak digelar pada etape kedua. Pada beberapa tempat Pak Harto justru dihibur dengan pertunjukan kesenian khas dari daerah tersebut, seperti ketika bermalam di Cipanas- Garut, Wringin Telu- Jember, dan Tapanrejo- Banyuwangi.

d. Nostalgia dengan sahabat atau kerabat

Sebagai seorang anak desa Pak Harto juga punya ikatan yang kuat dengan kampung halaman atau pun sanak kerabat dan kawan-kawan dari masa silam. Dalam beberapa kesempatan perjalanan incognito menjadi sebuah perjalanan nostalgia, terutama ketika Pak Harto pada etape kedua mengunjungi Wuryantoro- Wonogiri, Jawa Tengah. Daerah yang berada di tepian Waduk Gajah Mungkur ini merupakan tempat Pak Harto menghabiskan masa kecil dengan ikut kepada bibinya yang bersuamikan seorang mantri tani. Kelak Pak Harto mengakui betapa banyak pelajaran hidup yang diperolehnya selama tinggal di Wuryantoro.

Bertemu dan bernostalgia dengan sahabat juga dilakukannya ketika Pak Harto singgah di Lebaksiu-Tegal dan Pesantren Tremas-Pacitan. Pada kedua tempat ini Pak Harto bertemu kembali dengan kawan-kawan lama ketika bergabung penjadi pejuang kemerdekaan RI. Bahkan ketika di Pacitan Pak Harto juga menyempatkan untuk kembali mengenang rute perang gerilya yang pernah ditempuhnya ketika menemui Panglima Soedirman yang bermarkas di Pakis Baru, Pacitan.

Hal yang tak kalah menariknya dari perjalanan Incognito menyangkut kendaraan, logistik-perbekalan, tempat menginap atau beristirahat, dan keamanan. Keempat hal ini bagaimana pun memiliki arti penting bagi keberhasilan sebuah perjalanan incognito. Terlebih faktor keamanan menjadi sangat penting, mengingat pada tahun 1970-an Indonesia baru saja reda dari ketegangan yang ditimbulkan oleh Pemberontakan G30S/PKI. Sementara kondisi jalanan maupun tempat yang dilintasi tidak dijamin keamanannya.

Kendaraan yang dipilih Pak Harto untuk melakukan perjalanan incognito tahun 1970 adalah minibus merek Toyota seri Hi-Ace buatan tahun 1970 warnanya putih dengan nomor kendaraan B1314M. Tentu saja ini bukanlah kendaraan resmi kepresidenan waktu itu. Sebelum melakukan perjalanan kendaraan tersebut bagian interiornya dimodifikasi sedemikian rupa sehingga ruangan dalamnya nyaman untuk Pak Harto duduk, termaasuk dipasangi meja kerja yang berukuran kecil pada bagian tengah. Meski begitu Pak Harto konon lebih suka duduk depan bersama supir. Kendaraan tidak memiliki pendingin ruangan (AC) dan sebagai penggantinya pada bagian depan terdapat kipas angin. Kendaraan ini digunakan Pak Harto baik ketika menempuh etape pertama maupun etape kedua.

Rombongan lain yang mengikuti perjalanan incognito menggunakan kendaraan yang sama Toyota seri Hi-Ace, juga berwarna putih dengan nomor kendaraan B1489M. Dalam kendaraan ini terdapat rombongan wartawan dan beberapa petugas.

Kendaraan pendukung lain mengikuti dari jarak yang cukup jauh, berupa jeep yang ditumpangi oleh tim perbekalan maupun teknisi kendaraan. Subianto, salah seorang anggota rombongan yang bertugas mempersiapkan kendaraan mengingat bahwa selama perjalanan tak ada kendala yang berarti dari mobil yang digunakan. Untuk pengisian bahan bakar biasanya dilakukan di pompa-pompa bensin umum yang ada di beberapa titik perjalanan, namun kadangkala pengisian dilakukan di tepi jalan dengan menggunakan jerigen dari persediaan yang dibawa terpisah.

Logistik perbekalan yang disiapkan untuk perjalanan tidaklah merepotkan. Pada etape pertama, untuk kebutuhan makan pagi, makan siang, maupun makan malam diperoleh dari jamuan penduduk setempat. Sajian tersebut tentu seadanya, terkadang sebatas nasi dengan pecak lele dan sayur jantung pisang, pada kesempatan lain bisa sebatas sayur lodeh dan tempe. Pada beberapa tempat seperti di Cianjur dan Sukabumi kebutuhan makan siang dipenuhi dengan singgah di rumah makan yang terdapat di tepi jalan raya.

Pada etape kedua, selain menggunakan pola yang sama yakni mengandalkan jamuan dari tuan rumah, kebutuhan makan rupanya sudah disiapkan dalam bentuk perbekalan yang dikemas dalam rantang namun dengan menu yang tetap sederhana. Tak jarang Pak Harto menyantap perbekalan itu di tepi jalan bersama-sama dengan seluruh anggota rombongan.

