Desantiku, Gerakan untuk Mengikis Politik Uang

Editor: Mahadeva

PURBALINGGA – Bawaslu Jawa Tengah meluncurkan gerakan Desa Anti Politik Uang (Desantiku). Gerakan tersebut, diharap mampu mengikis praktik politik uang, yang identik dengan Pemilihan Umum (Pemilu). 

Di Jawa Tengah, sudah ada dua kabupaten yang melaksanakan program Desantiku, yaitu Kabupaten Magelang dan Kabupaten Purbalingga. Peluncuran gerakan tersebut dilakukan, Minggu (27/1/2019).

Koordinator Divisi SDM dan Organisasi, Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Gugus Risdaryanto, mengatakan, Desantiku dibentuk dengan tujuan mewujudkan pemilu bersih dari politik uang. Upayanya, dengan cara terus mendorong partisipasi pemilih atas kesadaran mensukseskan pemilu, bukan karena faktor uang.

ʺJika gerakan ini diwujudkan pada seluruh desa di Jawa Tengah, maka politik uang akan terkikis dengan sendirinya. Dan Kabupaten Magelang serta Purbalingga ini sudah mewujudkannya, semoga ini bisa menjadi percontohan kabupaten-kabupaten lain, menyusul besok hari Senin, kita launching Desantiku di Kabupaten Karanganyar, ʺ kata Gugus, saat peluncuran Desantiku di Kabupaten Purbalingga, Minggu (27/1/2019).

Di Kabupaten Purbalingga, desa yang melaksanakan program Desantiku adalah Desa Baleraksa, Kecamatan Karangmoncol. Keberhasilan program Desantiku, tidak akan terlepas dari peran Bawaslu di daerah, Pengawas Pemilu Lapangan (PPL), pemkab setempat dan tentu saja masyarakat.

Dari penelitian, 56 persen pemilih memilih karena menerima uang. Hal ini terjadi dalam pemilihan kepala desa, serta pemilu mulai 2004. Pemilu sebelum 2004, yaitu pemilu 1999 dan sebelumnya, cenderung bersih dari politik uang.

ʺPada dasarnya tanpa politik uang, biaya politik yang dikeluarkan oleh para caleg akan lebih sedikit. Dan jika ada money politik, maka konsekuensinya, caleg akan berpikir bagaimana caranya untuk mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan,ʺ jelasnya.

Program Desantiku, diharapkan menjadi media pembelajaran bagi parpol beserta Calon Anggota Legislatif (Caleg) agar tidak menggunakan politik uang untuk meraih suara. Sehingga terwujud pemilu demokratis dan bermartabat serta bersih.  ʺKuncinya satu, dekati pemilih, sosialisasikan program yang merakyat, maka pemilu akan bebas dari politik uang dan menghasilkan para pemimpin ataupun wakil rakyat yang amanah,ʺ pungkasnya.

Lihat juga...