Cuaca Sebabkan Produksi Pertanian di Bantul Stagnan

277
Ilustrasi -Dok: CDN

YOGYAKARTA – Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, menyatakan produksi pertanian pangan di daerah ini pada 2018, cenderung stagnan atau hampir sama dengan 2017.

“Di sektor pangan memang ada peningkatan produksi, tetapi tidak terlalu signifikan, bahkan untuk padi, cenderung stagnan, hampir sama dengan 2017,” kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul, Pulung Haryadi, di Bantul, Minggu (13/1/2019).

Menurut dia, untuk pertanian padi, Bantul yang memiliki luas lahan kurang lebih 15.000 hektare tersebar di 75 desa se-Bantul, sepanjang musim tanam 2018 menghasilkan sekitar 188.000 ton gabah kering giling.

“Dari produksi padi itu dikalikan 62 persen, kalau mau dijadikan beras, dibanding dengan 2017 (produksinya) hampir sama, stagnan. Tidak ada kenaikan yang signifikan,” katanya.

Pulung mengatakan, beberapa penyebab produksi padi stagnan di antaranya luas lahan yang tidak bertambah dibanding tahun sebelumnya, selain itu faktor cuaca yang pada 2018 cenderung musim kemarau panjang.

“Kemudian kemarin itu hujan mundur satu bulan, makanya untuk padi tidak bisa ngejar, jadi stagnan saja, sehingga yang paling mungkin dengan mengoptimalkan menanam jagung dan kedelai,” katanya.

Pihaknya tidak menyebut berapa produksi jagung dan kedelai di 2018, tetapi untuk lahan kedelai dalam satu tahun sekitar 2.000 hektare, tersebar di beberapa kecamatan.

“Yang ada penambahan (lahan tanaman) itu kedelai sama jagung, namun saya lupa angkanya, tetapi kalau satu persen (tambahan) ada. Kemudian kalau produksi pisang itu malah turun,” katanya.

Ia menjelaskan, pada 2019, pihaknya akan berupaya meningkatkan produktivitas padi dengan penggunaan bibit unggul dan teknologi pertanian.

“Kita ingin genjot produktivitas padi, saat ini masih di angka 6,7 ton gabah per hektare, harapannya bisa di atas tujuh ton,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...