Hama

CERPEN ANAS S. MALO

266

SAWAH kami akan segera panen. Kami sudah melihat sendiri padi-padi itu sudah menguning. Butir-butirnya padat, berisi. Tujuh puluh lima hari kami menunggu. Selama itulah kami merawat sebagaimana merawat anak-anak kami sendiri.

Akhirnya padi-padi itu merunduk dan tampak gemuk setelah melewati masa-masa penuh ujian. Hama dan penyakit yang begitu sulit kami kendalikan.

Berderet sawah menghampar di sudut desa. Sungai mengalir dengan leluasa. Beberapa bendungan dibuat untuk pengairan. Tanaman-tanaman begitu segar dan sebagian sudah siap panen. Kau bisa melihat orang-orang membawa cangkul dan arit. Kau juga bisa melihat sapi-sapi malas dipaksa untuk membajak atau kau  melihat wanita-wanita menanam bibit padi, ditancapkan ke tanah berlumpur penuh keringat.

Ya, rata-rata warga menggantungkan hidup pada sawah dan kebun. Tanah kami begitu subur. Tanaman akan mudah tumbuh. Orang-orang pergi ke sawah begitu pagi masih buta dan akan pulang ketika matahari mulai di atas kepala. Setelah waktu Asar, mereka kembali dan akan pulang ketika matahari akan tenggelam.

Ketika fajar mulai merekah, aku berangkat ke sawah memanggul cangkul, arit beserta bekal yang dibawa di tangan kiriku. Aku berjalan menyusuri pematang sawah. Lanjaran berjajar terlilit akar kacang. Kami menyebut kacang lanjaran.

Setelah sampai di sawah, aku meletakkan bekalku. Aku turun dari sawah. Sinar matahari memancar dari timur merangkak naik perlahan.

Aku mencangkul lahan yang kosong agar segera dapat ditanami. Sesekali aku melihat petak sebelah, merasa bahagia, karena tanaman padiku beberapa hari lagi siap untuk dipanen.

Peluhku berjatuhan di lumpur. Aku meneruskan mencangkul. Sinar matahari tidak bisa menembus topi anyamam dari bambu.

Dua hari yang lalu, aku mendengar kabar di radio, kalau tidak salah, presiden akan membuat kebijakan tentang pertanian. Jika aku tidak salah dengar, presiden akan melakukan perbaikan di sektor pertanian, untuk membantu pembangunan negara. Katanya pula, akan membagi pupuk secara cuma-cuma.

Entah, radioku terlalu usang sehingga tidak terlalu jelas aku mendengarnya. Tapi, aku mendengarnya juga menjadi lebih tenang.

Tiba-tiba terdengar suara menggema dari pematang. Suara membentak. Beberapa kali suara itu menyebut namaku.

Jono dengan langkah cepat menghampiriku sambil membawa parang diacung-acungkan. Dadaku berdegup kencang. Dalam hati bertanya-tanya. Aku sempat naik pitam, dia memanggil dengan suara kasar dan berkali-kali mengumpat.

Aku berhenti mencangkul. Matahari mulai panas. Keringatku sebesar biji kacang hijau di kening. Aku bergegas naik ke pematang.

“Apa maksudmu mengurangi pematang sawahku?” bentak Jono.

“Memang seperti itu seharusnya. Coba ukur sawahmu, pasti melebihi ukuran yang seharusnya,” sangkalku.

“Bangsat,” umpatnya. Ia mengayunkan parang ke leherku. Seketika aku berusaha menghindar. Ia menebas membabi buta. Matanya penuh amarah. Napasnya tersengal-sengal. Gerakannya yang tambun membuat aku berkali-kali dapat menghindar dari tebasan.

Aku berusaha menangkis sabetannya dengan cangkul. Aku sudah kehabisan kesabaran. Orang-orang di sekitar mencoba untuk melerai kami yang sudah kalap.

Aku mencoba menyerang dengan mata pacul yang menggumpal oleh lumpur. Terasa berat. Aku menyambarkan pacul ke arah lambungnya, tetapi dia pun bisa menghindar dan menjatuhkan tubuh ke sawah.

Ia tersungkur. Aku bergegas turun dari pematang. Tubuhnya penuh lumpur.

“Mati kau bandot tua,” teriakku. Beberapa orang menahanku.

Persengketaanku dengan Jono berlanjut di balai desa. Pak Kades dan pamong desa mengadiliku beserta Jono. Kami berdua bersepakat untuk tidak membawa persoalan ini ke polisi. Pak Kades menyuruh kami berdamai, tetapi di dalam hati kami masih mengganjal. Masih terngiang-ngiang sikap dan perkataan Jono.

Berselang beberapa waktu, pemerintah membagikan pupuk kepada warga. Warga sangat terbantu. Seizin pemerintah, warga mulai membuka lahan kosong di hutan. Aku dan beberapa warga menebang pohon, agar tidak menghambat sinar matahari masuk ketika lahan sudah ditanami.

Aku dan warga juga membersihkan semak-semak belukar. Aku melihat kera-kera bergelantungan dari pohon ke pohon yang lain.

