hut

Dosen UMM Ini Berhasil Kembangkan Temuan Benih Kentang

Editor: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Syarif Husen, M.P,  berhasil mengembangkan benih kentang (Solanum tuberosum L), guna memenuhi kebutuhan benih kentang di tingkat petani. Pasalnya tidak semua kebutuhan benih kentang mampu disediakan oleh pemerintah.

“Saat ini pemerintah baru bisa menyediakan 15 persen benih kentang secara mandiri bagi petani, sehingga petani masih kesulitan untuk mendapatkan benih kentang yang berkualitas,” ungkapnya.

Berdasarkan data tersebut, dalam beberapa tahun belakangan ini, Syarif yang juga merupakan seorang peneliti, terus fokus mengembangkan benih kentang dengan menggunakan teknik kultur in vitro dan aeroponik, sampai pada tahap komersialisasi.

Syarif menyampaikan, prosesnya diawali dengan melakukan isolasi jaringan meristem sebagai bahan tanam untuk kemudian diperbanyak dengan cara subkultur dalam kondisi aseptik atau dalam kondisi bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit.

Jika proses pertumbuhannya berjalan sempurna, maka akan menjadi tanaman lengkap yang disebut planlet.

“Planlet inilah yang kemudian bisa dijual ke petani. Jadi kami menyediakan dalam bentuk bukan berupa umbi tetapi planlet kentang sebagai benih sumber atau benih G0 yang bebas virus, sehingga nanti petani beli dalam bentuk planlet,” ujarnya.

“Kelebihan dari bibit ini adalah produksinya tinggi, bebas virus serta daya tumbuhnya juga tinggi,” sebutnya. Dan semua proses produksi benih kentang ini, lanjutnya, dilakukan di laboratorium kultur in vitro pusat bioteknologi UMM.

Terkait harga, Syarif mengaku, tidak mematok harga yang terlalu mahal yakni hanya 30 ribu rupiah per satu botol isi sepuluh planlet. Dalam pemasarannya tersebut, Syarif juga telah bermitra dengan para penangkar benih.

“Saat ini kita sudah mendapatkan legalitas dari kerjasama dengan balai penelitian tanaman sayuran Lembang, yang menjelaskan bahwa benih yang kami tanam ini benar-benar benih bebas virus dan bermutu tinggi,” tandasnya.

Selain teknik in vitro, Syarif bersama tim juga mengembangkan umbi G0 melalui teknik aeroponik, yaitu budidaya kentang tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam.

“Karena tidak menggunakan tanah sebagai media tanam, teknik aeroponik ini lebih efisien untuk pengembangan umbi kentang G0. Kami berharap, dengan adanya pengembangan benih kentang dalam bentuk planlet bisa membantu para petani untuk lebih mudah mendapatkan benih kentang,” pungkasnya.

Lihat juga...