Cuaca Cerah, Visual Gunung Anak Krakatau Terpantau Jelas

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sempat diselimuti kabut selama beberapa hari terakhir, menyebabkan Gunung Anak Krakatau (GAK) tidak bisa teramati secara visual menggunakan mata telanjang. Namun, pada Minggu (6/1/2019), cuaca cerah sehingga visual GAK mudah terlihat.

Suwarno, Petugas Pos Pengamatan Gunung Berapi, Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), membenarkan kondisi tersebut.

Menurutnya, jajaran pulau di dekat GAK terlihat cerah semenjak Minggu pagi, dengan aktivitas vulkanik letusan berjarak beberapa menit sekali.

Suwarno, Petugas Pos Pengamatan Gunung Berapi Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Masyarakat yang sebelumnya sulit melihat GAK secara visual, bisa melihat gugusan Pulau Sebuku, Sebesi, Sertung dan Panjang, yang mengapit GAK yang masih terus erupsi.

Kondisi berbeda terlihat pada ketinggian GAK yang semula 338 meter di atas permukaan laut (Mdpl) menjadi 110 Mdpl,  diapit Pulau Rakata (813 Mdpl), pulau Panjang di utara Rakata (132 Mdpl), pulau Sertung di barat laut Rakata (182 Mdpl).

“Secara visual, ketinggiannya berubah, terlihat lebih rendah dari pulau di sekitarnya, sehingga orang yang belum pernah melihat GAK sebelum tsunami mengira pulau Sebesi atau Rakata dianggap sebagai Gunung Anak Krakatau,” terang Suwarno, Minggu (6/1/2019).

Suwarno juga menyebut, sejak erupsi dan longsor serta menjadi penyebab tsunami pada Sabtu (22/12/2018), GAK dominan diselimuti asap hitam kelabu. Hujan dan mendung disertai kilat bahkan kerap membuat visual gunung berapi di Selat Sunda tersebut tidak terlihat menggunakan teropong, yang ada di pos pengamatan gunung berapi di desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa. Sejumlah masyarakat yang penasaran bahkan sempat kecewa tidak bisa melihat gunung fenomenal tersebut beraktivitas.

Suwarno menyebut, pada kondisi normal asap vulkanik GAK terlihat membubung ke angkasa, dengan dominan warna putih dan kelabu. Sesuai data Magma Volcanic Acitivity Report (VAR) pada periode pengamatan Minggu (6/1/2019), pukul 06:00-12:00 WIB, kondisi meteorologi gunung tersebut cerah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara 25-32 °C dan kelembaban udara 66-83 persen.

Secara visual, kata Suwarno, gunung terlihat jelas. Asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 800-1000 meter di atas puncak kawah.

Sementara itu, catatan kondisi letusan mulai menurun. Semula mencapai 37 letusan hanya terpantau letusan 13, amplitudo : 12-28 mm, durasi : 35-105 detik.

Kondisi hembusan tercatat berjumlah  8, amplitudo: 8-15 mm, durasi: 30-120 detik. Kondisi kegempaan tercatat tremor menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 2-11 mm (dominan 5 mm).

Sesuai dengan data stasiun pengamatan Pulau Sertung, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dinyatakan Level III (Siaga). Masyarakat serta wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

Pantauan Cendana News dari pantai Minang Rua Bakauheni, sejumlah warga bisa melihat dengan jelas aktivitas GAK. Meski mengeluarkan asap putih, namun warga Minang Rua, sudah tidak mendengar suara dentuman, seperti pekan sebelumnya sesudah tsunami.

“Letusan GAK dengan asap dominan putih, menjadi tontonan menarik bagi warga yang ingin melihat letusan GAK,” kata Supadi, warga setempat.

Lihat juga...