Disperindag Ternate Diminta Berlakukan Standar Harga Rempah

198
Cengkih -Dok: CDN

TERNATE – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), diminta memberlakukan standar harga komoditas rempah, khususnya jenis cengkih dan pala yang diperjualbelikan di Pasar Rempah Kota Baru.

“Kita berharap, ketika pasar rempah itu sudah dioperasikan, Disperindag sudah menyiapkan regulasi mengenai pemberlakuan harga standar komoditas rempah dalam aktivitas jual beli komoditas rempah di pasar itu,” kata salah seorang petani cengkih di Ternate, Sulaiman, Minggu (13/1`/2019).

Disperindag Ternate membangun Pasar Rempah Kota Baru, yang rencananya akan diresmikan pengoperasiannya  pada akhir Januari ini, sebagai pusat aktivitas jual beli rempah, tidak saja rempah dari Ternate, tetapi juga dari kabupaten/kota lainnya di Malut.

Menurut dia, adanya standar harga dalam aktivitas jual beli komoditas rempah di Pasar Rempah Kota Baru, diharapkan tidak ada lagi pedagang pengumpul atau pengusaha yang seenaknya menentukan harga, seperti yang terjadi selama ini.

Para petani rempah, khususnya cengkih dan pala di Ternate, dan kabupaten/kota lainnya di Malut, selama ini tidak pernah menikmati harga yang layak, karena selalu dikendalikan oleh pedagang pengumpul atau pengusaha, terutama musim panen raya.

Harga cengkih misalnya, kata Sulaiman, saat musim panen raya pedagang pengumpul atau pengusaha hanya mau membeli dengan harga paling tinggi Rp80.000 per kg, padahal di daerah tujuan antar-pulau seperti Surabaya, harganya mencapai di atas Rp100.000 per kg.

Adanya standar harga diharapkan hal seperti itu tidak terjadi lagi, apalagi kalau regulasi yang mengaturnya disertai pula dengan ketentuan sanksi bagi pedagang pengumpul atau pengusaha yang membeli di bawah harga standar yang telah ditetapkan.

Sementara itu, salah seorang pengusaha hasil bumi di Malut, Joni, mengatakan penerapan harga standar komoditas rempah bisa saja dilakukan, tetapi harus mempertimbangkan harga pasar di tingkat nasional dan internasional, karena harga komoditas rempah selalu naik turun.

“Masalahnya, kalau harga standar yang ditetapkan ternyata lebih tinggi dari harga di daerah tujuan antarpulau, maka dapat dipastikan pedagang pengumpul atau pengusaha tidak mau membeli untuk menghindari kerugian,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...