Gubernur DKI Keluarkan Instruksi Tangani DBD

Editor: Koko Triarko

236
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu (30/1/2019). -Foto: Lina Fitria

JAKARTA – Gubernur DKI, Anies Baswedan, menyatakan telah memberikan instruksi ke seluruh jajarannya di lima wilayah DKI, untuk segera merespons dengan cepat penanganan kasus demam berdarah dengue (DBD), terutama kepada tiap Lurah dan Camat.

Menurutnya, hal itu sebagai landasan hukum, agar fasilitas kesehatan yang ada di DKI dapat memaksimalkan pelayanannya kepada masyarakat.

“Instruksi gubernur sebentar lagi akan keluar, dan sekarang sudah bisa dijalankan. Instruksi Gubernur itu nanti akan menjadi landasan untuk mereka melakukan pembiayaan-pembiayaan dan lain lain,” kata Anies, di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu (30/1/2019).

Menurut Anies, Intruksi Gubernur itu sebagai landasan kegiatan berjalan. Tetapi, kalau melakukan kegiatan-kegiatan tambahan terkait DBD, dapat membutuhkan dasar hukum. Namun, kegiatannya sudah jalan, bukan menunggu Instruksi Gubernur, baru bergerak.

“Ini angkanya yang sangat tinggi dibandingkan tahun lalu atau pun dua tahun lalu. Jadi, memang kita menghadapi situasi yang berbeda, ini diperlukan keterlibatan semua,” katanya.

Dia mengharapkan, masyarakat menjadi juru pemantau jentik (jumantik) di rumahnya masing-masing, karena perpindahan nyamuk itu tidak normalnya manusia. Nyamuk bisa terbang dari satu tempat ke tempat lainnya, karena itu pantau di setiap rumah.

“Saya rasa kewaspadaannya sudah pada level nasional, bukan hanya di Jakarta, tapi juga di berbagai wilayah dan Kementerian Kesehatan sudah mulai bersama kita sejak awal bulan ini,” kata Anies.

Selain itu, dia juga mendapatkan laporan, bahwa warga Jakarta yang mengidap penyakit DBD hingga akhir Januari 2019 sudah mencapai 662 orang.

“Ini angkanya yang sangat tinggi dibandingkan tahun lalu atau pun dua tahun belakangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI, Widyastuti, juga menyarankan, supaya masyarakat menutup tempat penampungan air bersih, menguras dan menyikat tempat penampungan air bersih serta mendaur ulang dan memusnahkan barang-barang bekas.

“Kemudian secara biologi juga kita kembangkan penaburan ikan pemakan jentik, kemudian penanaman tanaman yang tidak disukai nyamuk,” kata Widyastuti.

Bila telah melakukan langkah-langkah tersebut dan masih ada yang terjangkit DBD, cara terakhir yang harus dilakukan, yakni dengan pengasapan atau fogging.

Dari data yang diterima Widyastuti dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), penyebaran nyamuk aedes aegypti paling banyak ada di tiga wilayah Jakarta, yang memiliki kelembaban tinggi.

“Sesuai dengan prediksi dari BMKG, memang ada tiga kota di Jakarta yang kelembabannya tinggi, yaitu Jakarta barat, Timur dan Selatan,” kata Widyastuti.

Bahkan, Pemprov DKI meluncurkan layanan kesehatan lewat aplikasi android bernama DBD Klim, untuk mengukur kelembaban suhu di wilayah DKI Jakarta, dan memantau seberapa banyak korban yang akan terkena DBD.

“DBD Klim ini bentuk kolaborasi antara data yang kami punya di Dinas Kesehatan, disandingkan dengan pemodelan data dari BMKG pusat, yaitu tentang curah hujan, kelembaban. Dari data ini bisa memprediksi dua bulan ke depan, bagaimana kira-kira gambaran kelembaban di DKI yang berimplikasi terhadap peningkatan kasus,” kata Widyastuti.

Diinfokan dari survei melalui sistem yang dimiliki Dinas Kesehatan DKI, sebanyak 160 rumah sakit sudah melaporkan secara aktif setiap hari kasus yang dirawat, terutama di Jakarta Barat, Timur dan Selatan.

Lihat juga...