Harga Anjlok, Petani di Purwokerto Perlu Pendampingan

Editor: Satmoko Budi Santoso

459

PURWOKERTO – Saat harga cabai di sebagian besar wilayah Jawa Tengah anjlok, Bank Indonesia (BI) Purwokerto melakukan terobosan dengan membentuk klaster cabai di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang.

Pendampingan terhadap petani cabai di desa tersebut dilakukan mulai dari hulu sampai hilir, dari memilih waktu tanam, hingga pengolahan cabai pascaproduksi dan pemasaran.

Kepala BI Purwokerto, Agus Chusaini, mengatakan, pemilihan waktu tanam sangat penting, karena akan berpengaruh terhadap penjualan harga cabai hasil panen. Para petani di Gapoktan Ganda Arum baru mulai menanam cabai, diperkirakan akan panen sekitar bulan Maret-Apil tahun ini.

ʺJadi saat harga sedang anjlok sekarang, petani baru mulai menanam, sehingga saat panen nanti diperkirakan stok cabai sedang tidak melimpah dan harga jual terjaga,ʺ jelas Agus Chusaini, Kamis (24/1/2019).

Kepala Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Agus Chusaini – Foto: Hermiana E. Effendi

Lahan klaster cabai ini seluas 1,5 hektar dan ditanami cabai sebanyak 22 ribu tanaman. Pola tanam menggunakan teknologi sungkup, untuk melindungi tanaman dari curah hujan yang tinggi. Penerapan pola tanam ini juga didampingi langsung oleh Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, serta penyuluh pertanian.

Terkait pengolahan pascapanen, saat ini BI Purwokerto sedang memikirkan format yang mudah dan tepat untuk diterapkan pada petani di Gandatapa. Misalnya, dibuat sambel kemasan yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi, atau bisa juga dikeringkan. Dalam pengolahan pascapanen ini, BI juga akan terjun langsung melakukan pelatihan, hingga penjualan produk olahan cabai.

ʺIntinya kita antar petani cabai sampai menemukan formula yang tepat dan sampai mereka bisa mandiri. Ke depan kita juga akan mendorong penguatan lembaga koperasi untuk petani cabai serta membuka akses pasar seluas-luasnya,ʺ kata Agus Chusaini.

Untuk menentukan masa tanam yang tepat, saat ini petani masih menggunakan cara tradisional. Biasanya mereka akan survei dengan mendatangi penjual bibit cabai, jika bibit cabai banyak yang laku. Artinya di wilayah tersebut banyak petani yang sedang menanam cabai.

Dalam diskusi BI dengan pemkab, untuk menyeragamkan jenis tanaman dan digunakan pola bergilir, tidaklah mudah. Petani seringkali menaman tanaman yang mereka kehendaki sendiri.

ʺKita juga berusaha mencari data jenis tanaman pada suatu wilayah tertentu, tetapi sulit. Karena itu kita dorong agar petani bisa menggunakan aplikasi, karena sekarang era teknologi.

Minimal petani mempunyai platform untuk mengisi data sendiri, sehingga akan muncul data sampai dengan jenis tanaman di suatu wilayah dan waktu tanamnya. Ini penting untuk menghindari hasil panen yang melimpah serta menjaga kestabilan harga,ʺ terangnya.

 

Baca Juga
Lihat juga...