Ekonomi China Melambat, Harga Minyak di Perdagangan Asia Turun

Ilustrasi [bumn.go.id]

SINGAPURA — Harga minyak turun pada awal perdagangan di Asia, Senin pagi, karena China melaporkan pertumbuhan ekonomi tahunan terlemahnya dalam 28 tahun, meskipun harga minyak tetap relatif baik didukung oleh pemotongan pasokan yang dipimpin oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Minyak mentah berjangka internasional Brent diperdagangkan di 62,57 dolar AS per barel pada pukul 02.15 GMT (09.15 WIB), turun 13 sen AS atau 0,2 persen, dari penutupan terakhir mereka. Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), merosot 11 sen atau 0,2 persen, menjadi 53,69 dolar AS per barel.

Ekonomi China tumbuh 6,6 persen pada 2018, ekspansi paling lambat dalam 28 tahun terakhir dan pendinginan dari 6,8 persen yang direvisi pada 2017, data resmi menunjukkan pada Senin. Pertumbuhan China September-Desember 2018 berada pada 6,4 persen, turun dari 6,5 persen pada kuartal sebelumnya.

Perlambatan pertumbuhan di China, yang telah menghasilkan hampir sepertiga dari pertumbuhan global dalam dekade terakhir, memicu kekhawatiran tentang risiko terhadap ekonomi dunia dan membebani laba untuk perusahaan-perusahaan mulai dari Apple hingga produsen-produsen mobil besar.

“Prospek global tetap suram, meskipun muncul sentimen positif dari pernyataan ‘dovish’ Fed (sekarang meningkatkan permohonan KPR AS), pelonggaran China yang lebih cepat (stabilisasi pertumbuhan kredit China) dan gencatan senjata AS-China yang lebih lama,” kata bank JP Morgan AS dalam sebuah catatan.

Meskipun demikian, analis mengatakan pemotongan pasokan yang dipimpin oleh OPEC kemungkinan akan mendukung harga minyak mentah.

Lihat juga...