Cegah Kenakalan Remaja, Anies Dukung Maghrib Mengaji

Editor: Satmoko Budi Santoso

305

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menuturkan, mendukung penuh kegiatan program Maghrib Mengaji untuk mencegah kenakalan remaja yang diadakan Pemerintah Kota Jakarta Selatan.

“Secara moral, semua kegiatan baik pantas didukung, kegiatan tarik tambang kami dukung, ya kan? Artinya, secara moral yang baik-baik, didukung,” kata Anies di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (11/1/2019).

Program itu memang bukan termasuk instruksi Anies. Orang nomor satu di Ibu Kota Jakarta itu terus mendukung penuh kegiatan tersebut demi terciptanya moral bangsa yang baik.

“Sebagai inisiatif masyarakat, sekarang bisa jalan terus, tidak ada masalah,” tegasnya.

Sementara, Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual DKI Jakarta, Hendra Hidayat, mengatakan, tidak ada regulasi atau instruksi yang dikeluarkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk program Subuh Berjamaah dan Maghrib Mengaji yang dilakukan masyarakat Jakarta Selatan.

Dia menyebut, kegiatan itu sudah berlangsung lama sejak tahun 2012 lalu, dan sempat hilang. Namun sejak kemarin Pemkot Jakarta Selatan menerapkan kembali.

“Ini bukan program Pemprov. Jadi tidak ada instruksi Gubernur, tidak ada perintah Pak Gubernur. Jadi semuanya dikembalikan ke kesadaran warga masyarakat masing-masing. Sekali lagi saya ingatkan, ini sebetulnya program lama yang dihidupkan kembali. Tadi, saya bilang, waktu jadi lurah tahun 2003, jam belajar masyarakat juga sudah ada,” jelasnya.

Kemudian, menurut Hendra, program serupa juga sudah diterapkan di Jakarta Barat, namun dengan nama Jam Belajar Masyarakat yang belaku sejak pukul 18.00 WIB hingga 21:00 WIB. Program itu juga tidak berdasarkan instruksi gubernur dan kerjasama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

“Itu datang dari kesadaran diri sendiri, keluarga. Kalau kita lihat anak main HP atau nonton televisi sementara PR terbengkalai kan ngenes juga,” tuturnya.

Sedangkan, Walikota Jakarta Selatan, Marullah Mattaliti, mengatakan, bahwa program Maghrib Mengaji adalah pembinaan mental dan spiritual demi menciptakan suasana keagamaan yang lebih baik. Bahkan program ini tidak menggunakan APBD DKI Jakarta.

“Maghrib Mengaji itu program pembinaan mental dan spiritual masyarakat. Tahun 2018 saya dikukuhkan, dilantik jadi wali kota, kira-kira sebulan kemudian saya sudah canangkan kegiatan-kegiatan seperti Maghrib Mengaji,” imbuh Marullah.

Dia juga mengharapkan, dengan adanya program itu dapat menjauhkan remaja dari hal yang negatif. Marullah juga menginginkan masjid menjadi safe house.

Lanjut dia, program tersebut sudah berjalan sejak 2018 dengan menggunakan dana swadaya. Akan tetapi saat ini, Marullah menyebut, telah dianggarkan di setiap kelurahan.

“Satu kali pelaksanaan, kira-kira Rp500.000 lebih sedikit,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...