Gubernur Akui Masih Ada Kawasan Kumuh di Jakarta

Editor: Koko Triarko

266
Gubernur DKI, Anies Baswesdan, di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019), sore. -Foto: Lina Fitria

JAKARTA – Gubernur DKI, Anies Baswedan, mengakui masih ada kawasan di Ibu Kota Jakarta terlihat kumuh. Menurutnya, kesalahan tata ruang menjadi penyebab adanya perbedaan kondisi kawasan Thamrin dengan Tanjung Priok.

Anies menyampaikan hal itu,menanggapi pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyebut, Jalan MH Thamrin seperti di Singapura, sementara Tanjung Priok seperti Bangladesh. Bahkan, Orang nomor satu Ibu Kota DKI itu menyebutkan, bahwa pernyataan Jusuf Kalla merupakan sebuah fakta dan bukan kritik.

“Tidak, itu bukan kritik, tapi itu fakta. Itu Pak JK mengatakan itu contoh. Ketika tata ruang dirancang dengan benar, maka private sector juga akan bergerak membangun di situ. Tapi kalau kita tidak membuat perencanaan tata ruang yang benar, ya tidak akan ada pergerakan perekonomian,” ucap Anies, di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019), sore.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mencontohkan, salah satu bentuk ketimpangan dalam perencanaan tata ruang adalah soal pembangunan apartemen di Jakarta.

Menurutnya, pembangunan proyek apartemen membutuhkan tanah yang luas dan dapat memberikan efek yang luas. “Saya beri contoh, kalau Anda mau membangun rusun di Jakarta, mau invest bikin apartemen di Jakarta, ada minimum ukurannya, dan minimum ukurannya itu membuat hanya yang besar yang bisa membangun yang besar dan menengah sulit bangun rusun,” tuturnya.

Dalam rencana tata ruang di Jakarta yang harus menjadi perhatian, kata dia, yakni pembangunan apartemen tidak sesuai dengan prosedur. Berdirinya perumahan vertikal itu seharusnya ada di tanah seluas empat hektare, tapi kenyataannya, tidak.

“Jadi faktanya, kita tak melaksanakan tata ruang dengan serius, dengan target-target yang jelas, efeknya ada ketimpangan,” kata Anies.

Anies menyinggung soal aturan tata ruang di DKI. Di Ibu Kota, pembangunan apartemen harus dilakukan di atas tanah seluas 4.000 meter persegi.

“Kalau teman-teman lihat apartemen, apartemennya upscale. Karena aturannya harus tanahnya 4.000 meter. Kalau 4.000 meter di Jakarta yang bisa bangun 4.000 meter yang mana? Yang besar, efeknya dibangun di tempat-tempat yang strategis pula,” sebut Anies.

Menurut Anies, jika kesalahan tata ruang wilayah diubah, investasi akan masuk dan kawasan tersebut akan menjadi maju. Perbedaan rencana tata ruang di Thamrin dan Tanjung Priok itulah yang menonjol di kedua wilayah tersebut.

“Thamrin City dan Grand Indonesia, dulunya permukiman semua, bukan? Apa yang terjadi, dalam rencana tata ruang, dilakukan perubahan, kemudian terjadi investasi,” kata Anies.

Menurut dia, ini merupakan buah dari pemerintahan yang lalu, sehingga berdampak seperti ini. Perencanaan tata ruang dan wilayah tidak dilakukan secara matang.

Baca Juga
Lihat juga...