hut

Februari-Maret, Dinkes DKI Prediksi Semua Wilayah Potensial DBD

Editor: Koko Triarko

Kepala Dinas Kesehatan DKI, Widyastuti terkait DBD di DKI Jakarta, di Kantor Dinas Kesehatan DKI, Jalan Kesehatan, Petojo, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019) -Foto: Lina Fitria

JAKARTA – Kepala Dinas Kesehatan DKI, Widyastuti, mengatakan demam berdarah dengue (DBD) yang tengah menjangkiti warga ibu kota tersebar di wilayah-wilayah tertentu. Ada lima kecamatan dengan tingkat kejadian (incidence rate/IR) tertinggi di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.

IR adalah perhitungan kejadian per 100.000 penduduk yang digunakan untuk mengukur proporsi kejadian DBD. Semakin tinggi angka IR, maka semakin tinggi kejadiannya. “Jagakarsa tercatat sebagai wilayah dengan kejadian tertinggi dengan 19,27 IR, disusul Kalideres (16,94 IR), Kebayoran Baru (16,54 IR), Pasar Rebo (13,93 IR), dan Cipayung (13,57 IR),” kata Widyastuti, di Kantor Dinas Kesehatan DKI, Jalan Kesehatan, Petojo, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).

Untuk mewaspadai meluasnya DBD, lanjut Widyastuti, Dinas Kesehatan DKI Jakarta bekerja sama dengan BMKG, dalam pengembangan model prediksi angka DBD berbasis iklim yang dapat diakses melalui situs bmkg.dbd.go.id

Selain itu, Pemprov DKI melakukan fogging di wilayah asal korban DBD, dengan hasil penyelidikan epidemiologi (PE) positif. “Jadi kalau Januari, hanya ada tiga wilayah DKI yang paling banyak kejadian DBD. Dan, kami telah memprediksi, pada Februari dan Maret, seluruh wilayah berpotensi mengalami kejadian DBD,” ujarnya.

Selain itu, Widyastuti menduga banyak lahan kosong yang menjadi sarang nyamuk demam berdarah, aedes aegypti, di lima kecamatan tersebut. Kejadian DBD masih terpantau rendah di Jakarta Pusat dan Jakarta Utara, sedangkan di Kepulauan Seribu belum ada kejadian.

“Kepulauan Seribu, kan air laut, tidak terlalu disukai nyamuk. Yang disenangi nyamuk di air tawar,” ungkapnya

Tidak hanya itu, pihaknya juga melakukan fogging di wilayah asal korban DBD, dengan hasil penyelidikan epidemiologi positif. Juga telah menginstruksikan semua fasiltas pelayanan kesehatan, untuk melakukan deteksi dini dan tata laksana kasus DBD sesuai standar.

“Saya sudah menitipkan ke puskesmas dan rumah sakit, pesannya, kalau ada yang datang berobat, datang dengan panas tinggi, harus berpikir DBD atau bukan. Karena DBD infeksi akut, harus (dianggap DBD) sampai terbuki tidak,” terangnya.

Widyastuti mengimbau, seluruh masyarakat untuk segera berobat jika mengalami demam mendadak. Sebagai pertolongan pertama, bisa dilakukan, di antaranya minum air sebanyak mungkin.

Selain itu, masyarakat bisa minum obat penurun panas sesuai anjuran medis. “Kalau tidak sembuh, segera berobat,” ucap Widyastuti.

Dia memaparkan, gejala terkena DBD selain demam tinggi, adalah nyeri otot dan sendi, terdapat bintik merah atau ruam di kulit, mual, serta nyeri dan ulu hati. Pada kasus yang parah, dapat terjadi pendarahan dan syok yang membahayakan nyawa.

Widyastuti menyatakan, pihaknya telah mengimbau kepada petugas medis, baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit untuk segera memberikan pertolongan medis. Ia menginstruksikan, agar pasien dengan gejala demam bisa diberi penanganan untuk demam berdarah.

Lihat juga...