hut

History of Java, Museum Sejarah Berbasis IT Pertama di Indonesia

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Selain menjadi kota Pariwisata, Yogyakarta selama ini juga dikenal sebagai kota pendidikan, kota sejarah dan kota budaya. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya objek wisata berbasis pendidikan sejarah dan budaya seperti misalnya museum.

Hingga saat ini, setidaknya terdapat puluhan di Yogyakarta. Mulai dari seni budaya seperti batik, dan wayang. Sejarah perjuangan seperti museum Jendral Soedirman dan Benteng Vredeburg, hingga sejumlah lainnya.

Yogyakarta kembali memiliki sebuah museum baru, yakni History of Java. Terletak di Jalan Parangtritis KM 5,5 Sewon, Bantul ini menyimpan ratusan koleksi benda-benda bersejarah, yang menceritakan perjalanan pulau Jawa sejak masa pra sejarah hingga modern.

Hebatnya, History of Java ini diklaim sebagai moesum modern pertama dan satu-satunya, yang berbasis IT di Indonesia. Disini setiap pengunjung dapat belajar mengenal sejarah perjalanan peradaban, budaya, dan seni yang ada di pulau Jawa dengan pendekatan teknologi canggih Augmented Reality (AR) yang tidak ditemukan di tempat lainnya.

“Selama ini kan masih sering dianggap asing oleh sebagian masyarakat, khususnya anak-anak muda. Kita ingin mengubah hal itu, yakni bagaimana lebih mendekatkan dengan memanfaatkan teknologi, seperti gadget” ujar Sales Supervisor Museum History of Java, Ari Wastu Jatmiko.

Ari menjelaskan sebelum masuk, pengunjung akan diminta untuk mendownload sebuah aplikasi di handphone masing-masing. Nantinya itu bisa digunakan untuk mendapatkan penjelasan mengenai isi dalam gedung tersebut. Baik itu lewat suara digital, maupun gambar digital berbentuk tiga dimensi.

“Yang menarik, pengunjung juga bisa berfoto dengan gambar tiga dimensi yang dihasilkan itu melalui HP masing-masing. Seperti bentuk manusia purba hingga hewan-hewan prasejarah,” katanya.
History of Java
Sulistyo Adi menunjukkan cara kerja teknologi Augmented Reality dengan memanfaatkan handphone. Foto: Jatmika H Kusmargana

Dengan tiket Rp30-50 ribu per orang, pengunjung akan mendapatkan sejumlah fasilitas lainnya seperti guide atau story teller dwi bahasa. Menikmati film animasi sejarah pembentukan pulau Jawa di ruang teater atau audio visual. Hingga melakukan sejumlah aktivitas menarik lainnya.

Operation Manager, Sulistyo Adi Prabowo menyebutkan, pihaknya berupaya mendigitalisasi sejarah dalam bentuk nyata. Selain untuk mendekatkan dengan generasi muda, hal itu juga dilakukan untuk mempermudah penyampaian atau penjelasan mengenai sejarah itu sendiri.

“Koleksi terdiri dari sejumlah bagian. Mulai dari masa pra sejarah, masa kerajaan kuno Mataram, Majapahit hingga era modern Kerajaan Islam,” katanya.

Lalu benda-benda koleksi apa sajakah yang tersimpan? Ternyata sangat beragam. Mulai dari artefak kampak perunggu. Boneka mainan penjaga makam dari batu. Bethok atau awal mula keris yang terbuat dari batu. Mushaf Alquran dari kertas berbahan serbuk kayu. Meriam Majapahit atau biasa disebut Cetbang. Hingga mata uang berupa koin perunggu.

“Benda koleksi yang ada di sini sebagaian besar merupakan koleksi pribadi kolektor dari member komunitas. Semuanya merupakan artefak asli. Bahkan ada benda-benda yang sangat langka dan tidak dimiliki museum lainnya bahkan kraton sekalipun,” katanya.

Lihat juga...