Tempat beristirahat atau menginap selama perjalanan tidaklah bersifat khusus. Pak Harto memilih untuk menginap di mess proyek, rumah kepala desa, mess tentara, penginapan murah, ataupun rumah seorang penduduk biasa. Hanya saat tiba untuk memulai etape kedua, Pak Harto menginap di Gedung Negara –Yogyakarta dan ketika mengakhiri perjalanan incognito di Istana Kepresidenan Tampaksiring-Bali. Tempat beristirahat yang dipilih selain rumah makan di tepi jalan adalah pondok pesantren dan tepi pantai (di Tamperan-Pacitan). Yang menarik, Pak Harto sempat menghentikan rombongan di tepi jalan di perbatasan Jawa Barat- Jawa Tengah hanya untuk melepas lelah dan buang air kecil.

Makna dan Posisi Kesejarahan Incognito Pak Harto

Ada tiga makna yang dapat dipetik dari perjalanan incognito Pak Harto. Pertama, Incognito merupakan cara Pak Harto sebagai seorang pemimpin negara dan bangsa Indonesia membangun jumbuhing kawula gusti dengan menggunakan cara yang telah menjadi tradisi para penguasa Nusantara sebelumnya. Pak Harto sadar bahwa sebagai seorang pemimpin dari sebuah negara yang baru saja melewati masa-masa penuh guncangan perlu menciptakan keseimbangan dan keharmonisan semesta dari negeri yang dipimpinnya. Usaha menciptakan keharmonisan ini bagi Pak Harto terasa mendesak mengingat salah satu amanat Orde Baru adalah mewujudkan integrasi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia melalui pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pak Harto paham betul bahwa metode yang efektif untuk menciptakan keharmonisan dalam rangka mewujudkan integrasi bangsa adalah dengan bertemu langsung dengan rakyat dan berbicara secara personal dari hati ke hati, utamanya dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan rakyatnya secara eksplisit Pak Harto menyatakan maksud kedatangannya adalah dalam rangka menyatukan kembali bangsa Indonesia, mengajak rakyat bersatu padu untuk bersama Pemerintah membangun negara.

Kedua, incognito juga merupakan metode yang dipilih Pak Harto untuk memperoleh dukungan bagi pemerintahannya. Dalam bahasa Sutopo, seorang budayawan dari tepi Candi Borobudur, incognito yang dilakukan Pak Harto adalah menyerap energi spiritual yang tersebar di tingkat lokal di berbagai penjuru wilayah kekuasannya. Tak dapat dipungkiri, perjalanan incognito juga bermuatan politis guna menggalang dukungan tokoh-tokoh masyarakat. Ini diakui oleh sejumlah tokoh masyarakat, utamanya para ulama, yang bertemu langsung dengan Pak Harto. Dalam hal mana Pak Harto secara terbuka meminta dukungan mereka bagi usahanya menjalankan tugasnya sebagai pengemban mandataris MPRS.

Ketiga, incognito dibawa Pak Harto ke ranah manajemen modern sebagai salah satu bentuk instrumen monitoring & evaluasi suatu program pembangunan. Fenomena ini bisa jadi tergolong baru, mengingat incognito pada umumnya hanya dimanfaatkan oleh penguasa untuk sebatas membangun relasi yang harmonis antara dirinya sebagai penguasa dengan rakyatnya, kini di tangan Pak Harto menjadi sebuah perangkat manajemen pembangunan. Secara eksplisit Pak Harto menyatakan bahwa incognito yang dilakukan adalah dalam rangka menyaksikan langsung bagaimana program pembangunan yang saat itu sudah diputuskan dilaksanakan di lapangan. Kunjungannya secara khusus ke proyek-proyek irigasi di sepanjang rute perjalanan menjadi bukti bahwa incognito memang perangkat monitoring dan evaluasi program –program pembangunan. Demikian pula keputusannya untuk memerintahkan menteri dan pejabat terkait untuk segera bertindak atas ketidakberesan pengelolaan gudang pupuk di Rancaekek, Bandung.

Sebagai instrumen manajemen pembangunan incognito dilakukan Pak Harto tak hanya sekali pada tahun 1970. Pada tahun – tahun berikutnya, Pak Harto secara rutin menggelar incognito. Kesaksian Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden RI yang juga pernah menjadi ajudan Pak Harto menuturkan bahwa pada tahun 1974 Pak Harto masih melakukan perjalanan incognito ke sejumlah daerah. Sementara Sudjarwo, mantan wartaman LKBN Antara yang sering mengikuti perjalanan incognito menuturkan bahwa Pak Harto juga melakukan hal yang sama ke luar Jawa antara lain ke sejumlah kabupaten di provinsi Irian Jaya.

Incognito Pak Harto tahun 1970 adalah implementasi nyata dari seorang tokoh Orde Baru dalam menjalankan doktrin-doktrin Orde Baru. Incognito juga memiliki pengaruh bagi Pak Harto dalam melakukan pengambilan keputusan sebagai Presiden. Tak berlebihan kiranya bila perjalanan incognito tahun 1970 hendaknya diposisikan sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia, khususnya ketika memahami sejarah awal pemerintahan Orde Baru.***

Lihat juga...