Foto di Rumah Bapak

CERPEN T. SANDI SITUMORANG

ENAM bulan setelah menikah, putra pertamaku yang kuberi nama Samudera Kelvianto pun lahir. Kelahiran Samu, begitu ia kupanggil, menjawab bisik-bisik sekampung sejak Mariatun kubawa pulang.

Sebenarnya, bisik-bisik itu telah terjawab sekitar dua tiga bulan pernikahan kami. Perut Mariatun yang menggunung mustahil baru berumur dua tiga bulan.

Sampai Samu berumur sepuluh tahun seperti ini, tidak sekalipun kulihat Bapak menyentuhnya. Ia hanya menjawab sekadar bila Samu menyapa.

Begitu juga sikap Bapak terhadap Tondy dan Sally, dua adik Samu yang lahir kemudian. Sikap Bapak membuatku sakit hati. Tega sekali Bapak bersikap seperti itu terhadap darah dagingnya.

Terlebih lagi, hanya kepada anak-anakku, Bapak bersikap dingin dan menjauh. Bapak tidak begitu terhadap cucunya yang lain.

Perasaan sakit hati itu selalu kulepas, walau tak semudah melepas sandal. Aku mencoba maklum. Bapak banting tulang menguliahkanku ke Medan dengan harapan aku pulang membawa gelar sarjana, bukan malah membawa seorang gadis pada tahun ketiga kuliahku. Terlebih gadis sileban, gadis dari pulau seberang.

Total enam anak bapak, aku satunya-satunya yang menetap di kampung. Satu-satunya yang tidak sarjana, satu-satunya yang hidup miskin, satu-satunya yang membuat bapak malu. Aku serupa noda dalam kesuksesan bapak menyekolahkan anak-anaknya.

Bila aku tak dihitung, bisa disebut bapak orangtua yang sukses mendidik dan memperjuangkan anak-anaknya hingga menjadi orang.

Aku anak kelima. Dua laki-laki dan dua perempuan urutan di atasku. Anak pertama sekarang menjadi anggota DPRD di perantauan, istrinya dosen. Anak kedua seorang dokter beristri dokter. Anak perempuan tertua seorang bidan bersuamikan polisi berpangkat tinggi.

Sementara perempuan tengah, guru pegawai negeri. Suaminya kepala sekolah SMP negeri. Tinggal anak bungsu Bapak yang belum menikah. Sekarang ia bekerja di sebuah bank swasta di Jakarta.

Mengenai anak bungsunya, berkali-kali Bapak mengusulkan ia pulang kampung saja. Menjadi pegawai negeri kemudian menikah dengan orang sini. Bapak mengimingi seluruh uang pelicin darinya.

Adikku itu menolak tegas. Agaknya, kilau Jakarta beserta kesemrawutannya lebih menarik minatnya hingga melupakan batang usianya semakin tinggi.

Bapak sangat memperhatikan kelima anaknya, tidak aku. Segala usaha kebaikan yang kubuat pada Bapak seringkali malah kembali buruk padaku. Bapak tidak pernah mau menyentuh makanan yang dikirim Mariatun ke rumahnya.

Bapak selalu merasa gerah bila Mariatun dan anak-anak berkunjung ke rumahnya.
Untunglah dada Mariatun seluas samudera. Ia tidak sakit hati kemudian mengumpati sikap Bapak padanya.

Agaknya, orangtuanya, dalam hal ini mertuaku, membekalinya sangat banyak sikap nrimo saat Mariatun memutuskan merantau ke Medan sebagai penjual jamu gendong belasan tahun lalu.

Sejak kematian Ibu, Bapak tinggal sendiri di rumah. Rumah itu terlalu besar bila hanya diisi Bapak. Bapak tidak terlalu bisa merawatnya, tapi Bapak akan marah besar bila kuminta Mariatun membersihkannya. Dengan umpatan kasar Bapak bilang: rumah itu justru semakin kotor bila Mariatun yang membersihkan.

Sebenarnya, akan lebih baik bila keluargaku pindah ke rumah Bapak, jadi beliau tenang melewati hari tuanya. Tidak perlu Bapak memasak, cuci baju, juga tinggal sendiri. Apalagi secara adat Batak, aku sebagai anak lelaki termuda yang berhak menempati rumah itu kelak, setelah Bapak tiada.

