Dikpora Kulon Progo Wajibkan Siswa Cium Tangan Guru

Editor: Koko Triarko

224

YOGYAKARTA – Sebagai upaya penguatan pendidikan karakter di kalangan generasi muda, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Kulon Progo, menyusun kebijakan yang mewajibkan siswa untuk berjabat tangan dan mencium tangan guru setiap masuk dan pulang sekolah. 

Kebijakan yang disusun melalui Peraturan Daerah (Perda) itu dilaksanakan mulai dari sekolah jenjang TK, SD hingga SMP, sejak 2018.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dikpora Kulon Pogo, Jujur Santoso, mengatakan kebijakan ini dibuat untuk membiasakan siswa saling menghormati guru mereka.  Selain berjabat tangan dan mencium tangan guru, seluruh siswa juga dibiasakan untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya setiap harinya, saat hendak memulai pelajaran di kelas.

“Sekarang kan banyak kasus-kasus kekerasan yang melibatkan guru maupun murid di sekolah. Kita melihat ini terjadi karena kurangnya pendidikan karakter di sekolah. Sehingga kita berupaya untuk menguatkan pendidikan karakter itu di sekolah,” ujarnya, kepada Cendana News, Kamis (24/01/2019).

Tak hanya itu, upaya penguatan pendidikan karakter di kabupaten Kulon Progo juga dilakukan dengan mewajibkan siswa mengikuti kegiatan di luar pelajaran, yang meliputi unsur keagamaan, pramuka, gotong-royong dan budaya kemataraman. Salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Soal gotong-royong, misalnya, kita wajibkan siswa melakukan kerja bakti minimal seminggu sekali untuk membersihkan ruang kelas masing-masing. Nanti setiap sebulan sekali, kegiatan gotong-royong dilakukan di luar lingkungan sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, pendidikan budaya Kemataraman juga diaplikasikan lewat kegiatan ekstrakurikuler. Setiap siswa diwajibkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ini, seperti mempelajari olah raga, bahasa dan kesenian tradisional, mengenal arsitektur rumah adat Jawa, hingga belajar soal resep-resep makanan tradisional yang beraneka ragam.

“Pendidikan Kemataraman ini diberikan, agar anak lebih mengenal budayanya sendiri. Sehingga mereka tidak melupakan akar budaya yang merupakan jati diri mereka sebagai orang Jawa. Apalagi, di tengah perkembangan zaman seperti sekarang ini,” ujarnya.

Lihat juga...