Dinkes: Kasus Demam Berdarah di Batanghari Meningkat

158
Ilustrasi

JAMBI — Kasus demam berdarah di Kabupaten Batanghari alami peningkatan seratus persen lebih tercatat pada 2017 terdapat 67 kasus atau naik drastis pada 2018 menjadi 159 kasus dan pada Januari 2019 dalam satu bulan terakhir sudah ada 22 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari, Jambi dr Elfie Yennie, mengatakan peningkatan kasus  tersebut biasa terjadi saat memasuki musim penghujan dan di Kabupaten Batanghari musim penghujan sudah dimulai sejak Oktober 2018 dan hal tersebut menjadi penyebab meningkatnya kasus demam berdarah di daerah itu.

Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari mencatat pada Oktober 2018 terjadi 11 kasus di daerah itu kemudian meningkat pada November menjadi 41 kasus dan Desember sebanyak 35 kasus dimana sebaran hampir merata di seluruh wilayah di daerah itu.

“Saat memasuki hingga pascamusim hujan, petugas dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari selalu gencar melakukan pencegahan,” kata Elfi Yennie di Jambi, Selasa (29/1/2019).

Dinas kesehatan daerah itu gencar melaksanakan program juru pemantau jentik (jumantik) untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Melalui jumantik diharapkan mampu menekan sebaran dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

Saat ini 10 desa dan kelurahan Kabupaten Batanghari telah menjalankan program jumantik tersebut. Di setiap rumah terdapat satu orang yang ditunjuk sebagai jumantik. Juru pematau jentik yang ditunjuk diberikan pengetahuan dan pembekalan oleh dinas kesehatan.

“Pembekalan yang diberikan terkait ciri-ciri tempat berkembang biak jentik nyamuk demam berdarah dan bagaimana cara memberantasnya,” kata Elfi Yennie.

Ke-10 desa dan kelurahan yang menerapkan program tersebut diantaranya kelurahan yang berada di Kecamatan Muarabulian dan di desa diantaranya Desa Petajen, Batin, Mekar Sari, Nes, Penerokan dan Desa Serasah. Melalui jumantik ini diharapkan kebersihan lingkungan dapat terjaga dan dapat memberantas sarang-sarang nyamuk demam berdarah tersebut. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...