Engkong Ridwan, Seniman Bekasi Pensiunan PNS

Editor: Koko Triarko

438
Ridwan Marhid, Ketua Dewan Kesenian Bekasi -Foto: M Amin

BEKASI – Ridwan Marhid dikenal sebagai seorang sastrawan, pelukis dan pensiunan Pengawai Negeri Sipil (PNS). Di Bekasi Raya, namanya tak asing lagi, karena sejak 2005 sampai sekarang, dipercaya sebagai Ketua Dewan Kesenian Bekasi (DKB).

Akrab disapa Enkong Ridwan, jarang yang tahu, bahwa ia memiliki bakat melukis sejak kecil. Di usia mudanya, banyak dihabiskan untuk melukis sampai berkeliling mengikuti pameran karya di Jawa Barat.

Ia juga sudah beberapa kali menulis naskah drama dan puisi sebagai salah satu karyanya. Tak heran, jika di Bekasi, ditanya siapa sosok seniman atau budayawan, maka orang akan tertuju pada satu nama, Engkong Ridwan.

Bagi Engkong Ridwan, berkesenian bagian dari rutinitas yang dijalani. Melalui seni, ia bisa berkumpul dan membentuk komunitas lukis setiap Minggu di halaman rumahnya. Tapi, satu hal yang mengusik hatinya, soal pengakuan budayawan.

Menurutnya, budayawan adalah pengakuan dari orang lain, bukan dari diri sendiri.

“Soal sebutan budayawan atau figur budayawan, itu harus datang dari orang lain. Terkadang saya risih melihat orang menulis nama sendiri dan ada dalam kurung mengakui dirinya budayawan,” ujar Engkong Ridwan, yang saat ini memasuki usia 62 tahun.

Mengisi masa pensiunnya, Ridwan membuat perkumpulan dari berbagai kalangan yang dinamakan OTS, atau kumpulan pelukis On The Spot. Setiap minggu berkumpul untuk berkarya dan berdiskusi soal lukisan, sastra dan lainnya.

Enkong Ridwan dulu dikenal sebagai pelukis idealis, karena ia tidak pernah memasang tarif dari setiap lukisannya. Bahkan, jika ada yang menginginkan lukisannya dengan bayaran mahal, pun kerap ditolak. Dia mengaku itu mungkin suatu misteri seseorang dalam menghargai karya.

“Pernah saat muda dulu, buat pameran lukisan, karya saya sudah dibeli. Tetapi ada rasa menyesal di hati, akhirnya lukisan tersebut saya beli lagi dengan harga lebih,” ujar Kong Ridwan, yang mengaku lebih mendalami lukisan aliran ekspresionisme.

Aliran lukisan ekspresionisme tersebut penekanannya ada pada gerakan. Ia mencontohkan, lukisan gerakan seekor kuda yang dinamis, sehingga dalam goresannya harus dituangkan secara garis dan dinamis, tapi spontan.

Menurutnya, karya seni kala itu adalah penjiwaan. Namun, seiring waktu berjalan, saat pameran lukisan ditawar dan laku ada nilai prestise tersendiri.

Menghabiskan waktu sebagai PNS selama 32 tahun, awalnya sempat membuat Kong Ridwan berhenti total dari aktivitas seni, hingga terakhir jabatan sebagai pengawas di bidang kebudayaan.

“Mungkin sudah menjiwai, di setiap kegiatan seni yang dilaksanakan pemerintah pasi saya ditunjuk,” tandasnya.

Ia mengenang, saat persiapan menyambut 50 tahun Indonesia Merdeka di era Presiden Soeharto, di sebut Indonesia Emas. Oleh Bupati Bekasi, diminta menyusun konsep drama kolosal yang melibatkan 600 siswa untuk bermain drama dan giat tersebut sukses.

Saat ini, Kong Ridwan konsen memajukan kesenian di Bekasi melalui Dewan Kesenian. Ia merupakan salah satu pencetus berdirinya Dewan Kesenian Bekasi pada 1998, yang saat itu banyak yang bilang nonsen.

“Saya dihubungi langsung Ratna Sarumpeat, pada 1997, saat itu dia sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, dan langsung memberikan mandat agar segera membentuk DK di Bekasi,” papar Kong Ridwan mengenang awal pembentukan DKB.

Melalui DKB, Kong Ridwan konsen memajukan seni di Kota Patriot dengan membentuk komunitas baru, agar memunculkan regenerasi. “Banyak seni yang harus dipelihara sebagai warisan budaya harus terus dikembangkan,” pungkasnya.

Lihat juga...