Daerah Rawan Tsunami Diminta Tanam Pohon

Editor: Koko Triarko

238

LAMPUNG – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, melakukan peletakan batu pertama pembangunan hunian sementara (Huntara) korban tsunami di  Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Minggu (12/1/2019).

Menurut Doni Monardo, lokasi Huntara tersebut sementara akan ditempati oleh masyarakat yang terdata menjadi korban tsunami pada Rabu (22/12/2018), dengan kondisi rumah rusak berat.

Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo (kiri) melakukan peletakan batu pertama di Huntara Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa bagi korban tsunami Lamsel -Foto: Henk Widi

Sebelumnya, Doni Monardo juga mengimbau kepada pemerintah daerah (Pemda) yang wilayahnya rawan tsunami, agar bisa menanam pohon di sepanjang pinggir pantai.

Doni Monardo menyebut, penanaman pohon dilakukan untuk mengurangi risiko bencana. Sebab kawasan di sekitar Selat Sunda tercatat sebagai kawasan zona merah rawan bencana.

Penanaman pohon tersebut juga harus diimbangi dengan perawatan, sehingga bisa menjadi kokoh setelah 10 hingga 30 tahun yang akan datang, sehingga jika ada tsunami masyarakat bisa terlindungi.

Beberapa jenis pohon yang bisa ditanam sebagai penahan hantaman tsunami, di antaranya pohon pule, ketapang, mahoni, waru, beringin dan kelapa.

Ia mengatakan, penanaman pohon akan melibatkan pemerintah daerah serta masyarakat serta instansi terkait. Sosialisasi tersebut harus diberikan ke semua komponen, termasuk para ulama, dan latihan yang menyentuh hingga tingkat rukun tetangga.

“Sementara warga terdampak tsunami yang menempati huntara, perlu dipikirkan juga untuk masa mendatang untuk meminimalisir terjadinya bencana tsunami,” terang Doni Monardo.

Doni Monardo yang didampingi oleh Plt Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto, Kepala BPBD Lamsel, I Ketut Sukerta juga meninjau sejumlah alat berat yang sedang melakukan pembersihan lahan (land clearing).

Di lokasi huntara tersebut, masih terdapat sejumlah tenda milik BNPB dan tenda-tenda darurat yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga.

Puluhan kepala keluarga yang berada di posko pengungsian SMAN 1 Rajabasa tersebut, dominan berasal dari Desa Kunjir, yang rumahnya rusak berat tidak bisa ditempati lagi.

Camat Kecamatan Rajabasa, Sabtudin, saat ditemui Cendana News di lokasi Huntara, menyebut saat ini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) masih fokus melakukan pembersihan lahan.

Sabtudin, Camat Kecamatan Rajabasa -Foto: henk Widi

Di lahan milik Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, di area SMAN 1 Rajabasa tersebut, direncanakan akan ditempati oleh 83 kepala keluarga. Lahan yang disediakan di lokasi tersebut mencapai satu hektare, dengan Huntara dibuat sistem cluster.

Menurut Sabtudin, huntara yang akan dibuat berada di sejumlah desa yang ada di kecamatan Rajabasa, sebagai lokasi terparah terdampak tsunami.

Selain 83 Huntara di Desa Kunjir, Huntara juga akan dibangun di Desa Way Muli Induk sebanyak 52 unit, Desa Way Muli Timur 128 rumah, Desa Rajabasa 20 Huntara, Desa Banding 20 rumah dengan total Huntara mencapai 263 unit.

Saat ini, ia memastikan koordinasi antara kecamatan, BNPB, Dinas PUPR dan Dinas Permukiman terus dilakukan.

Pengawas dari Dinas PUPR Lamsel untuk pengerjaan pembersihan lahan di lokasi Huntara, Suparlan, menyebut, sebanyak tiga alat berat dikerahkan.

Fokus pengerjaan pembersihan lahan dilakukan, selanjutnya proses pembuatan drainase, dan meratakan lahan. Sesuai rencana, bangunan Huntara akan dibangun dengan ukuran 4 x 6 meter. Selain huntara, di lokasi tersebut juga akan dibangun fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) Komunal.

“Pada tahap pertama, lahan yang konturnya miring membuat pengerjaan lebih lama, secepatnya akan dibangun Huntara agar warga bisa pindah,” beber Suparlan.

Selain dari Dinas PUPR serta berbagai instansi terkait, di lokasi Huntara masih terlihat sejumlah personel TNI dari Korem 043 Garuda Hitam.

Menurut Kapten Suyanto dari Kodim 0421 Lampung Selatan, masih ada sekitar 400 personel TNI di lokasi terdampak tsunami tersebut.

Menurutnya, memasuki masa tanggap darurat tahap kedua, personel TNI membantu pembersihan rumah, sekolah dan fasilitas umum. Personil TNI juga dikerahkan dalam proses pembuatan Huntara hingga pengungsi bisa menempati lokasi tersebut.

Berdasarkan rekapitulasi data media center posko darurat bencana  Pemkab Lamsel di rumah dinas bupati, tercatat empat kecamatan terdampak tsunami.

Hingga Sabtu (11/1/2019) malam, tercatat korban meninggal sebanyak 118 orang, berasal dari lima kecamatan di Lamsel dan sebagian berasal dari luar Lamsel.

Jumlah warga yang masih dinyatakan hilang 7 orang, luka berat 483 orang, luka ringan 11.259 orang, rumah  rusak berat 551 unit, rumah rusak sedang 86 unit serta rumah rusak ringan 143 unit.

Baca Juga
Lihat juga...