Baca Juga

Hawa sejuk seketika menjadi panas ketika beberapa pohon tumbang. Burung-burung berhamburan. Perlahan pohon besar tumbang. Aku mendapati beberapa sarang burung yang berisi beberapa telur yang pecah. Aku terus menerebas semak-semak. Kebetulan Jono juga ada di situ. Jono menggasak semak-semak.

Di desa kami sering didatangi dinas pertanian. Mereka sering memberi pelatihan bercocok tanam. Kami diajari cara mengendalikan penyakit dan hama sampai persiapan benih dan semai. Lalu memberi pupuk dengan baik.
***
SEEKOR kera tewas bersimbah darah, kepalanya berdarah setelah kena lemparan batu. Segerombolan kera itu masuk desa. Mereka masuk rumah-rumah warga. Sebagian mendatangi kebun-kebun warga, mendatangi kebun pisang.

Salah satu kera masuk ke rumah Jono. Jono berusaha menangkap dengan jaring, tetapi kera itu terlalu gesit. Kera betina itu mampu melompat-lombat dengan ringan, meskipun ia membawa anak. Melompat ke sana ke mari seperti terbang.

Ia mengacak-acak isi dapur. Jono semakin kesal. Amarahnya menciptakan ide untuk mengambil linggis berukuran sedang, melempari kera itu dengan benda tersebut. Tanpa aba-aba, linggis itu melesat ke arah kera itu, tepat ke arah wajahnya.

Gaduh sesaat. Ia terlempar bersama linggis itu dengan kondisi mengenaskan. Sementara, anak kera itu masih menggelendot induknya yang tewas dengan luka parah di bagian kepala. Kera itu menggeliat. Seketika Jono mengambil pisau. Lalu menyembelih.

Ada pula warga yang memberi makan pada kera-kera kelaparan itu. Tapi tak banyak pula warga yang mengusir kera-kera itu. Bahkan ada pula yang tidak segan-segan membunuh, seperti Jono.

Aku jadi berpikir, kenapa kera-kera itu masuk ke desa. Mungkin itu disebabkan pohon-pohon yang biasanya jadi tempat mereka bergelantungan dan mencari makan telah berkurang. Dan yang paling mengkhawatirkan, kera-kera itu menjadi hama di kebun kami.

Pada akhirnya kekhawatiranku menjadi nyata, setelah mereka masuk ke kebun dan memakan tanaman kami. Tak hanya kera, celeng pun ikut menjadi hama yang beringas.

Pada saat itu, kami sering menjaga kebun kami siang-malam. Setiap siang dan malam kami menjaga kebun. Kami jadi lebih sering, bahkan setiap hari ke kebun, untuk menjaga tanaman kami.

***

MALAM ini aku bersama warga lain menjaga kebun masing-masing. Aku membakar beberapa daun jati kering yang sudah tertumpuk ranting-ranting. Malam ini angin berdesir dingin. Langit tertutup mendung. Tapi bukan berarti bulan tak menampilkan cahaya.

Justru menurutku, suasana seperti inilah yang mampu mempercantik tampilan bulan, ditambah kabut tipis melayang-layang di angkasa. Sesekali mendengar suara ranting patah diterpa angin. Api mulai membakar daun kering dan ranting-ranting yang cukup mengurangi gelap.

Aku duduk sambil mengawasi kebunku dengan senter. Aku menghidupkan radio, mendengarkan lagu campur sari.

Mendengar anjing-anjing warga yang menyalak, pikiranku buyar seketika. Anjing-anjing itu mengejar celeng gemuk jantan, diikuti warga. Celeng itu berlari dari kejaran anjing-anjing yang jumlahnya lebih dari tujuh ekor.

Ia lari menerobos semak-semak. Kegaduhan pecah. Beberapa kali celeng memberi berlawanan dengan serudukan mematikan. Salah satu anjing terpental. Ada pula yang terluka cukup parah. Celeng menguik kesakitan setelah beberapa kali tergigit anjing. Sebuah tombak melayang ke arahnya, namun melenceng.

Celeng itu berusaha untuk meloloskan diri dari kejaran anjing-anjing dan warga. Terus berlalu menuju tepi hutan tapi anjing-anjing itu begitu gigih dan terus mengejar. Ia mendapat banyak cabikan dari anjing-anjing itu.

Tombak melayang kembali. Kali ini tepat di punggungnya. Ia menguik keras. Tombak menancap di punggung dan lagi sebuah tombak melesat di pahanya. Hewan bermulut menjijikkan itu menyerah.

“Kita apakan hewan ini?”

“Bukan cuma najis, tapi binatang ini juga merusak,” tambah salah satu warga.

“Kita bawa pulang saja celeng ini, dengar-dengar dagingnya enak dan penuh lemak.”

Warga mengikat celeng gemuk itu dengan kayu untuk bisa dipikul. Warga begitu bangga atas apa yang sudah didapat. Anjing-anjing mereka mengiringi, menyalak gembira. ***

Anas S. Malo, mahasiswa Teknologi Pertanian, Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...