Dapur Umum Tagana Lamsel, Masih Layani Kebutuhan Pengungsi

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), dipastikan masih bertugas di dapur umum lapangan (Dumlap).

Sekretaris Tagana Lamsel, Hasran Hadi, menyebut, personel Tagana Lamsel berjumlah total 35 orang bertugas secara bergiliran sejak Minggu (23/12/2018) silam.

Semenjak Dumlap Tagana Dinsos Lamsel didirikan di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa pada masa tanggap darurat pertama, puluhan ribu bungkus nasi telah dibagikan.

Hingga masa tanggap darurat penanganan bencana tsunami tahap kedua, Dumlap Tagana dipindah ke rumah singgah. Tepat di dekat posko utama rumah dinas bupati Lamsel.

Hasran Hadi menyebut, semula dalam sehari, Dumlap Tagana bisa memasak sekitar puluhan kilogram beras, puluhan bungkus mi instan dan puluhan kaleng sarden. Jumlah tersebut dipergunakan untuk membuat porsi makan sebanyak 1000 hingga 2000 nasi bungkus.

“Selama Dumlap didirikan pada lokasi terparah terdampak tsunami, yakni berada di Desa Way Muli Rajabasa, satu hari kita bisa menyediakan sekitar lebih dari seribu bungkus nasi bagi pengungsi dan relawan,” terang Hasran Hadi, sekretaris Tagana Dinsos Lamsel, saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (11/1/2019).

Pada masa tanggap darurat, penanganan bencana tsunami Lamsel, saat sejumlah pengungsi sudah kembali ke rumah masing masing, Dumlap Tagana Dinsos Lamsel masih siaga.

Pengoperasian Dumlap disebut Hasran Hadi, dilakukan karena sebagian pengungsi masih belum kembali ke rumah tinggalnya, terutama pengungsi asal Pulau Sebesi. Hasran Hadi memastikan, Dumlap masih menyediakan sekitar 400 porsi makan sekali makan.

Sebanyak 400 porsi makan tersebut, diakui Hasran Hadi, didistribusikan untuk pengungsi di wisma Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP) Kalianda dengan jumlah 100 bungkus.

Sebanyak 200 bungkus didistribusikan untuk petugas serta relawan di posko utama penanganan bencana yang ditugaskan menangani logistik. Sebanyak 200 bungkus didistribusikan ke rumah sakit umum dr. Bob Bazaar Kalianda, untuk sejumlah pasien dan keluarga pasien yang dirawat akibat tsunami.

“Semenjak bencana tsunami melanda, kami sudah berpindah di dua tempat, dan sudah bertugas selama dua pekan, melayani pengungsi dan relawan,” beber Hasran Hadi.

Hasran Hadi menyebut, semula dapur umum lapangan sebagian didirikan oleh masyarakat secara mandiri di sejumlah posko pengungsian. Namun, setelah sebagian pengungsi kembali ke rumah masing-masing dan tempat penampungan, Dumlap dipindah.

Pemindahan Dumlap, diakui Hasran Hadi, untuk lebih memudahkan koordinasi dengan posko utama dan memudahkan pendistribusian logistik yang akan dimasak.

Sesuai dengan kebutuhan serta ketersediaan logistik, Hasran Hadi menyebut, Dumlap menyiapkan porsi makan dua kali sehari. Porsi makan dua kali sehari dengan jumlah 400 bungkus, disediakan untuk makan siang dan makan malam.

Sedianya pengungsi di wisma PPLOP Kalianda akan melakukan kegiatan masak mandiri, namun belum bisa dilakukan akibat keterbatasan peralatan. Menu yang disediakan di antaranya nasi berikut ikan, telur, mi instan, sayuran, tempe, ikan asin dan kerupuk.

“Menu makanan selalu berubah menyesuaikan ketersediaan sekaligus agar pengungsi dan relawan tidak bosan namun memiliki asupan gizi,” beber Hasran Hadi.

Suwanto, salah satu juru masak anggota Tagana asal Sragi menyebut, personel Tagana bertugas empat hari sekali. Pembagian tugas dilakukan secara bergantian mulai dari proses penyiapan bahan hingga proses membungkus nasi.

Pasalnya, untuk sejumlah tugas seperti memasak nasi dan sayur membutuhkan petugas khusus. Setelah selesai dimasak semua personel akan bahu membahu membungkus nasi berikut sayur serta lauk.

Hajawi, salah satu pengungsi di wisma PPLOP menyebut, ada sebanyak 20 kepala keluarga di wisma tersebut. Total tercatat ada sekitar 75 jiwa mulai orang dewasa hingga anak-anak di wisma, sebagian besar warga Dusun Regahan Lada, Desa Tejang Pulau Sebesi. Selama berada di wisma selama hampir empat hari, pasokan makanan masih dikirim dari Dumlap oleh Tagana Lamsel.

Hajawi, salah satu pengungsi yang masih bertahan di wisma PPLOP Kalianda – Foto: Henk Widi

Ia mengaku bersama puluhan warga lain belum kembali ke Pulau Sebesi karena rumah rusak berat dan tidak bisa ditempati.

Hajawi menyebut, rencananya akan tinggal di wisma tersebut hingga tiga bulan ke depan menunggu pembangunan hunian sementara (Huntara).

Huntara yang akan dibangun pemerintah disebutnya direncanakan akan dilakukan di eks hotel 56 Kalianda. Hajawi yang merupakan ketua kelompok dua mengaku, menempati lantai dua bangunan tersebut dengan total sebanyak 9 KK. Kelompok satu yang berada di lantai bawah ditempati oleh sebanyak 11 KK.

“Hingga kini kami masih sangat diperhatikan pemerintah daerah, meski harapan kami segera bisa mendapatkan hunian sementara,” terang Hajawi.

Berdasarkan rekapitulasi data media center posko darurat bencana Pemkab Lamsel di rumah dinas bupati, tercatat sebanyak empat kecamatan terdampak tsunami.

Hingga Kamis (10/1/2019) tercatat korban meninggal berjumlah 118 orang berasal dari lima kecamatan di Lamsel dan sebagian berasal dari luar Lamsel.

Jumlah warga yang masih dinyatakan hilang 7 orang, luka berat 483 orang, luka ringan 10.804 orang, rumah rusak berat 558 unit, rumah rusak sedang 82 unit, serta rumah rusak ringan 125 unit.

Lihat juga...