Gantungan Kunci Ala Maumere yang Memikat

Editor: Mahadeva

403

MAUMERE – Kerajinan gantungan kunci, dengan motif khas Kabupaten Sikka, berpotensi menjadi salah satu kerajinan tangan yang banyak digemari. Kreasi warga Sikka tersebut, mulai banyak diminati karena harga jualnya tergolong murah, dan terjangkau berbagai kalangan.

Purwiji Ningrum,pengrajin gantungan kunci di kota Maumere yang memiliki karyawan kaum difabel. Foto : Ebed de Rosary

Banyaknya peminat, mendorong perajin di Kabupaten Sikka, mulai fokus memproduksi dan menjual kerajinan gantungan kunci. Pesanan berdatangan bukan, hanya dari Kabupaten Sikka, tetapi juga dari luar daerah. “Sementara ini saya fokus membuat gantungan kunci, sebab harganya murah dan terjangkau. Siapa saja bisa membelinya dengan harga Rp5 ribu rupiah,” sebut Purwiji Ningrum, perajin gantungan kunci, Selasa (8/1/2019).

Dikatakan Nining, sapaannya, untuk gantungan kunci dari bahan kayu jati putih, tersedia bermacam-macam model. Ada yang berbentuk botol, salib, lonceng, boneka dan gendang. Ukuran kecil dijual Rp5 ribu, sementara untuk ukuran besar dihargai Rp10 ribu per buahnya. Ada pula, gantungan kunci berbahan mika yang diukir, serta berbentuk dompet dari kain tenun. Untuk dompet dijual Rp10 ribu sebuahnya.

Semua bahan yang digunakan, termasuk kayu jati putih, berasal dari bahan limbah pabrik. Untuk mendapatkan kayu, dengan membeli kayu jati bekas potong di Kabupaten Ngada. Murahnya harga, membuat produk tersebut selalu laris dibeli berbagai kalangan. “Banyak guru-guru yang mengambilnya untuk dijual di sekolah dan dilingkungan tempat tinggalnya. Ada juga yang dijual di toko, tetapi penjualan rutin dilakukan setiap hari Sabtu saat car free day,” ungkapnya.

Nining, memiliki dua tempat untuk produksi dan penjualan di Kota Maumere. Selain dijual langsung, produk gantungan kunci juga dititipkan di sebuah hotel di Labuan Bajo, untuk dijual kepada wisatawan. Perempuan murah senyum tersebut, memberdayakan kaum difabel, untuk menghasilkan kerajinan tangan. Para pekerja diberi gaji bulanan, disesuaikan dengan kemampuan bekerja setiap harinya.

“Saya tidak memaksa mereka bekerja seharian. Ada yang bekerja dari pagi hingga siang hari, atau sekitar empat jam saja. Ada yang delapan jam. Desain yang dikerjakan pun tergantung kemampuan masing-masing, setelah diberikan pelatihan,” terangnya.

Dengan membuat gantungan kunci, Nining memiliki penghasilan lumayan. Setelah dipotong ongkos produksi, gaji serta komisi penjual, terkadang sebulan bisa mendapat keuntungan bersih Rp5 juta, tetapi terkadang lebih.

Kini, Nining berani menyewa tempat usaha, yang juga dijadikan sebagai toko penjualan souvenir. Dengan peluang yang ada, Nining selalu mencari pemasaran di luar daerah, diantaranya dengan memanfaatkan internet. “Saya ingin menyewa tempat usaha yang dimiliki Dinas Pariwisata Sikka, di pusat jajanan dan cinderamata. Selain tempatnya strategis di tengah kota, juga bisa sebagai tempat untuk finishing produk. Pemerintah harus membantu perajin kecil, agar bisa berkembang, baik lewat pemasaran maupun modal usaha,” imbaunya.

Pesanan terbanyak yang biasa diterima, biasanya untuk suvenir pernikahan. Pemesanan suvenir, sekali masuk jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan buah. Pembeli terkadang datang sendiri ke tempat usahanya, mengikuti informasi dari saudara, tetangga atau temannya.

Magdalena Oa Nona, salah seorang difabel yang membuat gantungan kunci menyebut, dalam sehari bisa memperoduksi 100 gantungan kunci. Dia hanya melakukan finishing, seperti memasang mainan dan aksesoris serta mengecat. “Saya senang bekerja disini sebab diajari untuk membuat berbagai aneka kerajinan tangan.Tapi saya lebih suka membuat finsihing gantungan kunci berbahan dasar kayu jati,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...