Bila melihat Bapak cuci baju di tepi Danau Toba, ibaku berhamburan. Tangan kurusnya gemetaran membilas baju-baju itu. Pernah kuhubungi abangku yang anggota DPRD di perantauan. Kubilang, alangkah baiknya bila ada kamar mandi di rumah Bapak. Sehingga Bapak tidak perlu beraktivitas di tepi danau.

Abangku bilang itu tanggung jawabku karena kelak akulah yang menempati rumah itu. Ketika kubilang pada saudaraku yang lain, jawaban mereka beragam dengan satu kesimpulan bulat; tidak akan ada kamar mandi di rumah Bapak. Bahkan hingga sekarang, ketika tubuh bapak semakin renta.

Aku jelas tidak memiliki uang, hanya tenaga yang bisa kuberikan pada Bapak. Itu pun pasti tidak akan Bapak terima.

Setiap malam, diam-diam kuisi drum penampung air di samping rumahnya. Dengan berisinya drum itu, setidaknya Bapak tidak perlu berjalan sampai ke tepi danau untuk cuci piring dan mengambil air untuk keperluan dapur lainnya.
***
IBU meninggal lima tahun lalu. Waktu itu, Ibu tidak tidak pernah mengeluh sakit di tubuhnya. Orang-orang bilang Ibu meninggal tua walau sebenarnya Bapak justru lebih tua dari ibu.

Ibu berbeda dari Bapak. Awalnya Ibu memang kecewa kuliahku putus di tengah jalan sebab perilakuku. Tetapi Ibu bisa menerima Mariatun, kemudian anak-anakku lahir.

Kami sering berkunjung ke rumah. Anak-anakku bahkan sering menginap di sana. Mariatun rutin mengirimkan masakannya dengan jumlah cukup untuk dua orang walaupun tahu Bapak tidak pernah sudi menyentuhnya.

Tanpa sepengetahuan Bapak, Ibu sering menyelipkan uang dalam sakuku. Aku selalu berusaha menolak. Setelah menikah, aku bukan tanggungan Ibu lagi. Justru seharusnya aku yang memberi pada Ibu. Dengan lembut Ibu pernah menggeleng sembari tersenyum. Sebelah tangannya menahan uang supaya tetap dalam saku kemejaku, sementara tangan yang lain mengelus pundakku dengan lembut.

Aku merasa Ibu lebih menyayangi anak-anakku ketimbang cucunya yang lain bila mereka berkunjung ke kampung. Ibu memang selalu memeluk, mencium, dan mengelus rambut-rambut cucunya yang datang dari perantauan.

Tetapi dalam penglihatanku, Ibu berbeda ketika melakukannya terhadap anak-anakku. Ibu tampak jauh lebih lembut, lebih tenang dan senang melakukannya.

Kepergian Ibu sangat memukulku, tetapi anak-anakku lebih kehilangan. Waktu itu Sally belum ada. Anehnya, setelah Ibu tiada, Bapak justru semakin tidak suka pada Mariatun dan anak-anakku. Seolah-olah beliau menyalahkan mereka atas kepergian Ibu. Padahal, mungkin kamilah orang yang paling kehilangan atas kepergian ibu.
***
HANYA Bapak yang terpikir olehku begitu melihat berita di televisi. Sembari melangkah gegas, kuharap Bapak sedang tidur atau menonton saluran televisi yang lain. Bapak tidak akan sanggup menerimanya.

Pintu rumah Bapak terbuka lebar. Televisi ukuran sedang menyala di sudut ruangan. Salurannya sama persis dengan yang kutonton di rumah. Tidak ada Bapak di tempat duduk kesukaannya menonton televisi.

Kusibak sedikit tirai penutup pintu kamar, tetapi tidak ada Bapak di sana. Dari pintu dapur yang terbuka lebar kulihat Bapak di halaman belakang. Lelaki berambut perak itu menduduki bangku panjang yang tersedia di bawah sebatang pohon mangga tua.

Kakiku menjejak anak tangga yang terbuat dari kayu. Kudekati Bapak sembari menebak-nebak dalam hati, sudahkah Bapak mengetahui berita itu dari televisi?

Bapak memang tidak menyukai Mariatun dan anak-anakku, tapi tidak denganku. Ia kecewa denganku, tapi tidak membenciku. Pintu rumah Bapak selalu terbuka untukku, ia mau terlebih dulu menyapaku. Akulah yang selama ini menjaga jarak.

