Harga Cabai Anjlok, Petani di Sleman Rugi Hingga 50 Persen

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Anjloknya harga komoditas cabai di pasaran membuat sejumlah petani di Kabupaten Sleman merugi. Kerugian petani bahkan tercatat mencapai hingga 50 persen lebih. Hal itu diakibatkan harga jual cabai di tingkat petani yang menurun drastis sejak seminggu terakhir.

Salah seorang petani cabai, Sri Supriyati, warga Klero Sumberharjo, Prambanan Sleman, menyebut, harga jual cabai di pasaran menurun drastis sejak 1-2 minggu terakhir. Untuk cabai jenis keriting, tercatat menurun dari sebelumnya Rp15 ribu per kilo menjadi hanya Rp7 ribu per kilogram. Penurunan ini terjadi sejak seminggu terakhir.

Sementara itu untuk cabai jenis rawit, penurunan harga jual di tingkat petani kini hanya mencapai Rp20 ribu per kilogram. Harga jual itu menurun 50 persen lebih dari sebelumnya yang mencapai Rp40 ribu per kilogram.

“Untuk jenis keriting mulai anjlok sejak seminggu terakhir. Sedangkan jenis rawit sudah mulai anjlok sejak 2 minggu lalu. Jelas ini merugikan petani,” katanya, Selasa (15/1/2019).

Para petani termasuk Sri Supriyati sendiri mengaku, tak mengetahui penyebab pasti anjloknya harga komoditas cabai tersebut. Meski begitu ia menduga, penurunan harga jual cabai sejak beberapa waktu terakhir disebabkan karena mulai banyaknya petani cabai di sejumlah daerah yang memasuki masa panen secara bersamaan.

“Mungkin karena banyak petani lain di daerah pegunungan seperti Imogiri dan Dlingo yang saat ini mulai panen. Sehingga otomatis stok melimpah dan harga jatuh,” katanya.

Menanam cabai di lahan sewa seluas kurang lebih 1200 meter persegi, Sri Supriyati, sendiri mengaku, memang hanya fokus menanam cabai sepanjang tahun. Dari lahan itu ia mengaku, biasa mendapatkan hasil panen mencapai 25 kilo setiap musim tanam. Untuk pemanenan sendiri biasa dilakukan setiap 3 hari sekali selama kurang lebih 6 bulan.

“Saya hanya petani buruh. Menanam cabai di lahan milik orang lain. Jadi hasilnya dibagi dua dengan pemilik lahan. Kalau harga jatuh seperti ini, jelas kita sangat rugi. Sudah hasilnya sedikit, masih harus dibagi dengan pemilik lahan,” keluhnya.

Lihat juga...