hut

Film ‘Babe dari Leiden ke Bekasi’ Angkat Kultur Budaya Bekasi

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Film Babe dari Leiden ke Bekasi karya ANTS Production dan Pemkot Bekasi, tayang serentak di bioskop Kota Bekasi Jawa Barat, mulai 31 Januari 2019. Film yang diadaptasi dari buku Semur Jengkol Cinta, Made in Belanda, karya Majayus Irone, bercerita tentang kultur budaya masyarakat Kota Bekasi.

“Wujud syukur setelah selesai kegiatan pembuatan film Babe (Bangga Bekasi), lokasi syuting semua dilaksanakan di Kota Bekasi, seperti lokasi Curug Parigi, Gedung Kesenian, Situ Rawa Gede, dan kantor Pemerintah Kota Bekasi,”Kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bekasi, Zarkasih, usai nonton bersama dalam launching film Babe, di Mega Mall Bekasi, Senin (28/1/2019) malam.

Selain mengangkat kultur budaya masyarakat Kota Bekasi, dalam film Babe juga banyak menonjolkan pembangunan yang sudah dilaksanakan pemerintah daerah setempat, seperti sarana olahraga GOR Patriot Chandrabaga, underpas Summerecon, dan lainnya.

Melalui film Babe, seakan ingin menuturkan bahwa pembangunan pesat di Kota Patriot tidak menggerus budaya lokal yang ada, melainkan tetap bersinergi.

“Jadi jangan jadikan perbedaan budaya menjadi suatu tantangan, tapi jadikan perbedaan budaya itu sebagai kekuatan untuk membangun Kota Bekasi yang kita cintai dan banggakan,” tandasnya.

Untuk diketahui, lanjut Zarkasih, penduduk Kota Bekasi mencapai 2,7 juta jiwa yang didominasi orang Jawa, sedangkan suku Betawi-nya sendiri tinggal sekitar 24 persen, dari total warga Kota Bekasi. Tetapi hal tersebut tidak membuat Kota Bekasi kehilangan jatidirinya.

“Kita tunjukkan bahwa kita orang Bekasi bisa eksis dan mampu. Yang terpenting, jangan jadikan perbedaan suatu alat menghalangi pembangunan tetapi jadikan perbedaan untuk membangun Kota Bekasi yang cerdas, kreatif dan Ihsan,” tandasnya.

Kepala dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ali Fauzi, setelah menyaksikan secara langsung film Babe, mengakui banyak sekali terdapat soal edukasi di dalamnya.

Ia mencontohkan dari awal perjuangan Kota Bekasi, film ini cukup banyak nilai edukasi yang bisa diambil, dimana peran Ali sebagai anak Betawi yang diperankan Dwi Andhika, selaku pemeran utama dikenal sebagai sosok anak muda yang begitu kuat untuk mencapai cita-citanya.

Menariknya imbuh Ali, banyak memuat kondisi budaya edukasi, dan pembangunan dari sisi budaya banyak sekali cerita Betawi yang diangkat. Karena cerita baik dengan sejarahnya, tentu harus mendapat apresiasi.

“Dan menjadi kebanggaan bagi warga Bekasi, saat ini sudah menghadirkan dua film di awal tahun ini yang banyak mengangkat tentang Kota Bekasi,” tukasnya.

Budayawan Betawi, juga sebagai pemeran film Babe, Ridwan Saidi mengatakan arti dari Bekasi itu sendiri adalah tempat suci, bukan asal katanya bhagasasi. Dia mengapreasiasi langkah mengangkat film budaya, dengan cerita riil tidak dongeng.

“Kedepan harus ada perbaikan dalam sisi budaya era peradaban. Ajarkan kepada anak jangan soal dongeng, tetapi soal sejarah nyata,” ujarnya menyebut bahwa salah satu kerajaan yang kerap disebut di Jawa Barat adalah dongeng.

Film Babe untuk sementara hanya akan diputar di bioskop yang ada di Kota Bekasi. Pada launching tersebut ikut menonton Wakil Walikota Bekasi, Tri Adhianto, Kepala kanwil Agama Kota Bekasi, para pemeran film dari Bekasi, tokoh masyarakat dan lainnya.

Babe dari Leiden ke Bekasi, tersebut diproduseri R. Fredy S, dan produser eksekutif Ir. Antistin, dibintangi oleh Dwi Andhika sebagai Ali, Zoe Jackson memerankan sosok Beti, yang melakukan studi penelitian di Kota Bekasi, untuk melihat lebih jauh tentang budaya Betawi di Bekasi, diperankan juga oleh Ridwan Saidi, Otis Pamutih, Budayawan Bekasi, Engkong Guntur Elmogas, Maja Yusirwan, Usman Affandi. Kemudian Hendrik Bibir, Hj Kartini, Karlin dan Kepala Dinas Pariwisata Zarkasih.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!