Desa Wlahar Wetan, Pelopori Tanam Padi Organik di Lahan Tandus

Editor: Satmoko Budi Santoso

786

BANYUMAS – Meskipun berdampingan dengan Sungai Serayu, Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, termasuk daerah tandus dan gersang.

Selama puluhan tahun para petani menggarap sawah tadah hujan yang hanya bisa panen setahun sekali. Petani pun jauh dari kesejahteraan.

Dalam dua tahun terakhir, kehidupan petani mulai terangkat. Setelah Kades Wlahar Wetan, Dodiet Prasetyo, mempelopori kemandirian benih dan mengajak para petani untuk menanam padi organik.

Tak tanggung-tanggung, Dodiet mengalokasikan dana desa sebesar Rp 80 juta untuk pelatihan para petani. Pelatihan selama tiga bulan ini dengan mendatangkan pakar dan praktisi pertanian sebanyak 8 orang.

ʺMemang tidak mudah untuk mengubah mindset petani. Awalnya, ada 70 petani yang ikut pelatihan dan yang bertahan hingga akhir hanya 17 orang. Pelatihan ini full selama 3 bulan, mulai dari praktik di lapangan dan berdiskusi saat malam hari. Kita juga melakukan kunjungan lapangan ke Indramayu,ʺ terang Dodiet, Senin (7/1/2019).

Menurutnya, untuk membangun kesadaran petani akan manfaat pertanian organik, dibutuhkan intervensi dari desa. Karena itu, dari ADD Tahun 2016 dialokasikan Rp80 juta untuk pelatihan. Selanjutnya, dari ADD Tahun 2017, kembali dialokasikan Rp35 juta untuk pembelian alat-alat, seperti mesin pembersih beras dan mesin press untuk kemasan beras.

Padi jenis mentik susu – Foto Hermiana E Effendi

Pada tahun pertama menanam padi organik jenis mentik susu, hasil panen memang masih sedikit, yaitu 4 ton per hektare. Namun, petani mendapatkan nilai ekonomis jauh lebih banyak. Sebab hasil panennya dijual dengan harga lebih mahal.

Jika beras biasa hanya dijual kisaran Rp8 ribu per kilogram, beras organik mentik susu ini dijual dengan harga Rp25 ribu per kilogram.

Pada tahun kedua, hasil panen padi mentik susu meningkat menjadi 4,5 ton per hektare. Peningkatan hasil panen ini sangat menggembirakan, karena disertai dengan semakin banyaknya petani yang menanam padi mentik susu.

ʺSaya selalu tekankan pada para petani, bahwa tanaman padi sehat ini juga harus dinikmati oleh keluarga mereka dan jangan dijual semua. Dalam perkembangannya, pemasaran beras organik ini semakin meluas. Karena kita sudah menggunakan kemasan yang bagus dan ditangani secara profesional oleh BUMDes,ʺ jelas Kades.

Meskipun kebanjiran pesanan, namun tidak semua bisa dipenuhi, sebab para petani hanya bisa menanam padi setahun sekali. Saat ini, stok beras mentik susu juga sedang kosong untuk waktu yang lama. Dari 150 hektare lahan pertanian di Desa Wlahar Wetan, semua merupakan sawah tadah hujan.

Menurut Dodiet, sebenarnya ada bantuan pompanisasi dari pemprov, yaitu dengan menyedot air Sungai Serayu dan dialirkan ke sawah-sawah. Namun, aliran air tersebut harus dibagi dengan empat desa lainnya, sehingga belum bisa memenuhi keseluruhan kebutuhan air petani.

Baca Juga
Lihat juga...