Gunung Anak Krakatau Semburkan Asap

Editor: Koko Triarko

320

LAMPUNG – Asap letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) yang keluar dari kawah, terlihat membubung hingga ketinggian 300 hingga 1.500 meter di atas puncak kawah.

Muhtarom (50), nelayan warga pesisir Desa Kelawi, Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut aroma belerang sempat tercium di wilayah itu pada Kamis hingga Jumat (3-4/1/2019), dari asap GAK yang terbawa angin. Sejak Sabtu pagi, asap tebal masih membubung tinggi dan terbawa angin ke arah timur.

Asap dengan warna putih dan kelabu tersebut, diakui Muhtarom terus muncul, meski tidak disertai dentuman seperti pekan sebelumnya.

Ia juga menyebut, kondisi gelombang di perairan pantai wilayah tersebut cenderung normal, sehingga nelayan yang akan melakukan perbaikan perahu dan bagan di tepi pantai, tidak khawatir. Sejumlah warga yang mengajak serta anaknya pada akhir liburan sekolah, bahkan disebutnya menyempatkan bermain di pantai Minang Rua yang dipenuhi sampah akibat terjangan tsunami.

Muhtarom, salah satu nelayan di pantai Desa Minang Ruah, Desa Kelawi, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

“Sejak beberapa hari terakhir, asap keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau, meski suara gemuruh seperti guntur tidak terdengar, imbas asap pulau Rakata, pulau Sertung dan pulau Panjang tidak terlihat,” terang Muhtarom, Sabtu (5/1/2019).

Menurut Muhtarom, masyarakat pesisir pantai di wilayah tersebut mulai berbenah. Sebagian merupakan nelayan, petani pemilik kebun dan beberapa warga yang memiliki tanaman pisang, jagung dan kakao. Tanaman produktif ini mati, yang diduga akibat terendam air laut.

Sejumlah warga terpaksa menebang sebagian tanaman yang mati akibat terjangan air laut. Material pasir apung dan batu apung juga menutupi sebagian wilayah pantai Minang Rua dan pantai Belebug, yang sebagian dipergunakan sebagai lokasi lahan pertanian jagung.

Setelah kondisi membaik dan hujan turun secara rutin, ia mengaku beberapa jenis tanaman akan kembali bisa tumbuh subur, karena pengaruh air laut mulai berkurang.

Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api, Gunung Anak Krakatau, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) RI, menyebut, dari pos pengamatan GAK, asap tidak terlihat.

Kabut yang berada di perairan dan di dekat pos pengamatan lereng Gunung Rajabasa, membuatnya tidak bisa mengamati dengan mata telanjang. Meski demikian, dari sejumlah pantai di wilayah Rajabasa dan Bakauheni, GAK bisa terpantau.

Terkait kondisi GAK, saat dihubungi, anggota Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud), Brigadir Kepala Polisi, Deden Rusyanto,  membenarkan erupsi GAK masih terus berlangsung. Sejumlah personel polisi dan TNI ditempatkan untuk mengamankan sejumlah dusun yang ditinggalkan oleh warga yang mengungsi.

Selain melakukan pengamanan rumah warga dari aksi penjarahan, tim keamanan juga melakukan pencarian terhadap korban hilang.

 

Bripka Deden Rusyanto menyebut, masih ada 7 korban tsunami yang belum ditemukan. Salah satu di antaranya warga Pulau Sebesi, bernama Aulia Meyza, dan enam lainnya merupakan warga  Desa Kenali, Kecamatan Rajabasa.

Sejumlah warga yang belum ditemukan, yakni Sahri, Saman, Asim, Asmara, Rohani dan Madsamil. Upaya pencarian dilakukan oleh personel Basarnas dan Polairud Polres Lamsel serta TNI AL.

Baca Juga
Lihat juga...