Yang kulakukan hanyalah duduk di samping Bapak. Tidak kutahu berapa lama kami berbagi sepi. Aku sibuk berpikir apa yang terbaik untuk kulakukan, mengatakannya atau mendiamkannya. Membiarkan Bapak mengetahuinya dari waktu, karena belum tentu yang kulihat tadi benar.

Terus terang aku hanya berusaha menghibur diri dengan mengatakan hal itu belum tentu benar. Walaupun sosok lelaki di dalam televisi berjuang menutupi wajah dengan koran, aku tahu itu abangku. Inisial nama dan partai yang disebut semakin menjelaskan.

“Sudah berapa tahun kau berumah tangga?” Tiba-tiba Bapak bertanya.

“Hampir sebelas tahun, Pak.”

“Kau bahagia?”

“Tentu,” sahutku penuh semangat.

“Walaupun miskin, hidup susah?”

“Seperti kata orangtua dulu, Pak. Anak do hamoraon. Anak harta paling berharga.”

Nyaris tanpa suara Bapak tertawa. Sejak Mariatun kubawa ke kampung, seingatku ini pertamakalinya Bapak tidak sekadar berbasa-basi padaku.

“Bukankah akan lebih bahagia bila punya anak, sekaligus harta dan jabatan?”

Baca Juga

Kapten Kapal

Bundelan Hills

Tenggelam

Aku mengangguk, walau belum pernah memiliki harta dan jabatan. Berkelebat sebuah pertanyaan dalam hati, apakah bapak melihat berita di televisi sehingga bertanya seperti itu?

Kembali senyap mengepung kami berdua. Duduk tidak jauh di dekat Bapak seperti sekarang semakin menyadarkanku, ternyata Bapak sudah sangat sepuh. Kulitnya penuh keriput dan bercak hitam. Tangannya sering gemetar walau hanya mematung.

Perih mengoles hatiku, sampai Bapak setua ini, belum pernah ia kuberi bahagia. Melihat kerentaannya, tidak panjang lagi waktu yang Bapak miliki. Semoga Bapak tidak bernasib serupa Ibu, pergi tanpa pernah mencicipi manisnya memiliki anak sepertiku.

“Apakah televisi di dalam masih hidup?”

“Masih, Pak!”

Kumatikan karena Bapak memintanya.

“Kenapa televisi hidup tapi tidak Bapak tonton?” tanyaku setelah duduk kembali di samping Bapak.

“Tadi aku menonton. Tiba-tiba kulihat abangmu di dalam. Aku benci melihatnya. Daripada televisi itu rusak olehku, lebih baik kutinggal saja.”

“Bapak jangan percaya dengan berita di televisi tadi. Banyak berita bohong sekarang.”

“Abangmu tidak akan menutupi wajahnya bila tak bersalah.”

Bapak benar. Sesungguhnya ucapanku barusan tidak sesuai dengan hatiku. Aku hanya berusaha menghibur dan menenangkan bapak.

Bapak menyalakan rokoknya. Ceruk sangat dalam lahir di kedua pipinya ketika menghisap rokok itu. Tidak banyak asap yang keluar dari hidung maupun mulut saat beliau mengembus napas. Aku mematung di sampai Bapak menghabiskan sebatang rokok kemudian mengisap sebatang lagi.

Aku tetap diam hingga Bapak menghabiskan tiga batang.

“Cukup, Pak!” Aku menjauhkan bungkus rokok ketika Bapak hendak mengisap rokok keempat. Aku mengerti apa yang bermain-main di kepala Bapak. Aku tahu kondisi hatinya. Bapak selalu lari pada rokok setiap kali ia tidak tenang.

“Ah, sebaiknya aku tidur saja.”

Dengan susah payah Bapak menaiki tangga. Aku mengantarnya dengan tatapan iba. Bapak sangat bangga dengan abangku yang anggota DPRD di perantauan itu. Kesuksesan abangku merupakan obat kegagalanku.

Sekarang, abangku itu terseret kasus penerimaan dana hibah. Uang yang seharusnya dipakai untuk sedikit melepaskan masyarakat dari jepitan hidup, sebagian justru lesap ke dalam saku abangku.

