Dedi Septian, Aktif Edukasi Kekayaan Biota Laut Indonesia

Editor: Mahadeva

243

YOGYAKARTA – Berkontribusi dalam dunia pendidikan, tak hanya bisa dilakukan oleh orang berpendidikan tinggi dengan memanfaatkan bangku sekolah saja. Siapapun, bisa membagikan ilmu, pengetahuan dan pengalamannya, untuk kepentingan dan kebaikan bersama.

Seperti yang dilakukan pemuda desa, warga Dusun Ngaran RT 02 Balecatur, Gamping, Sleman, Dedi Septian (26). Berawal dari kecintaannya pada kekayaan dan keanekaragaman biota di Indonesia, beberapa tahun terakhir, Dia aktif mengedukasi orang-orang di sekitarnya mengenai biota laut.  Tergabung dalam sebuah kelompok relawan konservasi di Yogyakarta, Dedi rutin memberikan pemahaman akan kekayaan dan potensi biota laut dan pesisir. Ia juga aktif memberikan pemahaman, mengenai perlindungan dan pelestarian atau konservasi biota laut pada masyarakat pesisir pantai di Yogyakarta.

“Kekayaan Indonesia itu sangat luar biasa. Kita memiliki begitu banyak biota laut yang bernilai jual sangat tinggi. Sayangnya kepedulian masyarakat kita terhadap hal itu masih sangat rendah. Sehingga tidak sedikit biota asli Indonesia yang diklaim oleh negara lain. Hanya karena kita tidak mau mendokumentasi, mengidentifikasi dan melakukan perlindungan,” ujar lelaki yang hoby memelihara belut laut atau belut moray tersebut.

Dedi bersama kelompoknya, aktif berkeliling mengedukasi masyarakat. Upaya dilakukam, secara rutin dengan pendokumentasian, pengidentifikasian, hingga pelestarian sejumlah biota asli Indonesia khususnya belut moray. Ia juga melakukan sosialisasi, guna mengenalkan kekayaan biota laut itu pada masyarakat.

“Kita juga aktif melakukan edukasi pada masyarakat pesisir. Agar mereka mengetahui mana biota yang dilindungi dan mana yang tidak. Termasuk hewan-hewan laut yang berbahaya dan menjadi ancaman bagi manusia. Juga soal perlindungan ekosistem karang, ikan dan biota lainnya,” tuturnya.

Karena bergerak secara mandiri, Dedi bersama rekan-rekannya juga harus mengeluarkan ongkos pribadi Setiap melakukan kegiatan. Tidak ada dana dari pihak luar, yang mereka terima untuk menjalankan kegiatan. Untuk tetap dapat menjalankan kegiatannya, Dedi membuka usaha bisnis jual beli belut Moray. Selain sebagai upaya pengidentifikasian, hasil usahanya itu juga digunakan untuk membiayai upaya ekdukasi kepada masyarakat.

“Karena kita tidak ada dana, maka kita harus biayai semua kegiatan secara mandiri. Caranya, dengan bisnis jual beli biota yang tidak dilindungi. Sekaligus juga untuk mencoba membudidayakan biota tersebut sebagai bagian dari upaya konservasi. Sebab kalau hanya mengandalkan pemerintah untuk melakukan edukasi soal konservasi, tidak akan jalan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...