hut

Gedung Rusak, KBM Siswa Dua SDN Kunjir Digabung

Editor: Koko Triarko

Haeruddin, Kepala SDN 1 Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

LAMPUNG – Kondisi bangunan sekolah SDN 2 Kunjir, di Kecamatan Rajabasa,Lampung Selatan, yang rusak akibat tsunami pada Sabtu (22/12/2018), hingga kini masih belum digunakan. Haeruddin, Kepala SDN 1 Kunjir, menyebut, berdasarkan data, sebanyak 87 siswa SDN  2 Kunjir sementara masih melakukan kegiatan belajar-mengajar (KBM) di SDN 1 Kunjir.

Penggunaan ruang kelas di sekolah tersebut, dilakukan dengan sistem pembagian waktu. Saat pagi hari, sekolah SDN 1 Kunjir digunakan untuk kegiatan belajar mengajar bagi 155 siswa, dan 87 siswa dari SDN 2 Kunjir. Sebanyak 36 siswa di antaranya terdampak langsung akibat rumah keluarganya diterjang tsunami.

“Penggunaan ruang belajar di SDN 1 Kunjir dilakukan bersama dengan SDN 2 Kunjir, agar kegiatan belajar tetap berjalan normal, termasuk para guru pengajar,” terang Haeruddin, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (31/1/2019).

Menurutnya, pengaturan waktu kegiatan belajar mengajar yang dilakukan sejak pagi hingga siang hari, akan tetap dilakukan hingga sekolah rusak mendapatkan lokasi baru. Kerusakan pada SDN 1 Kunjir berupa ruang guru, telah mulai diperbaiki, sehingga aktivitas KBM kembali berjalan dengan normal. Bantuan berupa bahan bangunan dari sejumlah pihak termasuk dana rehabilitasi, sudah diaplikasikan.

Ita Rosada, salah satu guru sekolah di SDN 2 Kunjir, sekaligus koordinator bantuan, menyebut para siswa sudah mulai melakukan aktivitas seperti biasa.

Sebagian besar donasi dalam berbagai bentuk bagi para siswa, telah dipergunakan untuk siswa SDN 1 Kunjir dan SDN 2 Kunjir melakukan aktivitas belajar.

Penggunaan ruang belajar yang masih memakai bangunan sekolah SDN 1 Kunjir, kata Ita Rosada, sejauh ini tidak menganggu kegiatan siswa belajar.

“Siswa dua sekolah memang belajar pada satu lokasi untuk mempermudah jadwal sekolah pagi dan sekolah sore diberlakukan”, papar Ita Rosada.

Kebutuhan bagi 36 siswa terdampak tsunami yang kehilangan tempat tinggal dan peralatan sekolah, kata Ita Rosada, masih tetap terpenuhi. Meski demikian, ia mengaku bantuan bagi guru terdampak tsunami juga masih sangat diperlukan, terutama seragam serta beberapa keperluan.

Bantuan kepada guru sebagian juga telah diberikan oleh pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Ita Rosada menyebut, selain dukungan berupa seragam bagi guru, sebagian guru yang terdampak langsung juga membutuhkan dukungan psikologis. Sebab, saat ini 5 guru di SDN 1 Kunjir merupakan guru terdampak langsung tsunami, dengan tugas sebagai tenaga pengajar, sementara kondisi keluarga terdampak tsunami.

“Selain dukungan untuk kebutuhan sehari-hari sebagai guru, para guru juga membutuhkan dukungan psikologis, sehingga saat mengajar tetap fokus untuk pengabdian kepada para siswa,” terang Ita Rosada.

Ria, orang tua salah satu siswa menyebut, sangat berterima kasih kepada sejumlah donatur. Wanita yang kehilangan salah satu anak balitanya akibat tsunami ini juga memiliki siswa yang duduk di bangku sekolah.

Ia menyebut, sang anak masih tetap bisa bersekolah dengan adanya bantuan dari para donatur, terutama peralatan sekolah. Meski demikian, untuk kebutuhan tempat tinggal, ia masih mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk hunian tetap.

Lihat juga...