Betapa rakus dan hinanya abangku itu. Betapa ia tidak memikirkan masyarakat yang menjerit kelaparan. Tega sekali abangku itu menarik Bapak dari puncak kebanggaan kemudian membenamkannya ke lubang kekecewaan.

“Kau akan pulang?” Bapak bertanya di ambang pintu dapur.

“Belum, Pak.”

Bapak membiarkan pintu ternganga.

Tidak lebih lima menit setelah itu aku duduk di atas tikar rumah Bapak. Dua meter di depanku televisi pemberian abangku yang anggota DPRD di perantauan tampak kesepian, sementara punggungku tumpah pada dinding papan kamar Bapak.

Mataku mengedari di ruangan. Dinding papan nyaris penuh disemaki foto-foto. Semua foto itu berisi gambar kesuksesan anak-anak Bapak dalam pendidikan maupun pekerjaan. Baru kusadari hanya ada satu fotoku dipajang di sana, sebuah pasfoto untuk ijazah SD dalam ukuran besar.

Aku berdiri begitu menyadari matahari nyaris terbenam di ujung langit. Beberapa jam kuhabiskan hanya duduk dengan pikiran melayang tanpa tujuan. Sebelum pulang, pelan kusibak tirai sebagai pengganti daun pintu yang menutupi kamar.

Berbeda dari dugaanku, ternyata Bapak tidak berada di tempat tidur. Beliau duduk di lantai papan dengan punggung menghadapiku. Sesekali tangan kanannya bergerak-gerak. Meskipun penasaran apa yang sedang Bapak lakukan, aku hanya menatap dengan tubuh bagai arca.

“Masuklah!” Rupanya Bapak mengetahui keberadaanku walau tanpa menoleh ke belakang.

Terakhir kali kumasuki kamar ini ketika Ibu meninggal. Waktu itu aku yang mengangkat jenazah Ibu dari kamar kemudian ditempatkan di ruangan keluarga. Nyaris tidak ada perbedaan kamar sampai sekarang.

Baju-baju Ibu bahkan masih berada di dalam rak-rak yang berfungsi sebagai lemari pakaian. Rupanya Bapak mempertahankan “bau” Ibu di kamar tidur mereka.

Ternyata Bapak tengah tersuruk pada masa lalu dengan membuka album berisi foto-foto lama, sebagian warna foto telah pudar, lengket dengan plastik penutup foto.

“Duduk.” Bapak menepuk papan di sampingnya.

Bapak menutup album foto usang itu kemudian membukanya lagi dari lembar pertama. Berdua kami menatapinya. Kadang Bapak bertanya apakah aku mengenal siapa yang di dalam foto, bila foto itu tampak usang.

Bapak menjelaskan satu per satu dalam momen apa foto itu tercipta. Tidak banyak yang kuingat dengan foto-foto itu karena aku memang masih sangat kecil di dalamnya.

Tatapan Bapak tumpah pada sebuah foto berisi keenam anaknya. Aku ingat, foto itu diambil tepat di hari Natal, selepas pulang dari gereja. Waktu itu aku sudah sekolah, tapi lupa kelas berapa. Kami berenam tertawa lebar, sangat bahagia.

Lama sekali Bapak menatap foto itu. Aku gagal ketika mencoba mengais-ngais apa yang tengah bermain di benaknya.

“Ada di rumahmu pigura sebesar ini?” Bapak menunjuk foto itu.

“Ada, Pak.” Bila tak ada, akan kubeli. Begitu pikirku.

“Ambilkan. Pasang foto ini ke dalam.”

Aku bergegas pulang. Untunglah ada. Pigura itu membingkai foto Mariatun dan ketiga anak kami. Mariatun menatap tanpa bertanya ketika foto itu kukeluarkan dari dalam kemudian kubawa ke rumah Bapak.

Bapak memintaku menurunkan semua foto dan memajang foto itu. Setelah terpasang, Bapak menatapnya dengan wajah penuh senyum. Sementara mataku malah menatapi foto yang sekarang tergeletak di lantai.

“Buang saja semua foto itu,” kata Bapak. ***

T. Sandi Situmorang, menetap di Binjai, Sumatera Utara. Cerpen tulisannya pernah tampil di berbagai surat kabar serta majalah terbitan Jakarta. Ia juga menulis puisi dan novel.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...