Diduga Tercemar, Ratusan Ikan di Aliran Pintu Air Bekasi Mengapung

Editor: Mahadeva

228

BEKASI – Beragam jenis ikan, terlihat mengapung dan mati, di sepanjang aliran pintu air Kali Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat. Hal tersebut diduga, pencemaran limbah membuat biota air di Kali Bekasi terutama ikan kecil pada mati.

Arifin, Warga RW/RT 07/07 Harapanmulya, kecamatan Medansatria – Foto M Amin

“Ikan kecilnya, banyak yang mati. Ikan besar mengapung di tepian aliran sungai,” kata Arifin, warga RT/RW 07/07, Kelurahan Harapanmulya, Kecamatan Medansatria, kepada Cendana News, Selasa (8/1/2019).

Kondisi tersebut, diduga karena keberadaan limbah yang terkandung di dalam air, setelah bendungan air Margamulya dibuka. Arifin menyebut, biasanya tidak ada ikan yang mati meskipun pintu air dibuka. Ikan-ikan pada mati, setelah pintu air di Kali Bekasi atau dikenal sebagai Kali besar depan asrama haji dibuka. Arifin menambahkan, kejadian seperti ini sudah lama tidak terjadi. “Kejadian seperti ini sudah lama tidak terjadi. Sekarang kok ada lagi ikan kecil mati. Artinya ada limbah baru,” tandasnya.

Arifin menduga, ada limbah pabrik yang dialirkan ke Kali Bekasi. Pantauan di lokasi, banyak ikan kecil mati, sedangkan ikan besar mengapung di tepian kali. Oleh warga setempat, hal itu diikuti dengan turun ke dalam air, untuk menangkap ikan yang sudah lemah. Sementara sebagian lain memilih hanya menonton.

Berbagai jenis ikan yang berhasil ditangkap warga diantaranya ikan Mujair, Tawi, dan sejenis ikan baung. Warga menggunakan berbagai alat untuk menjaring ikan-ikan tersebut. Tetapi tidak sedikit anak yang turun hanya menggunakan tangan kosong untuk menangkap ikan.

Dikonfirmasi terpisah, Agung, Kasi Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, mengakui, adanya kejadian ikan mati dan banyak warga yang menangkap ikan di sepanjang aliran Kali Bekasi. “Iya, tadi saya juga sudah melintas dan melihat aktivitas warga yang ngumpulin ikan,” tandasnya.

Tapi, untuk menentukan penyebabnya, perlu penyidikan lebih lanjut. Agung mengaku, sudah melaporkan kejadian tersebut, ke Sekretaris Dinas dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup. “Keterangan lebih lanjut biasa langsung ke Dinas atau Sekdis,” pungkas Agung.

Baca Juga
Lihat juga...