HMI: Penanganan Konflik di Sampang Belum Tuntas

354
Ilustrasi [CDN]

SAMPANG – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Timur, meminta pemerintah menuntaskan penanganan konflik bernuansa agama di Kabupaten Sampang, Pulau Madura.

Menurut Basri dari Departemen Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda Badko HMI Jawa Timur, penanganan konflik bernuansa agama yang terjadi pada 2012 itu belum tuntas.

“Pemerintah harus memikirkan, agar konflik ini segera selesai, sehingga kedua belah pihak bisa hidup damai kembali secara berdampingan,” kata Basri, di Sampang, Sabtu (5/1/2019).

Konflik antarkelompok yang terjadi di Kabupaten Sampang pada 26 Agustus 2012, menyebabkan satu orang tewas, enam orang terluka, 47 rumah warga dibakar, dan sedikitnya 282 warga di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Blu’uran di Kecamatan Karangpenang, Sampang, harus dievakuasi.

Basri berharap, pemimpin baru Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan Elistianto Dardak, serta Haji Slamet Junaidi dan Abdullah Hidayat selaku pemimpin baru Sampang, menuntaskan penanganan konflik tersebut sampai kedua pihak bisa hidup berdampingan dalam damai.

“Hidup damai dan saling menghargai perbedaan tentu lebih indah, karena negara ini adalah negara plural yang menghargai perbedaan,” ujar Basri.

Menurutnya, korban konflik itu adalah manusia yang harus dipikirkan dan diperhatikan secara manusiawi pula, dan mereka juga ingin kembali ke kampung atau tanah kelahiran mereka.

“Pemerintah harus hadir memberikan perlindungan pada mereka, bukan terus membiarkan korban konflik hidup dalam pengungsian,” kata Basri, yang berasal dari Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang.

Ia mengatakan, tindakan mengungsikan satu kelompok yang terlibat konflik ke Sidoarjo, semestinya hanya bagian dari solusi alternatif sementara.

“Tetapi, mengorbankan kelompok kecil dengan cara hidup dalam tekanan batin seperti itu, hakikatnya tetap merupakan masalah kemanusiaan. Untuk itu, gerak cepat dan gerak cerdas pemerintah penting untuk mengatasi masalah,” katanya.

Basri juga mengajak seluruh elemen masyarakat ikut memperhatikan masalah kemanusiaan yang menimpa kelompok minoritas di Sampang tersebut.

“Sekali lagi, kepentingan kami adalah perdamaian, dan ini adalah inti dari ajaran Islam yang sebenarnya, yakni hidup rukun dan damai, serta menghargai perbedaan pendapat dan keyakinan yang berkembang di masyarakat,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...